Archive for January, 2009

melting point

Friday, January 30th, 2009

aku tak pernah sabar menanti dini hari datang
karena kau selalu menjemputku ketika embun pagi menjelang
kau tebarkan bintang-bintang serupa rayuan
kau lukis langit-langit hatiku dengan warna biru jernih terang
lalu mencumbuku dalam pekat kerinduan
membolakbalik aliran darahku menuju jantung ke paruparu
terperangkap dalam genggaman penuh jemarimu

angin menerbangkan helai rambutku ke wajahmu
tak mengusik irama hiphop detak jantung yang semakin cepat berlari
dan lalu
serbuk-serbuk keemasan berpendar mengkilat dari helaan nafas kita…

menyusui adalah lebih dari sekedar memberi makan

Friday, January 30th, 2009

postingan serius ini teman-teman…
setiap ibu yang memiliki bayi mendambakan untuk bisa menyusui bayi mereka setidaknya selama 6 bulan (kecuali ibu2 yang males dan takut jelek). di rumah sakit, perawat dan bidan yang berpengalaman akan menunjukkan bagaimana cara yang benar dan tepat pada ibu untuk menyusui bayi mereka.
dan ajaib, bagi para ibu yang pernah merasakan pertama kali saat mereka menyusui bayinya adalah perasaan bahagia yang luar biasa (aku beruntung pernah merasakan itu), sehingga pada saat itu air susu keluar lebih banyak dan melimpah.
tapi bagaimana jika sang ibu tak mampu menghasilkan cukup air susu atau sama sekali tidak mampu menghasilkan? sebagai ibu tentu segera mengantisipasi dengan memberikan susu formula bagi bayi mereka. dan tentunya pemberian susu formula itu melalui botol susu yang dilengkapi dengan dot atau nipple atau teat.
menyusui melalui botol, dengan berbagai jenis dot, mungkin akan cukup untuk mengisi perut bayi, tetapi itu sama sekali tidak mencukupi jika dipandang dari pembentukan rahang dan gigi yang sehat.
Sebuah dot harus memenuhi persyaratan yang tinggi sebelum dapat memenuhi bentuk dan fungsi dari payudara ibu. Seorang bayi yang menyusui pada ibunya menggerakkan bagian bawah rahangnya ke depan selama proses menyusui kurang lebih 2000 sampai dengan 3500 kali dalam 24 jam. Seorang bayi yang menyusui melalui botol tanpa dot yang dibentuk sesuai anatomi puting payudara ibu, hanya melakukan kurang lebih 1500 samapi 2000 gerakan dengan rahang bawahnya. Rahang yang terbentuk dengan benar dan sehat akan memberikan pertumbuhan gigi yang alami dan sehat.
Dot atau teat dari NUK memenuhi persyaratan itu. Dibentuk dan dirancang sesuai puting payudara ibu saat menyusui.

sign-for-stand-display-revisi-flat.jpg

memilih alat kontrasepsi

Wednesday, January 28th, 2009

jika bicara tentang alat kontrasepsi tentu tak lepas dari yang namanya seks dan hormon seks (ini postingan serius lhooo teman-teman) yang akan dibahas terpisah.
terdorong rasa ingin memberikan pencerahan pada teman2ku yang bloon ga ngerti2 juga dijelasin tentang cara mengkonsumsi pil kb dan kelemahan2 dari kondom, aku memutuskan untuk berbagi kepintaranku sedikit pengetahuan tentang alat kontrasepsi.

alat kontrasepsi tentu sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas bahkan di beberapa negara usia remaja sudah biasa mengantongi alat kontrasepsi paling simple yaitu kondom. dan bahasan ini akan aku mulai dengan kondom.

KONDOM PRIA
kenapa aku tulis kondom pria? karena ada kondom wanita (sabar dulu ya atu-atu)
alat kontrasepsi paling mudah, simple dan terjangkau. bisa didapatkan di apotek-apotek biasa maupun apotek modern bahkan di supermarket dan minimarket.
kondom terbuat dari bahan latex dan polyurethane, perbedaannya adalah kondom berbahan polyurethane lebih tipis dan nyaman dan jarang sekali terjadi reaksi alergi. tetapi dibandingkan kondom latex bahan ini kurang elastis dan harganya mahal.
kondom latex juga terbukti mampu mencegah penyakit akibat hubungan seksual.
jenis-jenis kondom sangat bervariasi dari bentuknya, ada yang bentuk lurus, atau berlekuk, mengandung lubrikan, aroma, warna dan sebagainya.
cara pemakaiannya sangat praktis, ga perlu dijelasin tanya aja ma depz ato paluhlimbuy pasti tau hehehehe

