Check out the Latest Articles:

Dblogger? Apakah itu?
Kalau blogger angkatan pertama yang ngeblog di platform Blogdetik sepertinya paham dan kenal dengan Dblogger.
Dblogger adalah sebuah komunitas blogger yang awal mulanya ngeblog di platform yang sama yaitu Blogdetik tetapi seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya blogger yang ingin bergabung maka akhirnya anggota-anggota Dblogger pun berasal dari banyak macam platform seperti wordpress, blogspot dan lainnya.

Kalau mau cerita bagaimana Aku dan Dblogger sepertinya benar-benar melekat sekali dari awal. bahkan aku bisa menceritakan setiap detail bagaimana Dblogger terbentuk dan siapa saja yang memulai komunitas ini, tapi rasanya koq ya terlalu panjang jika diceritakan dari awal mulanya, tapi postingan-postingan tentang itu masih tersimpan di sini, di sini dan di sini serta banyak lagi lainnya.

Singkatnya Dblogger terbentuk dari keinginan banyak anggotanya untuk melakukan sesuatu yang tak hanya sekedar menulis postingan, komen-komenan, konferensi YM saat jam makan siang atau email-emailan (jaman itu facebook dan twitter belum populer) dimulai dari sebuah kopdar kecil-kecilan yang digagas fanabis (pada saat itu admin blogdetik) bersama gitaris Naff Dedi, eyang anjari, anny, ella, husin, iman dan aku sendiri akhirnya berlanjut ke kopdar kedua, ketiga dan tanggal 11 Januari 2009 ditetapkanlah sebagai hari kelahiran Dblogger yang disaksikan oleh para blogger dari luar Jakarta secara online.

Dblogger pun terbentuk. Kegiatannya apa? Saat itu kami masih bergerak di misi sosial dengan terbentuknya Gerakan Berbagi yang merupakan bagian dari Dblogger, Gerakan Berbagi ini digawangi oleh AriBicara, Lies Surya, Dayu dan Atm Tukang (ini orangnya pada kemana semua ya?). Apakah Gerakan Berbagi saat ini masih ada? Masih, dan saat ini dikelola oleh Lies Surya dan Ani Berta.

Tahun pertama sampai kedua Dblogger, aku masih sangat aktif kopdar kesana kemari, tak hanya untuk komunitas ini tapi juga ikut bertemu dengan komunitas lainnya sampai aku pernah dijuluki Ratu Kopdar, namun akhirnya memasuki tahun ketiga dan keempat aku mengurangi kegiatan offline Dblogger dan hanya fokus di belakang layar. Bukan karena jenuh dengan Dblogger tetapi kesehatan yang mulai menurun tak memungkinkan aku untuk banyak-banyak berkegiatan seperti jaman sekolah dan kuliah dulu.

Banyak yang mengatakan bahwa bergabung dalam sebuah komunitas itu tak perlu dan hanya sebuah kesia-siaan, bahkan ada yang saking tak sukanya dengan kegiatan komunitas ini berani menyerang secara frontal bahwa komunitas Dblogger tak berguna. Well, yah semua kembali kepada diri kita masing-masing apakah niat kita baik atau tidak. Kalau blogger tugas utamanya menulis postingan menurut beberapa orang ada benarnya juga, tetapi apakah jika blogger itu ingin mewujudkan kegiatannya di dunia nyata sebuah kesalahan? Tentu tidak selama kegiatan itu bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Secara pribadi aku merasakan banyak sekali manfaat dalam berkomunitas terutama dalam Dblogger, selain punya banyak sekali teman yang tersebar di seluruh Indonesia, juga sering mendapat banyak ilmu di luar bidang keahlianku. Memiliki banyak teman juga mengasah kepedulian dan kedewasaanku untuk menghadapi banyak karakter. Karakterku yang keras dan cenderung ekspresif teruji secara nyata dalam komunitas ini. Bagaimana aku harus bersikap dewasa dan sabar ketika menghadapi sebuah masalah, bagaimana mendewasakan diri untuk bisa menangani sebuah hinaan, dan lainnya.

Bagiku Dblogger adalah keluarga kedua, tempat aku bisa curhat segalanya, tempat aku mencari pegangan saat merasa down, tempat aku berbagi kebahagiaan.

Selamat Ulang Tahun Dblogger.

Dblogger di studio foto Detik

Dblogger di studio foto Detik

Kopdar ultah Julie, Anny, Ella dan Dina, Saung Merak Bogor

Kopdar ultah Julie, Anny, Ella dan Dina, Saung Merak Bogor

Ultah ke-2 Dblogger, Gandaria City

Ultah ke-2 Dblogger, Gandaria City

Postingan ini ditulis untuk memeriahkan kompetisi menulis #BLOGSTALGI4 sebagai rangkaian perayaan ulang tahun Dblogger ke-4 yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2013 siap-siap undangannya yaaa :D

Seluruh Indonesia bahkan barangkali dunia sempat terpaku pada wilayah Jakarta sejak hari Rabu tanggal 16 Januari 2013 sampai dengan hari ini karena bencana banjir yang melanda ibukota dan beberapa daerah di sekitarnya. Tiba-tiba saja stasiun televisi penuh dengan berita banjir di Bundaran Hotel Indonesia, Bantaran kali Ciliwung, Pluit, dan bahkan berita terperangkapnya beberapa orang di basement sebuah bank.

Melihat beritanya saja ngeri rasanya apalagi kalau kita merasakan langsung bagaimana rumah terendam air setinggi 50 cm, 70 cm dan bahkan 3 meter.

