Archive for February, 2009

Luka

Friday, February 27th, 2009

aku tak bisa kembali
dan aku memang tak ingin kembali
perasaan cinta
rindu
kehangatan
telah kubunuh dan kubuang jauh-jauh dari hati

tak perlu kau sesali apa aku saat ini
hatiku sekeras batu
tak kan peduli lagi keluh kesahmu

bukan maaf yang tak bisa terucap dari bibirku
karena telah kulafadzkan di hati
bukan air mata yang tak mampu membasah kelopak mataku
karena luka telah begitu panjang kau sayatkan

tak perlu berfikir untuk mencintaiku
karena cinta selamanya telah mati

keping hati-part 6

Wednesday, February 25th, 2009

Tujuh tahun kemudian…

kita tak perlu menjadi sahabat apalagi kekasih
aku tak akan menyisakan apapun tentangmu meski bayangan

Lelaki itu

Tuesday, February 24th, 2009

aku membolak-balik buku catatan besar di atas meja
dengan layar monitor di hadapan yang membuka
what is my next job?
aku penuh, stag, dan kosong bersamaan.
ketika itu kau memanggilku
suara tawa yang menyapa dekat di telingaku
manis, menggetarkan

lelaki yang menggenggam jantungku
dan menghitung iramanya satu persatu
lelaki yang begitu kuat menjejak relung pikirku
mengisi cawan cintaku penuh-penuh
lelaki yang selalu mengecup kelopak mataku
tiap kali dini hari berganti pagi

lelaki itu adalah kamu

Analisa Cinta Kualitatif

Friday, February 20th, 2009

Hari ini aku ingin menganalisa cintamu
Benarkah ada warna merah muda dari reaksi identifikasi azo?
Atau hanya sesuatu yang pahit mengungukan reaksi parri?
ketika kristal-kristal fe-kompleks begitu blurr di bawah mikroskop
aku hanya menemukan warna kuning hijau pucat pada akhirnya

keping hati - part 5

Wednesday, February 18th, 2009

Aku melangkahkan kaki keluar dari sisi sebelah kiri mobil soluna silver, menutup pintunya dengan sekali bantingan pelan. Efri mengikuti keluar dari sisi sebelah kanan, dan ika keluar dari pintu belakang.
Hari ini aku mengunjungi fakultas farmasi dengan tujuan yang jelas. Bertemu efan.

Kampus seperti biasa cukup ramai, tapi kali ini hujan turun kecil-kecil. Aku mengenakan pakaian kerja. Karena kelar bertemu dan bicara dengan Efan, aku bermaksud kembali ke Capital Building. Aku mengucapkan beberapa patah kata pada Efri untuk menungguku di depan laboratorium Tablet. Efan pasti ada di sana karena dia sedang membantu penelitian Bang Samran. Dengan sedikit berdebar aku melangkah masuk, ada Popi yang segera menyapaku.

”kak Chiara, wah lama ga kampus kak? Gimana kabarnya?” tanya Popi seraya menyalamiku.
”Baik-baik, Pop. Ada Efan?”, sahutku tak menunggu lama.
”ada tuh di ruangan cetak, bentar aku panggil yaa”, sahut popi bergegas sambil terus tersenyum.

Aku tau telah berpuluh mahasiswa tak Cuma di jurusan farmasi ini yang tau tentang hubungan kami saat ini. Tapi sayang sekali berita-berita yang beredar sungguh menyakitkan telingaku.
Popi keluar dari ruang cetak tablet,

”kak, aku ke depan dulu ya. Itu si Efan”, sahutnya bergegas meninggalkan kami berdua.

Efan keluar tak lama kemudian dengan jas putih. Menghampiri meja di seberang mejaku berdiri.
Kekakuan menyergap di antara kami.

”ada apa Chia?” tanyanya dingin.
“aku Cuma pengen menanyakan beberapa hal”, jawabku tak kalah dingin.
Kami tak saling menatap.

“kenapa beberapa hari belakangan aku sering dengar berita-berita ga enak. Yang katanya aku dan efri bertengkar memperebutkan dirimu padahal kow sendiri milih si Elza. Berita apa itu Fan? Norak tau!”, aku mengungkapkannya begitu bernafsu. Penuh emosi.

”aku ga ada dengar kek kek gitu koq”, dia masih saja ngeles.