PIL KONTRASEPSI
pil kontrasepsi atau lebih dikenal dengan pil KB, adalah alat kontrasepsi yang sangat efektif bila diminum sesuai aturan. keamanannya dijamin 99% tetapi bila lupa minum sehari saja akibatnya akan sangat fatal.
pil KB sebagai alat kontrasepsi bekerja mencegah kehamilan dengan 3 cara, mencegah pelepasan sel telur dari rahim sehingga tidak dapat dibuahi oleh sperma, mengentalkan lendir di leher rahim sehingga sperma tidak bisa berenang mencapai sel telur, dan mencegah pematangan endometrium (dinding bagian dalam rahim) sehingga apabila sel telur telah terlanjur dibuahi tidak dapat menempel di dinding rahim.
kekurangan dari pil KB adalah biasanya saat minum akan terasa mual (banget lho!!), timbul bercak di wajah, jerawat, berat badan bertambah, payudara menjadi kencang dan sakit, muncul flek (pendarahan) di antara 2 siklus menstruasi, perubahan mood, libido menurun.
yang harus diperhatikan adalah cara mengkonsumsi pil kb (dengerin nih baek2):
pil kb ada yang kemasan isi 21 (contoh Diane) dan 28 (contoh Microgynon). dibuat berdasarkan siklus menstruasi.
1. Pil pertama harus diminum pada saat menstruasi
2. Pil diminum sesuai dengan hari yang tertera pada kemasan.
3. untuk pil isi 28 mulailah minum pada bidang sebelah kiri
4. selanjutnya ikuti arah anak panah sesuai hari, jangan melompat-lompat karena iseng
5. minum pil setiap hari pada waktu yang sama, misal hari ini jam 9 malam maka besok dan seterusnya jam 9 malam.
6. untuk pil kemasan 21, setelah habis berhenti minum selama 7 hari dan dilanjutkan dengan kemasan baru.
7. untuk pil kemasan 28, minum tanpa berhenti.
jadi yang rada-rada pikun mending jangan pilih alat kontrasepsi yang ini yaaa

SUNTIKAN PROGESTIN
metode kontrasepsi ini lebih dikenal dengan istilah suntik KB, biasanya dilakukan oleh ibu2 yang ga mau repot2 minum pil dan males ngerasain kondom hehehe.
suntikan banyak disukai karena tidak mengganggu aktifitas seks, memberi perlindungan 1-3 bulan yang efektif.

IUD atau SPIRAL
metoda IUD (intrauterine device) atau lebih dikenal dengan spiral merupakan metoda kontrasepsi yang menggunakan alat berupa plastik yang lentur dililit kawat tembaga dan bagian bawahnya terdapat benang polyethylene, yang diletakkan di dalam rahim (weks…seremnya).
tapi ga semua orang cocok dengan spiral ini, bagi yang punya riwayat infeksi panggul, penderita anemia dan yang menstruasinya banyak dan disertai kram atau nyeri tidak dianjurkan menggunakannya.

masih banyak alat kontrasepsi lain seperti spermisida vagina biasanya berbentuk jelly, cream atau film, kondom wanita, vaginal ring, transdermal patch, susuk, morning after pill dan vasektomi dan tubektomi.

ada yang kurang jelas?
tanya apoteker anda!!!

ketika harus memilih (Jodoh)

Tuesday, January 27th, 2009

banyak orang yang melakukan kesalahan dalam menentukan pasangan hidupnya (termasuk aku).
ketika pertama terindikasi telah bertemu seorang laki-laki atau wanita yang begitu ‘mengkilap’ di mata kita, dan setelah berbagai macam kecocokan-kecocokan yang ternyata begitu banyak, dengan sedikit tergesa-gesa kita langsung memvonis bahwa dialah sang Jodoh yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

dan dengan berbagai macam cara berusaha untuk mewujudkan hubungan itu menjadi sebuah pernikahan. padahal ketika dicoba analisa dengan metoda SWOT, lebih banyak Weakness dan Threatnya.

contoh kecil,
seorang wanita jatuh cinta dengan pria beristri dan berputra satu, tidak ada masalah apa-apa sebelumnya dalam rumah tangga pria itu. Hanya mungkin gairah cinta yang sedikit menurun.
dengan bertemu wanita yang punya sex appeal tinggi seperti dirinya, tiba-tiba tercantum dengan sangat panjang kekurangan-kekurangan dari sang istri, kurang pengertianlah, terlalu bawel, sedikit matre, kurang hot di ranjang :D, dan lain sebagainya, yang dulunya tak pernah ada.
Wanita baru ini lebih mengkilap, lebih mempesona dan membiusnya.

lantas, apakah ternyata jodoh pria itu bukan sang istri yang telah memberinya keturunan? tetapi si wanita penemuan baru yang tak sengaja tertunda?

aku pun tak begitu paham dengan segala macam hal ihwal perjodohan. yang jelas aku tak pernah menyesali apapun yang telah terjadi dalam hidupku sebelumnya. apakah lelaki itu memang bukan jodohku atau tidak? bagiku tak masalah.
karena di hidup bukan melulu memfokuskan diri pada pasangan kita, tetapi hiduplah dengan selalu ikhlas memberi sesuatu yang berarti buat orang lain.
termasuk cinta.
cinta boleh dimiliki tetapi tidak manusianya.
tak seorang pun yang boleh memvonis bahwa dirinya adalah milik orang lain. Karena hanya Tuhan pemilik alam semesta beserta makhluk di dalamnya.

