Penggemar musik dangdut atau nggak pasti kenal dengan lagu “Bang Toyyib” yang udah 3 kali puasa dan lebaran gak pulang-pulang. Lagu ini ada balasannya tapi aku judulnya lupa yang versi dangdut. Kalau yang versi pop itu kalo gak salah ada lagu Wali yang liriknya mencantumkan tentang bang Toyyib juga. Ini baru satu contoh lagu yang berbalas.
Ternyata bukan cuma lagu atau pantun aja lho yang bisa bales-balesan. Tapi postingan juga bisa koq.
Pagi ini di group Dblogger, si Mang Jazi ngeshare postingannya tentang Ilmu Pelet *terdengar suara lolongan anjing dan desir angin yang begitu kencang* teng teneeeeeng.
Aku berasal dari kota Medan, yang merupakan main city-nya pulau Sumatera. Meskipun letak kota Medan ini jauh dari ibukota Jakarta, tetapi karena aku tinggal di kota maka aku tak pernah menjumpai hal-hal berbau mistik semacam ilmu pelet dan perdukunan lainnya meskipun bagi orang-orang yang hidup di Jakarta, orang Medan itu adalah orang daerah.
Herannya, saat aku pindah ke Jakarta dan tinggal di lingkungan Betawi malah aku menemukan masyarakatnya sangat mempercayai perdukunan. Padahal mereka tinggal di ibukota, sebuah peradaban yang seharusnya modern dan jauh dari kesan mistik.
Sejak dulu di dalam keluargaku tidak pernah diajarkan untuk mempercayai hal-hal yang takhyul (tah iya tah betul). Meskipun sebenarnya kami sering mendengar kisah perdukunan dari orang-orang di lingkungan luar yang biasanya merupakan pendatang dari kota-kota kecil di luar kota Medan. Selalunya kami mengaitkan sebuah kejadian dilihat dari ilmu kesehatan.
Pada suatu hari, seorang teman kampusku mengatakan bahwa ia ingin pergi ke dukun pelet di sebuah daerah di luar kota Medan. Pacarnya yang kebetulan saat itu sedang tinggal di Aceh menurutnya sudah mulai menunjukkan gejala ingin menelantarkan dirinya, entah karena ada perempuan lain atau pengaruh dari keluarganya. Pada masa itu fanatisme kesukuan memang terlihat dari beberapa keluarga Aceh yang tidak mau menerima menantu yang bukan berasal dari suku Aceh meskipun orang itu beragama Islam.
Mulanya aku menolak ajakan itu, kataku itu sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Mencoba mengubah pikiran dan perasaan seseorang itu bukanlah kuasa manusia. Tetapi temanku ini berkeras karena ia tak punya jalan lain dan ia hanya mempercayakan niatnya ini padaku. Okelah, demi menemaninya ke rumah sang dukun pelet ini aku pun bersedia berangkat.
Ketika sampai di rumah sang dukun yang ternyata seorang perempuan, kami disambut oleh seorang ibu berusia 40-an yang dipanggil Bibi oleh temanku ini. Tapi aku kaget karena si Bibi bukannya menyambut temanku yang merupakan tamu utamanya, beliau malah menghampiriku dan mengajak aku duduk di sebelahnya. Ia memegang tanganku sambil menatap mataku. Mulanya aku takut, karena sebagai dukun pelet jangan-jangan si Bibi ini sedang melakukan penetrasi ilmu pelet ke dalam tubuhku. Tapi ternyata, si Bibi dengan lembut berkata “Dek, adanya laki-laki yang kau sakiti baru-baru ini?”. Aku tersentak, karena memang aku baru saja memutuskan paksa seorang pacar dan langsung jadian dengan laki-laki lainnya.
Dengan wajah bersemu merah, aku mengatakan bahwa aku memang baru saja memutuskan seorang laki-laki dan ia sepertinya marah dan tak memaafkanku. Si Bibi lalu berkata bahwa sang mantan ini berusaha “mendukuni” aku tapi tidak berhasil. Hanya saja terlihat di aura tubuhku bahwa aku sedang dicoba oleh seseorang. Aku hanya mengangguk-angguk saja tapi dalam hati aku tak percaya.
