Perempuan Lain (6)
Lina Side
Aku memandang wajah suamiku yang telah terlelap sejak setengah jam yang lalu. Malam ini aku sengaja menyibukkan dirinya dengan mengobrol dan tak sedetikpun membiarkan dia punya waktu untuk bermain-main dengan HPnya. Setelah berfikir keras dan menceritakan kecurigaanku pada Ratna, teman kerjaku, maka kuputuskan untuk kembali mencari tahu hubungan suamiku dengan Vera.
Terdengar dengkurnya perlahan diiringi bahu yang naik turun seirama nafasnya. Ini waktu yang tepat. Dengan perlahan kusibakkan selimut, lalu turun dari ranjang yang selalu berderit tiap aku bergerak. Kudekati pintu dengan berjingkat-jingkat, lalu meraih celana panjang abu-abu yang digantung sembarangan di belakang pintu bersama tumpukan pakaian lainnya. Tanganku merogoh saku sebelah kanan dan menyentuh sebuah benda berbentuk HP.
Aku menariknya keluar. Persis dugaanku, ada satu pesan baru yang belum dibuka. Pasti suamiku telah memasang profil silent sehingga tak sekalipun aku dengar suara SMS atau telfon yang masuk sejak tadi. Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdetak semakin cepat aku membuka pesan itu.
+6287877067908
Lagi di rumah
Aku mencoba mencari tau waktu pengirimannya, membuka opsi dan detail, time: 21:18. Sewaktu aku sedang berusaha terus mengobrol dan menyibukkan diri meminta ini dan itu.
Siapa orang ini? Aku mencoba membuka-buka kotak masuk berharap ada banyak pesan yang masih tersimpan. Tapi aku tau semua ini akan sia-sia, karena tak satupun ada nomor yang sama, cuma beberapa sms dari Roni, teman kerjanya dan beberapa sms yang tak mencurigakan. Berharap ada petunjuk lain, aku membuka kotak keluar, dan aku menemukan satu pesan keluar dari suamiku dengan nomor yang sama. Isinya hanya “Dimana?”
Tiba-tiba terlintas dengan begitu cepat sebuah ide yang tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Dan secepat itu pula jari-jariku telah memencet keypad menuliskan sebuah pesan singkat ke nomor misterius itu.
Sudah tidur?
Pesan terkirim.
Rasanya begitu lama menanti sampai HP itu bergetar di tanganku.
Pesan masuk.
Belum
Kenapa hanya jawaban ini? Aku meneruskan keingintahuanku.
Kenapa? Mikirin aku ya?
Pesan terkirim. Aku sengaja mengirim pesan yang agak nakal dan ingin tau respon dari pemilik nomor itu.
Lima menit berlalu, dan setelah sepuluh menit kemudian tidak ada getar dari HP itu aku tak tau harus berbuat apa lagi. Perlahan aku kembalikan HP itu ke kantong celana suamiku, dan aku kembali ke ranjang, merebahkan diri dan menarik selimut. Tapi mata ini tak mau terpejam, dan kantuk rasanya tak kunjung datang.
Aku membalikkan badan ke samping, suamiku masih dengan posisi yang sama dengan mata terpejam dan nafas yang naik turun. Sedang mimpi apakah dia? Siapakah yang ada dalam mimpinya saat ini? Ada nyeri di dadaku ketika membayangkan laki-laki ini telah membagi hatinya dengan perempuan lain. Tak sadar aku merasakan mataku basah. Dadaku semakin sesak. Aku tak mampu berpikir lagi. Apa yang harus aku lakukan?
* * * *
Aku menghirup aroma coklat dari cangkir hijau kecil hadiah pembelian produk coklat itu. Coklat panas yang lezat. Aromanya saja telah membuat hatiku tenang, kurebahkan kepalaku di atas bantal berenda berwarna pink yang baru aku ganti tadi siang bersama sepreinya.
Sambil membuka-buka pesan di hapeku, aku mulai berpikir. Rasanya sedikit aneh bila Surya memang mengirimiku pesan selarut ini. Karena biasanya jam segini dia pasti sudah ada di rumah. Aku tak akan membalas smsnya yang terakhir.
Aku berusaha menjauh dari Surya dan berusaha membuka diri untuk Indra, tapi itu hanya bertahan dua minggu karena aku merasakan perbedaan tiap kali bersama Surya. Aku tak merasakan kehangatan perasaan saat bersama Indra, tatapan mata Surya yang selalu menusuk dan sikap dinginnya justru membuat aku semakin jatuh cinta. Dengan kecewa Indra kembali menemukan aku yang mulai menolak lagi ajakan-ajakannya.
Sesungguhnya dalam hatiku sangat ingin mengakhiri hubungan dengan Surya. Tapi penolakanku yang tak berguna tiap kali bertatapan dengannya, rasanya cukup disadari oleh Surya dan dia semakin kuat menggenggam hatiku.