Mantapp kopinya…(Iklan dulu)

Tuesday, January 27th, 2009

Akhirnya dah cape bolak-balik HERO citraland untuk ketiga kalinya si Torabika Cappucinno Choco Granule pun stocknya ada. Aku kan mau ikutan sayembara di blogdetik.
Yah hari gini baru ada ketauan akhir bulan duit dah menipis, tapi aku beli juga 3 box, 3 kali 5 sama dengan 15 pcs masa sih ga cukup,rencana 1 box buat aku dan 2 box buat lelaki itu (padahal akhirnya yang 2 box aku).
Hari jumat tgl 23 aku beli, tapi dasar males bikinnya aku baru niat bikin pas hari minggu itu juga diganggu-ganggu terus sama enrico akhirnya jadilah seperti ini bentuknya.

image636.jpg
image637.jpg
sebenarnya ini mungkin karena pengaruh gelas (promosiin Century dikit, biar pak Sugi senang) jadi huruf-hurufnya ga maksimal.halaah ngeles mang dah ga niat mo bikin aja.

hari itu aku males ngelanjutin, tapi besoknya pas tanggal 26 januari kan enrico ulang tahun ke-2 tuh, ga ada acara makan-makan kaya si Lala sih karena mamanya lagi bokeq. Tapi dengan bersemangat aku coba lagi bikin nama pake choco granule torabikanya.
ganti gelas…dan ternyata susah banget jadi inisial aja…
image639.jpg
kelihatan ga huruf J nya?
trus rico juga mau katanya buat inisial namanya plus difoto bareng mobil2an dari mama.
image648.jpg

tapi koq inisialnya R ya bukan E? wah perlu dipertanyakan ini mamanya.
yo wislah aku ga nyoba lagi ntar aja kalo pas beli kopi nya lagi karena ternyata kopinya enaaaak banget. rico ampe ketagihan.
image634.jpg
Birthday boy, minta di foto depan rumah ida. Cita-citanya jadi pilot.

keping hati - part 4

Thursday, January 22nd, 2009

sejak pagi aku gelisah. mulai dari memilih menu sarapan, biasanya yunan, asistenku sudah membelikanku lontong sayur setiap paginya. namun pagi ini aku tak berselera dan ketika yunan siap-siap beranjak mau beli sarapan aku melarangnya membelikan untukku.

beberapa karyawan toko yang sering aku ajak bercanda juga tak kupedulikan. seharian itu aku hanya berkutat di seputaran area guardian, masih membereskan dokumen-dokumen untuk persiapan pengiriman barang ke jakarta, dan sisa-sisa barang jual yang belum dikemas.

Aku tak mempedulikan deringan telfon ataupun message dari hpku, karena aku yakin Efan ga akan mengkonfirmasi kedatangannya. Dia pasti dating menjemputku. Hari ini kami janjian untuk bertemu di Rock Café karena ada hal penting yang akan dibicarakan. Tapi aku minta dia menjemputku dan kami akan berangkat sama-sama.

Sejak semalam Elza dan Roni tak henti menelfonku, memperingatkan bahwa Efan akan menyatakan cintanya dan berharap agar aku dengan pasti menerimanya. Dan aku hanya menjawab bahwa aku pasti menerimanya. Padahal aku telah menyusun rencana.

Beberapa kali Pak Herman dan Pak Herdi mencoba mengajakku ngopi bareng seperti yang biasa kami lakukan di sela-sela jam kerja. Tapi kali ini aku menolak mereka dengan halus. Aku benar-benar tak berselera. Dalam hati dan otakku hanya ada kemarahan.

Jam berdetak dengan lambat, sore menjelang dengan malas. Sebentar lagi efan akan menjemputku.
Dan benar saja Ani datang ke mejaku dan mengagetkanku dari lamunan.

”ibu chiara, ada yang nyari”, sahutnya seperti biasa dengan suara lembut.
”ok”, sahutku pendek.

Aku merasa tak perlu bertanya atau mengecek siapa yang mencariku karena itu pasti Efan.
Aku mengemasi perlengkapan ke dalam tasku, merapikan pakaianku. Lalu beranjak dari kursi, mencari yunan.

”Nan, saya pulang duluan ya. Tolong direkap semua barang yang udah dipacking”, sahutku memberi instruksi.
“Iya, Bu”, sahut Yunan sambil tersenyum penuh arti.

Keluar dari pintu karyawan, aku menemukan Efan dengan tshirt merah dan celana jins. Malam ini dia bersepatu. Sangat berbeda.

“Chiara”, sahutnya menyambutku pambil tersenyum.
Aku mencoba membaca matanya. Efan mengelak tatapanku. Hmm.. sepertinya dia memang menyembunyikan sesuatu. Rasanya seperti tak mengenalnya.
“Ayo Fan”, balasku menarik tangannya.
Tapi hari ini sikap kami terasa kaku tak seperti biasa.
”Chi, aku ga bawa motor, kita naek becak motor aja ya”, sahutnya.
”Oke”, jawabku.

