Aku memejamkan mata. Penat benar hari ini. Sekarang sudah jam 8 malam dan aku baru tiba di rumah, masih dengan rok abu-abu dan kemeja hitam plus stocking yang belum dilepas.
Pak Sukmaya menelfonku 5 menit yang lalu, bertanya tentang kabel-kabel yang aku sendiri tak paham.Ini hari kedua beliau ada di Medan, untuk mengecek persiapan penutupan store Hero di Medan dan otomatis outletku juga ditutup. Padahal aku baru 7 bulan bergabung di perusahaan ini.
Sejak awal persiapan penutupan toko, aku dan seluruh staffku juga seluruh karyawan lainnya dijadwalkan dengan jam kerja office karena tidak ada transaksi lagi dengan customer. Masuk pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore. Tapi dengan tanggung jawab yang lebih besar aku lebih sering pulang lebih malam, bukan hanya karena memang waktu yang terasa sempit, tapi juga karena aku butuh sharing dengan Pak Herman dan Pak Jeffri dari Head Office.
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka, ayahku melongok ke dalam kamar.
“Chi, ada telfon dari Efan”, suara bas Ayahku terdengar serta.
“Iya”, sahutku pendek.
Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamarku menuju telfon di atas meja kecil bulat di sudut ruang tivi. Aku mengangkat gagang telfon itu.
“Halo”, kataku.
“Chia lagi ngapain?”, suara Efan yang kukenal terdengar di seberang sana.
“Baru sampe rumah, Fan. belon ngapa-ngapain. Dimana kow?” sahutku dengan logat Medan, aku terbiasa mengobrol tanpa basa-basi.
“Di rumah la sayang..Besok anak farmasi tanding bola. Nonton ya, Chi. Aku jemput mau?”, sahut Efan lagi.
“Besok ya? Tapi bosku datang dari Jakarta, Fan. Jam berapa tandingnya?”, tanyaku lagi.
“Biasalah jam 4. Datanglah sayang….”, rayunya.
“Iya…tapi jemput jam 5 aja ya…”, sahutku menyerah.
“Yaaa gak serulah masa udah telat kita nontonnya”, sahut Efan.
“Udah gak apa-apa yang penting kan nonton. Ya udah ya, Fan…ntar aku telfon si Efri and Ika, aku mo mandi nih gerah”, sahutku menyudahi.
“Iya, telfonlah. Kalo kalian bertiga gak datang, ga seru supporternya. Dadah sayang….”, Efan mengakhiri percakapan.
“Dah…”, sahutku membalas.
Efan adalah adik kelasku di jurusan Farmasi. Dia berada 2 angkatan di bawahku dan kami berbeda usia 2 tahun pula. Tapi aku tak pernah menyangka Efan mempunyai perasaan lebih ke aku.
Sejak pertama kali mengenal Efan pada tahun pertamanya, sebagai senior yang super senior karena pengurus besar HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), aku bisa melihat bahwa Efan sangat cocok untuk meneruskan jabatan Ketua Umum dari majalah kampus yang saat itu aku pegang. Dan ketekunanku untuk mendekati dan membimbing dia untuk posisi itu telah membuat Efan jatuh cinta padaku.
Sejak 6 tahun yang lalu, sudah lebih dari enam kali Efan mencoba mengutarakan perasaannya, tapi aku selalu mengalihkan topik pembicaraan dan menanggapi dengan canda. Karena saat itu aku mempunyai seorang pacar bernama Akmal, yang setengah mati selalu dijuluki “norak” oleh Efan. Dan entah kenapa ada perasaan sayang yang begitu kuat aku rasakan pada Efan, aku menyayanginya sampai-sampai aku tidak ingin jadi pacarnya karena takut kehilangan dia.
Pada tahun keduanya sebagai mahasiswa, Efan pacaran dengan Efri, yang berada satu angkatan di bawahnya. Tapi hanya beberapa bulan pacaran, mereka putus dan karena Efri adalah sahabat terdekatku, otomatis mereka berdua selalu curhat ke aku yang buat aku jadi serba salah. Efan menganggap Efri terlalu posesif dan Efri berfikir bahwa Efan tidak mencintainya.
Tidak jarang aku menangkap kilatan cemburu di mata Efri saat aku berdua dengan Efan. Sikap Efan berbeda bila bersamaku. Semua orang berfikir kami punya hubungan khusus dilihat betapa mesranya dia merangkul pundakku dan setia menungguku selesai kuliah atau praktek di laboratorium.
Setelah mereka putus, Efan pernah berusaha mengutarakan lagi perasaannya padaku, bahkan dalam satu kesempatan, Efan membawakanku edelweiss. Maafkan aku, Fan.