Lalu temanku melanjutkan rencana kedatangannya utk mempelet sang pacar. Pada saat itu, si Bibi menatap kami dengan tajam, ia berpesan bahwa jika temanku berniat untuk melakukan pelet ini harus benar-benar percaya dengan ritual ini. Artinya ia tidak boleh menganggap ini sebagai sebuah perbuatan iseng. Temanku pun mengangguk. Lalu si Bibi memberikan beberapa syarat yang harus kami bawa lagi. Selama perjalanan pulang, aku dan temanku tak berhenti cekakak cekikik dengan apa yang kami lakukan. Ia sebenarnya juga berasal dari keluarga modern yang tak percaya hal gaib semacam pelet, tapi katanya ia penasaran sebab sudah tak tau bagaimana mengambil hati pacarnya kembali dan ia mendengar bahwa si Bibi dukun ini telah berhasil mengembalikan banyak suami yang berselingkuh ke pangkuan istri mereka masing-masing. Berarti reputasi si Bibi sebagai dukun pelet yang baik itu sudah teruji.
Akhirnya apa, temanku tak berhasil mendapatkan kembali cinta pacarnya. Menurutnya mungkin karena jarak yang jauh di luar pulau maka ilmu pelet si Bibi tak bisa menjangkau sang pacar. Tapi menurutku sih bukan karena itu.
Karena pengalaman ini, makin tak percayalah aku dengan ilmu perdukunan dan perpeletan. Apalagi aku pernah mengikuti sebuah dialog tentang hipnotisme. Memang banyak sekali kejadian kriminal yang berawal dari hipnotis. Dan aku pun pernah menyaksikan sendiri bagaimana seseorang dipengaruhi orang lain secara tidak sadar. Syukurnya alhamdulillah aku tak ikut terpengaruh padahal saat itu di dalam satu ruangan semua orang sudah berada dalam pengaruhnya.
Menurut Bibi yang pernah ‘menerawang’ku, aku tak mempan dipelet karena: 1. aku orang yang sangat aktif, tak pernah bengong atau berdiam diri dan tak pernah membiarkan pikiran kosong, 2. aku memiliki tingkat keimanan yang cukup untuk menolak ilmu gaib terutama yang negatif. Yah walaupun tampangku berandalan kaya gini insya Allah aku memang selalu beriman kepada Allah SWT. Memang, sebagai muslim harusnya percaya pada hal gaib tetapi sampai batas manakah kegaiban itu kita percaya? Hal gaib seperti adanya jin dan malaikat tentu aku percaya. Tetapi hal gaib tentang perdukunan dan ilmu pelet itu memang sebenarnya bisa terjadi pada seorang individu bergantung kepada seberapa kuatkah dia menghadapinya.
Hipnotisme terjadi berawal dari banyak hal, misalnya tidak siapnya seseorang saat ia keluar dari rumah. Tidak siap dalam perencanaan perjalanan, tidak siap dalam berpenampilan dan bersikap (contoh pakaian terbuka dan memakai perhiasan berlebihan) dan tidak siap pula dengan kewaspadaan selama perjalanan. Demikian pula dengan Pelet, akan terjadi bila seorang individu tidak siap menghadapi pengaruh dari orang lain di luar kesadarannya, membiarkan diri menerima pengaruh dari orang lain dan kurangnya tingkat keimanan.
Dengan pengalaman hampir menjadi korban pelet tiga kali, aku menjadi sadar bahwa selain tingkat keimanan, kewaspadaan diri juga harus terus ditingkatkan. Insya Allah segala macam jenis ilmu perdukunan yang negatif tidak akan mempengaruhi kita. Tapi gak tau deh kalau untuk ilmu pelet versi 2.0 apakah kecanggihannya lebih besar mudah-mudahan tetap aku bisa menghandlenya.
Habis nulis ini keknya harus siap-siap memasang tameng supaya gak dipelet sama Mang Jazi :p