Lima belas menit lebih kami lalui tanpa perbincangan di atas becak motor yang melaju menembus udara malam kota Medan. Bahkan kami tak saling bersentuhan tangan. Biasanya aku dan Efan sangat mesra dan hangat. Penuh canda dan tawa. Malam ini begitu kaku dan aneh.

Kami tiba tak lama di depan hotel Danau Toba dan bergegas menuju pintu Rock Cafe. Kami tak bergandengan tangan. Hanya berjalan sendiri-sendiri. Suasana di dalam cafe sangat bingar, ternyata kami salah memilih hari, hari ini adalah jadwalnya abege ngumpul. Musik yang tak mendukung. Aku memutuskan untuk keluar ke selasar di depan Rock Cafe karena tak ada tempat hening buat kami berbincang di dalam.

Aku meletakkan tubuhku di selasar bunga. Efan mengikuti duduk di sebelahku. Sesaat kami terdiam dan aku memutuskan untuk membuka percakapan.

”Fan, katanya mau ngomong. Ayolah ngomong”, desakku tak memberi waktu luang.
”Katanya Chia mo ngomong juga kan?” jawabnya menyerangku balik.
”Iya tapi kow duluan ya”, sahutku mendesak.
Efan tetap terdiam.
Tiba-tiba aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
“Fan, aku yang ngomong”, sahutku.
”Iya”, dia menghela nafas lega seperti baru terlepas dari beban berat.
”Kau tau fan, sudah berapa lama kita kenal?” tanyaku dan efan mengangguk.
”Dan apa yang aku rasakan sejak mengenalmu adalah, aku sangat sayang kau Fan sampai-sampai rasanya aku ga akan sanggup kalo harus kehilanganmu”, lanjutku. Efan semakin antusias. Matanya melebar.
”Tapi, aku ga bisa jadi pacarmu”, aku memandang tepat di matanya ketika itu.
Dan ada rasa terkejut yang aku tangkap dari pandangannya.
Kami bertatapan beberapa jenak.
Lalu efan mengalihkan pandangannya ke depan.
”Chia, aku ngerti”, sahutnya lemah.
”Lagipula aku belum bisa melupakan Aliya yang pernah meninggalkan aku karena menikah dengan orang lain”

Wait, wait. Jadi Efan sebenarnya tidak bermaksud menyatakan cintanya malam ini?
”Tapi, Chi aku mohon kalo Roni dan Elza menanyakan ini tolong bilang kalo kita udah jadian”, sahutnya meminta.
”Kenapa harus gitu Fan?” tanyaku aneh.
Dia hanya tersenyum. Dan seketika aku sadar bahwa apa yang aku fikirkan memang benar. Bahwa Efan ingin menyembunyikan hubungannya dengan Elza.

Dan sisa perbincangan kami malam itu adalah hal-hal tak masuk akal yang kami bangun bersama. Kami telah membangun kebohongan besar beralaskan rasa gengsi dan egois. Cinta tertahan dimana-mana.

Bersambung yakkk

lipatan mimpi

Thursday, January 22nd, 2009

Aku tak bisa mengeluarkanmu dari hatiku
Kau memasang tiang-tiang dengan pancang yang kuat di sekeliling jantungku
Lalu melebarkan kanopi cinta bergaris-garis warna pelangi di atasnya
Menutup alasnya dengan karpet tebal kerinduan berwarna merah muda
Menghiasnya dengan tangkai-tangkai bunga merah berlilit pita cantik
Menyusun satu-persatu harapan di lipatan mimpiku

Aku tak bisa mengeluarkanmu dari hatiku
Genggamanmu kokoh tak berjarak celah sedikitpun

bukan sekedar kata-kata indah

Thursday, January 22nd, 2009

seperti air yang mengalir dari lereng-lereng gunung yang kokoh menjadi debur ombak laut yang mencari kelok-kelok sungai mencoba mendinginkan isi kepalaku dari bayang-bayang wajahmu.
seperti butiran debu jalanan yang sibuk menerbangkan keabu-abuannya pada setiap helai rambut dan kulitku.
seperti partikel-partikel atom yang siap meledakkan inti nukleusnya.
seperti itulah cinta
Menyesakkan ruang-ruang di jantungku yang sempit berlomba dengan aliran darah yang mengisi rongga paru-paruku.
Sayap-sayapku terbakar oleh api cemburu setiap kali angin menyentuh kulitmu, setiap kali pandanganmu berpaling.
Aku terbunuh oleh kerinduan yang berat
Tertatih-tatih memunguti hati yang telah memecah.