* * * * *
“kepada ibu Chiara, ditunggu kedatangannya di area fresh, terima kasih”, suara merdu Maya dari deposit counter menyentakkan aku dan Pak Sukmaya yang sedang berkutat di depan komputer.
“Chi, kamu dipanggil tuh, sana”, sahutnya cepat.
“Gak ah, Pak. Paling anak-anak lagi iseng”, jawabku.
“Siapa emang yang manggil kamu?”, tanya beliau lagi.
“Ya….anak fresh. Mereka kan suka iseng gitu, Pak”, jawabku sekenanya.
Pak Sukmaya cuma manggut-manggut aja dan kembali menatap layar komputer dengan serius.
Sejak awal penutupan toko, aku cukup dekat dengan karyawan berbagai divisi, kami sering pulang bareng-bareng dan kadang kongkow-kongkow beberapa jam untuk menikmati udara malam sambil minum kopi. Dan mereka pasti sedang iseng memanggilku karena mereka tau sejak kedatangan Pak Sukmaya aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan beliau sampai selesai jam kerja.
Lima menit berselang panggilan dari deposit counter kembali terdengar. Pak Sukmaya memaksaku untuk menghampiri area fresh karena beliau merasa panggilan itu penting. Aku mengikuti perintahnya. Hitung-hitung relaks sejenak dari pekerjaan yang buat kepalaku tambah sakit.
Tumpukan barang dimana-mana di area toko yang dulunya begitu rapi. Hmm..semua ini akan meninggalkan kenangan yang sangat manis tentunya bagi teman-temanku. Aku melangkah hati-hati di antara tumpukan-tumpukan itu.
Langkahku terhenti, ketika sekelebat aku menangkap sosok Irham di balik ruang fresh. Tapi terlambat, Irham keluar dari pintu itu dan menarik lenganku.
“Oh..jadi kamu yang panggil”, sahutku dingin.
“Urusan kita belum selesai, Ibu Chiara yang terhormat”, sahutnya sinis.
“Rasanya saya tidak punya urusan apa-apa dengan kamu. Maaf saya sibuk”, sahutku berbalik dan tak seperti dugaanku, Irham menarik lenganku lebih keras.
“Wah, ada apa nih?”, tiba-tiba Pak Herdi hadir tepat di depan kami.
Thank God.
“Oh ga apa-apa Pak, ini becanda saya ma Irham. Kamu sih..”, sahutku meredakan situasi itu.
“Saya ke atas dulu ya Pak, yok Ir ntar aja kita ngomongnya pas pulang ok?”, aku berpura-pura menunjukkan keakraban di depan Pak Herdi.
Lalu dengan langkah yang besar aku menjauhi area fresh. Tuhan, ternyata Irham sangat marah padaku.
Semua ini disebabkan keisengan kami berdua, Irham tertantang untuk mengajakku makan siang oleh teman-temannya dan aku mendengar taruhan itu, lalu aku menerima ajakannya dan dengan pongahnya dia bercerita bahwa aku telah ditaklukkannya. Hmmm laki-laki yang sombong, aku hanya diam ketika beredar cerita tentang betapa hebatnya dia telah menaklukkan aku.
Dan ketika semua orang menganggap aku telah jatuh cinta padanya karena ceritanya itu, aku dengan satu pukulan telak telah mematahkannya di depan seluruh karyawan saat Efan dengan kepolosannya datang menjemputku dan seperti biasa merangkulku dengan hangat.
AKu pasti bisa membereskan Irham. Karena dia pikir dia telah menang dariku.
Teringat janjiku pada Efan, aku segera membereskan sisa pekerjaan dan bersiap-siap menunggunya menjemputku. Aku dan Efan tidak pernah saling merecoki saat aku dan dia sedang sibuk, maksudnya aku sibuk kerja dan dia sibuk main bilyard. Kegilaannya dengan bilyard sebenarnya buat aku lebih mudah mencarinya, di kampus atau di tempat tongkrongannya main bilyard.
Pukul 5, aku mengintip ke lantai bawah, di parkiran aku melihat Efan dengan tshirt putih dan celana jeans. kebandelannya yang tak pernah mendengarkanku untuk memakai jaket. Aku bergegas turun, dan menghampiri.
“Cantik kali si Chiara ini”, keluar logat Medannya memujiku.
“Halaaah, ayo buruan ntar ga enak aku pulangnya tenggo”, sahutku sambil menghenyakkan tubuhku di atas boncengannya.
“Ayolah, udah hampir kalah ini kita”, sahutnya lagi.
Kami melaju di atas motor bebeknya, terlibat percakapan yang selalu akrab. Rasanya tak pernah ada beban ketika aku bersama Efan, tapi entah kenapa aku tak kunjung merasakan debaran aneh seperti ketika aku jatuh cinta pada Yogi.
bersambung…
thanks buat ella yang udah cape bantuin nyari judul yang pas,
dan thanks to efan….