Aku sendiri tinggal di lokasi yang sangat dekat dengan banjir, di sebuah pemukiman penduduk di daerah Puri Kembangan. Entah karena belum sempat mencari tempat tinggal yang lebih lega (karena yang sekarang memang tergolong sangat kecil) atau karena pertimbangan lain seperti mencari pengasuh anak yang menyebabkan aku masih betah tinggal di sana. Daerah rumahku itu berada di dataran yang sangat tinggi. Banjir merendam lokasi lampu merah puri kembangan sampai setinggi perut (satuannya bukan dalam centimeter ini) dan mengarah ke Karang Tengah bahkan lebih parah.

Lalu bagaimana dengan tempat tinggalku? Perbedaan tinggi rumahku dengan TL (traffic light) puri kembangan adalah 150 meter lebih tinggi. Pada hari pertama banjir (Rabu) aku sempat keluar rumah untuk berangkat ke kantor melalui jalan pinggir tol karena jalan yang biasa dilalui sudah terendam air semata kaki. Lalu akhirnya kembali ke rumah siang hari karena semua jalan menuju tempat kerja terhalang banjir. Hari kedua banjir semakin tinggi meski rumahku tak kenapa-napa. Hujan malah tak henti-hentinya turun pagi, siang, malam. Aku sempat mengecek beberapa warung yang mulai kehabisan beras, telur dan mi instan dan ikut menyetok beberapa.

Pada hari ketiga banjir semakin parah, bahkan menurut berita ketinggian air di bendung Katoelampa semakin besar dan harus dibuka agar tidak jebol. Aku sempat diminta untuk mengungsi ke apartemen iparku di daerah pesanggrahan bila banjir semakin tinggi. Sementara itu sekitar 700 meter ke arah kiri dan kananku rumah-rumah sudah terendam.

Aku sempat panik, melihat dompet yang memang masih ada uang tunai, memeriksa atap yang mulai terlihat lembab di bagian pojok rumah, bolak-balik membuka twitter dan beberapa portal berita untuk mengecek lokasi banjir, menonton semua channel berita di tv swasta. Bahkan aku sudah sempat membungkus beberapa dokumen penting ke dalam plastik berjaga-jaga bila harus mengungsi.

Belum pernah aku merasa panik menghadapi bencana.

Enrico memantau suasana banjir

Enrico memantau suasana banjir

Namun betapa bersyukurnya ternyata pada hari Sabtu hujan mulai mereda, air yang menggenang di TL Puri mulai surut sekitar 15cm, sempat ada info listrik akan mati namun ternyata tak jadi. Selama 4 hari terperangkap banjir itu pun aku tak kekurangan makanan karena ada saja warung nasi yang buka, bahkan warung sayur pun tetap menjual sayuran segar. Penduduk sekitar rumahku yang merupakan warga Betawi asli yang biasa mencari nafkah dengan ojek malah mendapat rejeki dengan mendorong gerobak dan motor yang mogok. Aku tak merasakan suasana mencekam di daerah sekitar rumahku.

Saat ini, suasana sudah kembali normal meski jalan-jalan terlihat penuh lubang. Terbersit pertanyaan dalam pikiranku bagaimana seandainya aku yang mengalami banjir dan harus mengungsi? Betapa kecil andilku selama ini dalam mencegah bencana banjir. Saat melihat televisi dan social media, begitu banyak orang yang saling menyalahkan. Padahal saat inilah waktunya kita mengintrospeksi diri. Sudah benarkah perbuatan kita pada alam dan lingkungan? Pemerintah yang telah melakukan kesalahan di masa lalu haruskah dihujat lagi ketika mereka ingin berbenah?

Andai bisa mengulang sebelum kejadian banjir tentu mereka pun ingin memperbaiki sistem drainase kota, menambah lahan hijau untuk menyediakan tanah resapan air yang lebih banyak, mengurangi beban kota dengan membatasi pembangunan gedung, semoga saja demikian. Aku masih terus berharap bencana ini tak akan berulang. Setidaknya tak ikut mencaci-maki dan menyalahkan.

Sejak Senin tanggal 7 kemarin aku jatuh sakit. Jatuh sakit dalam arti biasa seperti demam dan meriang-meriang sih aku udah sering banget, dan selama masih bisa bangun, jalan kemana-mana aku biasanya tetap menjalankan tugas sebagai seorang karyawan dan ibu. Tapi kali ini sakitku benar-benar membuat aku bahkan tak sanggup berangkat sendiri menuju ruang unit gawat [...]

Ibuku lahir sebagai seorang perempuan cantik yang suatu hari memiliki suami dan 7 orang anak dengan profesi sebagai seorang guru di tingkat sekolah dasar.
Karakternya unik. Ia terlahir sebagai perempuan menarik dengan rambut panjang dan tubuh langsing yang memikat mata. Meski demikian ia sangat keras dan tegas, terbukti dari setiap kata yang keluar dari bibirnya. Pernyataannya [...]

Tak ada yang bisa memilih gendernya sendiri saat terlahir ke dunia. Meski katanya berdasarkan kalender jawa atau pemilihan konsumsi makanan oleh sang ibu, Tuhanlah yang tetap berperan menentukan pembentukan kromosom X dan Y di dalam proses pembuahan sebuah janin untuk terlahir menjadi perempuan atau laki-laki.
Ketika seorang bayi perempuan lahir, banyak sekali komentar tentang betapa sulitnya [...]

Sinyal dan bandwidth sudah jadi kebutuhan banyak orang. Dari pekerja kreatif sampai pegawai kantoran, membutuhkan dua hal itu. Itu karena sekarang transaksi dan negosiasi bisnis sering dilakukan melalui internet. Seperti yang sering kulakukan. Belum juga sampai di kantor, handset sudah diketak-ketik untuk menjawab customer yang memesan barang dari onlinestore-ku. Belum lagi boss yang menanyakan draft [...]