Keping Hati - part 3

Thursday, January 22nd, 2009

Sore ini seperti biasa Efan menjemputku di Capital Building. Beberapa hari belakangan Efan semakin sering menjemputku, dan aku juga telah memberikan sinyal untuk hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mulai dari sering menjemput, lalu sering menemani dia main bilyard sampai malam, dan hanya sekedar menemani dia di laboratorium penelitiannya.
Dan sejak seminggu yang lalu aku dan Efan mulai sering pergi bareng dengan Elza dan pacarnya, Roni. Aku tidak ingat kapan kami mulai dekat dengan mereka yang jelas kami sudah beberapa kali kencan bareng (istilah Elza) dan mulai menemukan banyak keanehan-keanehan dalam hubungan mereka.
Aku sebut keanehan karena biasanya orang pacaran tuh kan banyak mesra-mesranya. Tapi kalo Elza dan Roni ini, mereka sering bertengkar yang melibatkan makian dan tendangan.

Hari ini aku memakai pakaian kerja berupa tshirt hitam ketat berleher sabrina, rok hijau army selutut dengan belahan setengah paha dan stocking hitam plus sepatu high heels hitam. Aku memang terbiasa dengan rok dan hal ini yang buat Efan selalu memujiku. Sama seperti saat ini.

“Selalu cantik Chiaraku…”, sahut Efan menyambut aku di depan gedung Capital.
“dan selalu baik hati buat si Efan”, jawabku bercanda.
“ayo sayang kita kemana hari ini?”, tanyanya.
“Elza ngajak ke Rock Cafe katanya mau liat live music”, sahutku.
“Ngapain sih ngikut mereka terus? Kapan kita berdua aja?”, jawab Efan dengan cemberut.
“Ya aku ga enak dia maksa terus”, sahutku merasa bersalah.
“Ya udah tapi ini terakhir. Aku gak mau kita terlalu sering pergi ma Elza”, sahutnya lagi.
Aku naik ke boncengan Efan, kami menuju ke kampus untuk bertemu Elza dan Roni, dari sana biasanya kami berempat naik mobil Elza untuk jalan ke mana saja.

****
“Kan udah aku bilang jangan beli baju lagi, nyet”, teriak Roni sambil menjambak rambut Elza.
“Suka hati gwe lah, kan uangnya bukan punya lo, biang”, balas Elza sambil menendang kaki Roni.
“Makin ngelawan sekarang ya, nyet. Sejak kapan berani ngatain aku an*j*ng”, Roni semakin bernafsu memukul dan menendang.
“Ron, Ron udah lah. Gak boleh gitu”, aku berusaha menengahi.
“Ayo Za, berhenti..stop. Stop!” sahutku setengah berteriak.
Walaupun adegan ini sudah sering kulihat tapi tidak tega rasanya melihat mereka berdua selalu seperti ini. Efan cuma diam, dia memilih tidak ikut campur urusan mereka. Tapi kadang bila Roni sudah agak keterlaluan, Efan ikut menengahi.
Aku menarik kemeja Roni berusaha menjauhkan dia dari Elza yang ada di belakang kemudi. Salah satu keanehan lain yang aku temukan, setiap bepergian selalu Elza yang menyetir dan bukan Roni, meskipun mobil itu kepunyaan Elza menurutku sewajarnya Roni sebagai pacarnya yang menggantikan dia menyetir. Pernah satu kali Roni menyetir tapi memang diiringi dengan makian dan celaan dari Elza karena menurutnya Roni tak becus menyetir.

“Udah ya Za…”, sahutku akhirnya setelah berhasil memisahkan mereka.
Sejenak mereka bertatapan, dan lalu mereka saling memeluk dan mengucapkan kata-kata maaf. Keanehan yang semakin bertambah hari ke hari.
“Ayo kita jadi ga ke Rock Cafe?” Efan memecahkan ritual bermaafan ala Roni dan Elza.
“Jadi donk, Bang. Tapi kita ke supermarket bentar ya gwe mau beli snack dulu”, sahut Elza sudah kembali dengan keceriaannya.
“Buat apa beli snack, Za? Di sana kan ada”, sahut Roni.
“Gwe lagi pengen makan Chitato Ron, satu aja, Ron”, jawabnya.
“Tapi bukan mau ngeliat butik itu kan?”, sepertinya Roni menangkap maksud lain dari niat Elza singgah di supermarket yang otomatis harus masuk ke dalam mall.

“Nggak, Ron..Gak percaya banget sih”, sahut Elza kesal.