”ahhh ga usah alesan Fan, bahkan Pak Wiryanto aja sampe sms aku bilangin kalo ada gosip kaya gitu. Bahkan anak2 teknik, hukum, fisip sampe tau. Aku malu dengernya”, sahutku semakin emosi.

”bukan urusan aku itu, cemburu kau rupanya dengan kami?”, dia masih menjawab dingin.

”eh Fan, denger ya, aku ga peduli kow mau pacaran kek, jungkir balik kek, kawin kek sama si Elza, terserah ga ada urusan ma aku”, ketika mengucapkan itu suaraku bergetar.

”ya udah kalo gitu”, sahutnya tenang.

“dan ingat, posisi kalian di kampus ini ga ada lebih tinggi dari aku. Jadi jangan berani macam-macam”, sahutku semakin marah.

”ooh ngancam Chia?”

”ga ngancam, hanya memperingatkan”
”aku pergi dulu”,
dan aku melangkah keluar dari pintu lab Tablet sambil menahan air mata yang hampir saja jatuh.
Sakit sekali rasanya membohongi perasaan ini. Aku baru sadar bahwa aku mencintai Efan.
Itu pertemuan kami yang terakhir.

************************************************
Sebenarnya sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi berniat untuk mencampuri urusan apapun yang berkaitan dengan Efan dan Elza. Hampir tak pernah lagi. Roni yang berulang-ulang mencoba menghubungi pun aku tak peduli.
Merasa dikhianati itulah yang aku rasakan. Semakin sering aku berpikir betapa bodohnya aku telah begitu buta dipermainkan oleh Efan. Bahkan rasanya tak percaya lagi dengan semua perhatiannya dulu.

Tapi pagi ini telepon di meja kerjaku berdering. Dengan malas membayangkan suara seseorang di Jakarta aku mengangkatnya.

”Bisa bicara dengan ibu Chiara?”, sebuah suara yang kukenal.

”Ada apa Efri?”, jawabku langsung mengenalinya.

”Kak, sini kak. Si Roni berantem ma Efan”, suara Efri terdengar begitu cemas dilatar belakangi suara beberapa orang yang berteriak.

”Di rumah Ef? Kenapa?”, tanyaku cemas.

”Ini si Efan dihajar ma Roni, Kak. Ayo cepat ke sini!”, sahutnya lagi sambil berteriak-teriak mencoba melerai mereka.

“Aduh aku nda bisa keluar ini lagi kerja. Ntar aja sorean ya”, sahutku mencoba mencari alasan.

Dan selanjutnya percakapan beralih ke Ika karena Efri begitu histeris dengan keadaan Efan yang dihajar habis-habisan oleh Roni tanpa perlawanan.

Aku tak ingin memikirkannya. Aku merasakan sakit yang begitu kuat. Kenapa harus jadi seperti ini?
Pekerjaan sore itu aku akhiri dengan lebih cepat, tanpa sempat berbasa-basi dengan Joko, Pak Herdi, Diki dan lainnya.
Aku tak mau Terus memikirkanmu, Efan.
Jangan menanam bayangmu di kepalaku.

PS: ini hanya masa lalu

bukan untuk dipahami

Wednesday, February 18th, 2009

Tak bisa memutuskan akan melakukannya atau tidak
Ketakutan yang membayang begitu besar menguasaiku
Aku belum siap kehilangan semuanya

ajari aku

Tuesday, February 17th, 2009

aku begitu menginginkanmu…
lelaki yang selalu hadir di tiap detik hariku..
lelaki yang selalu menyentuh hati dan rasaku..
lelaki yang telah begitu lembut menyentuh ragaku

kau mengajarkanku tentang kehangatan hati
mengajarkanku tentang luasnya samudra kehidupan
mengajarkan kasih sayang, cinta dan kesetiaan
mengajarkan indahnya bertemu Sang Pencipta sebelum subuh menjemput kita

aku membutuhkanmu selalu dekat di hatiku
membutuhkanmu selalu dekat menyentuh kulitku

aku menjatuhkan cintaku..
tepat di hatimu

Aku melaporkan gathering dbloggers

Monday, February 16th, 2009

dengan dua buah reason aku membuka mataku pagi hari minggu tanggal 15 februari yang berhawa dingin…
Hmmm hari ini ada acara kopdaran di rumah pak budiono “the king of detikers”…..
Wadoooh cuaca hatiku of course lah selalu cerah tapi cuaca tubuhku dengan sisa2 tifoid yang masih terasa dan sinusitis yang semakin mengganggu membuat aku begitu enggan mengangkat tubuhku dari atas kasur meskipun ada si keriting kecil yang mondar mandir menarik-narik tanganku untuk segera bangun.
Kuat ga yaaaa berangkat ke pamulang???
Kalo ga dateng gimana yaa? Langsung teringat anceman dari si ruang hati
“Kalo lo ga dateng besok, gw ga mau temen ma lo seumur hidup!!” hadoooh ancemannya begitu menusuk hatiku. Belum lagi kata-kata dari seorang lelaki yang mensupport agar aku datang mewakili dirinya.

