keping hati - part 2
“Kakak………………Akhirnya kau datang juga……………Horeeeeeeee kostum koboi lagi. Kita kompakan”, teriak Ika ketika aku dan Efan menghampirinya di warung Indomie depan Fakultas Farmasi. Ika memakai topi koboi warna coklat dan sepatu bot hitam lancip, sementara aku memakai rok jeans lebar dan sepatu bot suede warna coklat yang ujungnya lancip juga
“Hehehehehehe..mang sengaja lagi pengen ngoboi”, sahutku asal.
Ini hari liburku dan aku janji pada Efan dan teman-teman lain untuk main ke kampus tercinta.
“Fan, kow ada kuliah gak?”, tanya Ika tiba-tiba pada Efan.
“Fitokimia, males aku”, jawabnya.
“Sana masuk, jangan bolos aja kerjamu”, Ika menarik tangan Efan, mengusirnya pergi.
“Ah, si Ika ini, aku mau makan dulu. Belom sarapan aku dari pagi”, sahutnya penuh alasan.
“Halaaah..bilang aja mau deket terus ma si Chiara”, sahut Ika sengaja yang spontan memerahkan wajah Efan.
“Ya udah ya udah aku masuk. Jangan pulang dulu ya sayang…”, seru Efan sambil mengacak-acak rambutku.
“Iya, jangan lama-lama!”, sahutku mengusirnya pergi.
Sedetik kemudian aku bergabung dengan Ika di warung Indomie tersebut. Seperti biasa aku pesan coffee latte hangat. Ika sedang asyik dengan rokoknya. Dia cewe paling cuek di kampusku. Aku seumuran dengannya tapi dia satu angkatan di bawahku.
“Kak, gimana hubungan kakak sebenarnya dengan si Efan?” Ika membuka percakapan dengan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh banyak orang.
“
“Seriusnya kakak? Gak kasihan kakak sama dia?”, semakin lama pembicaraan ini makin buat aku bertanya-tanya.
“Ada apa ini, Ka?kenapa tiba-tiba ini harus dibahas lagi?Kalo masalah perasaan, Ika kan tau sendiri kalo sampe hari ini aku masih tetep cinta sama Yogi walaupun hubungan kami seperti gak mungkin”, aku mencoba menjelaskan perasaanku ke Ika.
“Sekarang gini kakakku, katanya kakak sayang sama Efan, dan kakak tau kalo dia udah lama suka sama kakak. Sekarang ini yang bisa buat dia semangat penelitian dan ke kampus cuma kakak. masa kakak tega menghancurkan dia dengan nolak cintanya?”, jelas Ika.
Hmmm………persoalan ini jadi semakin rumit. Aku juga sudah mendengar ini dari Efri. Meskipun Efri pernah pacaran dengan Efan, tak sekalipun dia keberatan dengan hubunganku dan Efan. Malah Efri meyakinkan aku untuk menerima cinta Efan.
“Tapi aku belom bisa lupain Yogi, Ka. Aku nggak tau apa aku bisa pacaran dengan Efan”, sahutku sedih.
“Tapi dalam hati kakak ada gak keinginan untuk belajar mencintai Efan?” tanya Ika.
“Hal yang paling aku inginkan, jatuh cinta sama dia”, jawabku pasti.
“Ya udah kalo gitu, terimalah dia Kak, please…”, Ika begitu bersemangat memohon.
“Dibayar berapa sama dia? Ya udah aku mau, setidaknya sampe dia lulus”, sahutku menyerah.
“Horeeee gitu lah Kak. Jadi gak sedih kawan aku itu”, keluar lagi logat Medan si Ika.
Aku menghela nafas setelah mengucapkan kesediaan itu. Tapi mudah-mudahan aku memang bisa menerimanya. Paling tidak sedikit mengobati rasa kecewanya karena setelah pacaran dengan Efri, dia sempat pacaran dengan Alya dan dikhianati pula. Mungkin sudah waktunya bagiku membalas cinta Efan. Aku menggumam dalam hati.
* * * *
Aku, Ika dan Efri sedang duduk di bawah pohon rindang di lapangan bola depan laboratorium tablet siang itu. Efan masih dalam kelas. Sebuah mobil Atoz silver metalik berhenti dan parkir di depan kami. Seorang cewe kecil, pendek, berambut lurus sebahu dan berkacamata turun dari mobil.
“Kak, kita pergi aja yuk”, ajak Efri.
“Kenapa Ef?”, aku heran dengan ajakannya yang tiba-tiba.
“Aku ga suka kalo si Elza gabung-gabung ma kita”, sahutnya gusar.
“Kenapa, Fri emangnya? Santai ajalah”, sahut Ika menimpali.
Dan tak lama…………
“Kak, mau beli baju gak? Nih aku baru beli gelang di medan mall, kakak beli baju dimana?”, Elza langsung nyerocos menuju ke arah bangku tempat kami duduk.
“Ngapain kow ke sini Za? Suka kali gabung-gabung ma kami. Kami ini 3 wanita cantik, gak pantas lah kow gabung-gabung ma kami”, Ika menjawab sapaan Elza dengan sadis.
“Yaaa..kak Ika, gwe kan mau nawarin baju-baju. Keren koq ini kak. Kak Chia juga kan biasanya suka beli baju-baju”
Elza adalah mahasiswa semester 3 di kampus ini, dia berada 6 tahun di bawah angkatanku, orangnya sih biasa saja sekilas seperti masih anak sekolahan karena tubuhnya kecil dan gayanya yang super kekanak-kanakan. Entah kenapa belakangan Elza berusaha bergabung dengan aku, ika dan efri. Dan semakin sering pula Efri menolak dia bergabung. Aku tak pernah tau alasan yang jelas dari Efri, dia hanya mengatakan “Aku ga suka aja”, tanpa alasan yang kuat.
Tapi ternyata Efri akhirnya benar, karena sejak aku mulai membiarkan Elza memasuki hidupku tepatnya hidupku dan Efan, maka sejak itu aku telah membiarkan Elza merusak hubungan kami semua.
bersambung fren………..hayyyah….