Kami sampai di pelataran parkir Plaza Medan Fair, aku dan Efan memutuskan untuk tetap tinggal di mobil karena elza janji hanya sebentar. TApi Roni mengikuti karena merasa tidak percaya Elza tidak akan singgah di salah satu butik yang ada di depan supermarket.
Saat itu sudah lepas magrib sekitar jam 7 an, suasana di luar agak gelap karena malam. Efan memandangku, lalu aku balas menatapnya.
Dia meraih bahuku, mendekatkan wajahku ke wajahnya, mencium bibirku. Rasanya bumi berhenti berputar, karena aku hanya merasakan lembutnya bibir Efan yang terus mengulum bibirku. Sampai kami tak menyadari kehadiran Roni yang telah siap membuka pintu mobil.
Dengan terburu-buru kami saling melepaskan diri. Roni tersenyum menatapku. Oh..jadi dia melihat semuanya. Aku begitu gugup dan pias. Tak menyangka akan mengalami semua begitu cepat. Aku lihat Efan tersenyum ke arahku, dan aku hanya bisa menunduk. Ini adalah ciuman pertama dan terakhir kami.
****

Sudah 3 kali dari siang tadi Roni mengirim SMS ingin bertemu aku. Dan aku hanya bisa membalas 1 kali dengan alasan belum ada waktu. Sampai akhirnya Roni menelfon. Aku mengangkatnya.
“Kenapa, Ron?”, tanyaku cepat.
“Kak aku di bawah. Di Capital Building. Sebentar aja kak, ada yang penting”, jawabnya di tengah riuh suara kendaraan yang lalu lalang.
“Ok. 3 menit aku turun”, sahutku sedikit penasaran. Ada yang aneh. Sejak beberapa hari ini Efan juga mulai jarang menjemput, dan Elza sering menolak ajakanku untuk pergi dan sekarang Roni ingin bicara hal yang penting.
Aku menyambut Roni yang datang bersama Kemal. Wajahnya cemas.
“Kak.. aku pengen ngasi tau kalo Elza dan Bang Efan sekarang pacaran”, sahut Roni tak sabar.
“Apa? Gak salah Ron?”, sahutku kaget.
“Iya, kak. Aku tau ini berat buat kakak karena Bang Efan udah mengkhianati kakak. TApi aku, selain Elza udah mengkhianati aku, Bang Efan itu kan teman aku jadi mereka berdua udah mengkhianati aku”, Roni semakin emosi menjelaskan padaku.
“tunggu dulu, Ron. Dari mana kow tau mereka pacaran?” tanyaku menyelidik. Jangan-jangan Roni cuma menyimpulkan sendiri karena Elza mungkin sedikit lebih dekat dengan Efan sekarang.
“Kakak masih jalan ma Bang Efan sekarang?” tanyanya balik.
“yah..belakangan enggak sih udah hampir 2 mingguan lah”, jawabku.
“Karena dia jalan diam-diam di belakang kita, Kak”, sahut Roni menjelaskan.
“Hmm…oke nanti aku coba tanya ke Efan”, sahutku berusaha sabar.
Sebenarnya aku sedikit terguncang mendengar berita ini meskipun samapi hari ini aku yakin aku belum juga jatuh cinta pada Efan. TApi kalau sampai berita ini benar, aku merasa dibohongi oleh mereka berdua. Aku merasa marah.
“Nanti aku telfon kakak ke rumah ya.” sahut Roni akhirnya.
Aku melihat kilatan amarah di matanya. Dan sakit hati yang jelas. Begitukah?

****
Aku mencoba menghubungi Efan, setelah 3 kali menelfon akhirnya dia mengangkat telfonnya.
“Halo…”, sahutnya biasa saja. Hmm..aku tak menangkap kesan bersemangat dari suaranya.
“Fan, lagi dimana?Koq ga ada kabar?” tanyaku.
“Lagi di tempat bilyard, kenapa Chi?”, tanyanya.
“Nggak, pengen tau kabar aja. Biasanya kamu sering jemput aku ke sini”, sahutku mencoba memulai mencari tahu.
“Oh…nggak apa-apa. Aku lagi sibuk ini penelitianku”,sahutnya menjelaskan. Sejak kapan ya Efan serius dengan penelitiannya? Rasanya memang ada yang kurang beres.
“Fan, sering ketemu Elza gak?” sahutku bertanya.
“Oh..Elza, iya seringlah di kampus. Kenapa Chi?”, jawabnya sedikit gugup.
“Dia juga sekarang jarang hubungi aku. Ya udah deh kalo gitu”, sahutku menyerah. Sepertinya sulit mencari jawaban dari Efan.
“Chi tunggu dulu, kalo Sabtu malem besok bisa gak kita ketemu di Rock Cafe?” sahut Efan tiba-tiba sebelum aku menutup telfon.
“Ada apa ya?”, tanyaku. Agak sedikit heran dengan ajakannya yang tiba-tiba.
“Aku mau ngomong sesuatu”, sahutnya.
“Ok nanti aku kabarin bisa atau nggaknya. Dadah…”, jawabku mengakhiri.
“Dah…”, dan aku menutup telfon.

Tak lama Roni menelfon, dia cerita panjang tentang bukti-bukti yang dia temukan untuk meyakinkan aku bahwa Elza dan Efan pacaran di belakangku dan Roni. Mulai dari isi sms Efan ke Elza yang terbaca oleh Roni, baju-baju yang dibelikan Elza untuk Efan, jam tangan, sepatu, dan beberapa kali Roni mendapat informasi dari teman-temannya bahwa Elza dan Efan jalan berdua.
Aku menceritakan tentang rencana pertemuan Efan denganku di Rock Cafe, menurut Roni, Efan ingin menyatakan cintanya tapi semua itu hanya untuk menutupi hubungannya dengan Elza. Aku yang sudah termakan ucapan Roni begitu emosi mendengar semua itu. Efan, kalau sampai semua ini benar, maka sampai matipun aku tak akan pernah memberikan hatiku padamu..