Okehh….baiklah gw dateng….
Langsung deh beres2 rumah, belanja ke warung, masak sup ayam and wortel, mandiin rico, nyuapin makan rico, nyuci botol2 susu, nyuci piring, nyuci pakean (tukang cuci ternyata), nyapu and ngepel (dah kaya eyang) sambil bermain-main ceria bersama enricoku.
Jam 11.30 aku memutuskan untuk mandi sementara telfon dari sista idana yang mengabarkan sedang ada di pasar sukowati beli baju2 cantik pesenanku, juga sista fika yang nanyain aku jadi dateng apa gak dan berakhir janjian di slipi, serta sista ella yang mastiin aku dateng apa gak plus ngajakin makan siang bareng hilman, serta telpon dari bro baratra yang nanyain alamat gedung aldevco.
Akhirnya pukul 12.30 aku berangkat dari rumah, niatnya mo ke kantor detik, tapi pas dah naek angkot menuju CL aku inget kalo … 1. obatku ketinggalan 2. aku lupa bawa duit yang ada di dompet Cuma 60 ribu ntar ga cukup pula, jadi aku putuskan untuk mampir ke cl bentar beli obat and ambil uang di atm.
Perjalanan mulus karena ga ada saingan kalo hari minggu, jadi Cuma 30 menit nyampe di CL, aku langsung ke atm bca di depan guardian, si bro baratra telfon2 terus mastiin gedung aldevco, habis dari atm aku ke century beli obat, ketemu ma temen-temen pula, dunia farmasi memang sempit.
Ella nelfon nanyain berapa menit lagi sampe slipi, fika nelfon bilang kalo dia kebablasan sampe taman anggrek dan akhirnya aku tungguin di CL. Trus celingak celinguk nyariin fika yang turun dari P6, dan akhirnya ketemu langsung naek mobil 46 ke slipi, jahhh hujan pulaaa, padahal badanku dah panas dingin.
Kami nyampe jdc slipi jam 14.25, kehujanan, trus kata ella masuk aja lurus ke dalem jdc, dan celingukan nyariin ella en hilman. Mereka ternyata nunggu di depan pintu jdc, trus kita berempat langsung naek taksi ke kantor detik.
Sampe di detik, koq banyak orang pake batik yaa? Perasaan gw ga ada bikin dress code hari ini pake batik deh. Ternyata…ada yang kawinan di gedung aldevco. Huehehehe jadi terpaksa ngelewatin meja resepsionisnya dengan cuek langsung ke lift en naek ke lantai 2. di sana ada beberapa pria dan seorang wanita berkerudung sedang berdiri depan kantor detik. Salah satunya ternyata kenal ella. Salam2an dehhh. Ternyata mereka itu si Joel anak TS (Tanya saja), Vita (calon blogger), Riswal, dan julian ari. Trus ngelongok ke dalem koq kaya ada orang ya? Tapi koq samar-samar ya? Huehehehe ada si bandi lagi mojok ndere (peace bro…), kami disambut depan pintu oleh sang admin kita mas kw, karena pusing aku memutuskan duduk santai di sebelah bandi yang lagi ngenet, trus sok2 akrab nanya2 kabarnya. Tiba2 sesosok makhlus alus asing keluar dari pertapaannya salah satu ruangan di detik, dia berkaos hitam dan bercelana hitam (permadi addict) syukurlah kulitnya ga hitam. Tapi ntar duluow…keknya dia koq sok akrab ya?
Hehehe si bro baratra ternyata dah sampe duluwan kan diyaaaa
Kami berpelukan mesra (boong koq), bersalaman dan ngobrol seperti udah lama kenal, trus gabung ma yang laen-laen dehhh. Ngobrol2 ga jelas, foto sana sini memuaskan jiwa narsis masing-masing, dan jam 4 mas kw bilang agar segera berangkat pelan-pelan eh maksudnya satu persatu. Jadi cepet.