Keping Hati - part 1

Thursday, January 22nd, 2009

Aku memejamkan mata. Penat benar hari ini. Sekarang sudah jam 8 malam dan aku baru tiba di rumah, masih dengan rok abu-abu dan kemeja hitam plus stocking yang belum dilepas.

Pak Sukmaya menelfonku 5 menit yang lalu, bertanya tentang kabel-kabel yang aku sendiri tak paham.Ini hari kedua beliau ada di Medan, untuk mengecek persiapan penutupan store Hero di Medan dan otomatis outletku juga ditutup. Padahal aku baru 7 bulan bergabung di perusahaan ini.

Sejak awal persiapan penutupan toko, aku dan seluruh staffku juga seluruh karyawan lainnya dijadwalkan dengan jam kerja office karena tidak ada transaksi lagi dengan customer. Masuk pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore. Tapi dengan tanggung jawab yang lebih besar aku lebih sering pulang lebih malam, bukan hanya karena memang waktu yang terasa sempit, tapi juga karena aku butuh sharing dengan Pak Herman dan Pak Jeffri dari Head Office.

Tiba-tiba pintu kamarku dibuka, ayahku melongok ke dalam kamar.

“Chi, ada telfon dari Efan”, suara bas Ayahku terdengar serta.
“Iya”, sahutku pendek.

Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamarku menuju telfon di atas meja kecil bulat di sudut ruang tivi. Aku mengangkat gagang telfon itu.

“Halo”, kataku.
“Chia lagi ngapain?”, suara Efan yang kukenal terdengar di seberang sana.
“Baru sampe rumah, Fan. belon ngapa-ngapain. Dimana kow?” sahutku dengan logat Medan, aku terbiasa mengobrol tanpa basa-basi.
“Di rumah la sayang..Besok anak farmasi tanding bola. Nonton ya, Chi. Aku jemput mau?”, sahut Efan lagi.
“Besok ya? Tapi bosku datang dari Jakarta, Fan. Jam berapa tandingnya?”, tanyaku lagi.
“Biasalah jam 4. Datanglah sayang….”, rayunya.
“Iya…tapi jemput jam 5 aja ya…”, sahutku menyerah.
“Yaaa gak serulah masa udah telat kita nontonnya”, sahut Efan.
“Udah gak apa-apa yang penting kan nonton. Ya udah ya, Fan…ntar aku telfon si Efri and Ika, aku mo mandi nih gerah”, sahutku menyudahi.
“Iya, telfonlah. Kalo kalian bertiga gak datang, ga seru supporternya. Dadah sayang….”, Efan mengakhiri percakapan.
“Dah…”, sahutku membalas.

Efan adalah adik kelasku di jurusan Farmasi. Dia berada 2 angkatan di bawahku dan kami berbeda usia 2 tahun pula. Tapi aku tak pernah menyangka Efan mempunyai perasaan lebih ke aku.

Sejak pertama kali mengenal Efan pada tahun pertamanya, sebagai senior yang super senior karena pengurus besar HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), aku bisa melihat bahwa Efan sangat cocok untuk meneruskan jabatan Ketua Umum dari majalah kampus yang saat itu aku pegang. Dan ketekunanku untuk mendekati dan membimbing dia untuk posisi itu telah membuat Efan jatuh cinta padaku.

Sejak 6 tahun yang lalu, sudah lebih dari enam kali Efan mencoba mengutarakan perasaannya, tapi aku selalu mengalihkan topik pembicaraan dan menanggapi dengan canda. Karena saat itu aku mempunyai seorang pacar bernama Akmal, yang setengah mati selalu dijuluki “norak” oleh Efan. Dan entah kenapa ada perasaan sayang yang begitu kuat aku rasakan pada Efan, aku menyayanginya sampai-sampai aku tidak ingin jadi pacarnya karena takut kehilangan dia.

Pada tahun keduanya sebagai mahasiswa, Efan pacaran dengan Efri, yang berada satu angkatan di bawahnya. Tapi hanya beberapa bulan pacaran, mereka putus dan karena Efri adalah sahabat terdekatku, otomatis mereka berdua selalu curhat ke aku yang buat aku jadi serba salah. Efan menganggap Efri terlalu posesif dan Efri berfikir bahwa Efan tidak mencintainya.

Tidak jarang aku menangkap kilatan cemburu di mata Efri saat aku berdua dengan Efan. Sikap Efan berbeda bila bersamaku. Semua orang berfikir kami punya hubungan khusus dilihat betapa mesranya dia merangkul pundakku dan setia menungguku selesai kuliah atau praktek di laboratorium.

Setelah mereka putus, Efan pernah berusaha mengutarakan lagi perasaannya padaku, bahkan dalam satu kesempatan, Efan membawakanku edelweiss. Maafkan aku, Fan.

* * * * *

“kepada ibu Chiara, ditunggu kedatangannya di area fresh, terima kasih”, suara merdu Maya dari deposit counter menyentakkan aku dan Pak Sukmaya yang sedang berkutat di depan komputer.
“Chi, kamu dipanggil tuh, sana”, sahutnya cepat.
“Gak ah, Pak. Paling anak-anak lagi iseng”, jawabku.
“Siapa emang yang manggil kamu?”, tanya beliau lagi.
“Ya….anak fresh. Mereka kan suka iseng gitu, Pak”, jawabku sekenanya.
Pak Sukmaya cuma manggut-manggut aja dan kembali menatap layar komputer dengan serius.

Sejak awal penutupan toko, aku cukup dekat dengan karyawan berbagai divisi, kami sering pulang bareng-bareng dan kadang kongkow-kongkow beberapa jam untuk menikmati udara malam sambil minum kopi. Dan mereka pasti sedang iseng memanggilku karena mereka tau sejak kedatangan Pak Sukmaya aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan beliau sampai selesai jam kerja.

Lima menit berselang panggilan dari deposit counter kembali terdengar. Pak Sukmaya memaksaku untuk menghampiri area fresh karena beliau merasa panggilan itu penting. Aku mengikuti perintahnya. Hitung-hitung relaks sejenak dari pekerjaan yang buat kepalaku tambah sakit.

Tumpukan barang dimana-mana di area toko yang dulunya begitu rapi. Hmm..semua ini akan meninggalkan kenangan yang sangat manis tentunya bagi teman-temanku. Aku melangkah hati-hati di antara tumpukan-tumpukan itu.

Langkahku terhenti, ketika sekelebat aku menangkap sosok Irham di balik ruang fresh. Tapi terlambat, Irham keluar dari pintu itu dan menarik lenganku.

“Oh..jadi kamu yang panggil”, sahutku dingin.
“Urusan kita belum selesai, Ibu Chiara yang terhormat”, sahutnya sinis.
“Rasanya saya tidak punya urusan apa-apa dengan kamu. Maaf saya sibuk”, sahutku berbalik dan tak seperti dugaanku, Irham menarik lenganku lebih keras.
“Wah, ada apa nih?”, tiba-tiba Pak Herdi hadir tepat di depan kami.
Thank God.
“Oh ga apa-apa Pak, ini becanda saya ma Irham. Kamu sih..”, sahutku meredakan situasi itu.
“Saya ke atas dulu ya Pak, yok Ir ntar aja kita ngomongnya pas pulang ok?”, aku berpura-pura menunjukkan keakraban di depan Pak Herdi.

Lalu dengan langkah yang besar aku menjauhi area fresh. Tuhan, ternyata Irham sangat marah padaku.
Semua ini disebabkan keisengan kami berdua, Irham tertantang untuk mengajakku makan siang oleh teman-temannya dan aku mendengar taruhan itu, lalu aku menerima ajakannya dan dengan pongahnya dia bercerita bahwa aku telah ditaklukkannya. Hmmm laki-laki yang sombong, aku hanya diam ketika beredar cerita tentang betapa hebatnya dia telah menaklukkan aku.
Dan ketika semua orang menganggap aku telah jatuh cinta padanya karena ceritanya itu, aku dengan satu pukulan telak telah mematahkannya di depan seluruh karyawan saat Efan dengan kepolosannya datang menjemputku dan seperti biasa merangkulku dengan hangat.
AKu pasti bisa membereskan Irham. Karena dia pikir dia telah menang dariku.

Teringat janjiku pada Efan, aku segera membereskan sisa pekerjaan dan bersiap-siap menunggunya menjemputku. Aku dan Efan tidak pernah saling merecoki saat aku dan dia sedang sibuk, maksudnya aku sibuk kerja dan dia sibuk main bilyard. Kegilaannya dengan bilyard sebenarnya buat aku lebih mudah mencarinya, di kampus atau di tempat tongkrongannya main bilyard.

Pukul 5, aku mengintip ke lantai bawah, di parkiran aku melihat Efan dengan tshirt putih dan celana jeans. kebandelannya yang tak pernah mendengarkanku untuk memakai jaket. Aku bergegas turun, dan menghampiri.

“Cantik kali si Chiara ini”, keluar logat Medannya memujiku.
“Halaaah, ayo buruan ntar ga enak aku pulangnya tenggo”, sahutku sambil menghenyakkan tubuhku di atas boncengannya.
“Ayolah, udah hampir kalah ini kita”, sahutnya lagi.

Kami melaju di atas motor bebeknya, terlibat percakapan yang selalu akrab. Rasanya tak pernah ada beban ketika aku bersama Efan, tapi entah kenapa aku tak kunjung merasakan debaran aneh seperti ketika aku jatuh cinta pada Yogi.

bersambung…
thanks buat ella yang udah cape bantuin nyari judul yang pas,
dan thanks to efan….