Aku, ella, fika, Moulin, husin, bandi, dan eyang berangkat di mobil pertama. Eyang nih sok gabung-gabung gitu ma kita-kita yang masih muda (huehehe) jadi sepanjang perjalanan ke kediaman pak budiono eyang habis jadi bahan ledekan dan tentu saja husin juga (sin, jadi ga lo bikin postingan tentang gw???). perjalanan yang menyenangkan apalagi aku ditemani suara seorang lelaki yang begitu dekat di telingaku.
Nda sampe 1 jam kami tiba di komplek pamulang permai, yahh ini kan perumahan yang sama ma abang sepupu ku Cuma beda 1 blok wae…tapi jaohnyaaaaa kata eyang dia seumur hidup baru satu kali lho ke pamulang…masa sih eyang? Tapi apakah ada kemungkinan akan sering2 melewati nya lagi karena ada seseorang yang rumahnya di deket situ??? Oiiii goseeeep.
Kami disambut di depan rumah oleh pak budiono, yang mempersilahkan kami langsung ke bagian belakang rumah, di dalam kelihatan ibu hana (istri pak budiono) sedang sibuk di dapur dan bening (anak pak budi) lagi asik ngedrum. Ternyata halaman belakang rumahnya luas banget, udah ada tenda dan meja besar plus kursi2 dan yang penting di atas meja itu adaaaaa makanan sodara-sodara!!! Huehehehe kan dah laper ini.
Tak lama (kata-kataku sok mendramatisir kan?) kursi-kursi di sekelilingku pun penuh. Suasana sore menjelang petang itu terasa semakin dingin menusuk kulitku karena aku semakin pusing dan demam.
Mas kw yang didaulat oleh pak budiono membuka acara dengan singkat mempersilakan beliau memberikan sambutan, dan memperkenalkan orang dalemnya detik, ada mas donnybu, mas marwan, rgesit, andry, mba putri fatia yang cantik, mba melly, mas wicak, arikeren, sapa lagi yaa lupa akuu, after that pak budiono mendaulatku untuk memimpin perkenalan dbloggers, yang dimulai dari mas udin dan diakhiri oleh mas kw sendiri.
Acara santap yang begitu hangat diawali dengan baso bulet dan gepeng, lalu kambing guling, mie goreng, nasi, ayam bakar, cumi, adoooh ga cukup ini perutku ibu hana….enak lagi masakannya. Trus kita jalan2 mesra ke kebun terong en metik terong plus cherry, ga berani ke kolam ikan takut nyebur. Tapi pastilah kalo foto-foto itu. Semua dblogger kan narsis termasuk pak budiono (alaaah ngaku aja paaak!!)
Kembali ke meja makan, ada duren monthong yang menunggu diserang, tapi saat itu aku rasakan kepalaku semakin berat dan berat….
Sekian dulu laporannya many thanks untuk:
1. pak budiono, ibu hana dan bening yang telah begitu sabar menghadapi serbuan dbloggers di kediaman mereka. Bener ya pak kalo aku bikin kopdaran lagi boleh di sana kan? Ntar kapan2 judulnya kopdaran sambil barbeque hehehe
2. para detik people, maaf ya mas kalo ada namanya yang belon kesebut aku lagi ga konsen hehehe
3. mas dedi raksawardana yang selalu menyempatkan waktunya yang sempit untukku (woiii geer dia datang karena dblogger bukan karena lo jul!!!!)
4. dbloggers baru yang mau ikut bergabung, mas udin, vita, rizwal, julian ari, moulin, fika.
5. putra yang udah jaoh-jaoh dateng
6. joel dari tanya saja
7. benua dan mamanya yang dipaksa sang ayah (hehehe peace bro)
8. semua teman-temanku ella, anny, eyang, hilman, bandi, husin, reza, marlisa, mas karmin, ika dan hesti.
9. dan tentu saja lelakiku yang selalu ada di hatiku (jahhh ikut2an aja poon).

Foto-fotonya mana jul? Hah? Apa? Foto-foto?
Ohhh foto2nya kemaren?? Mana yaaaa?
Ntar dehh kalo dah lengkap aku posting di agenda tapi sementara liat dulu donk di sini…

 http://anny.blogdetik.com/2009/02/16/gar…

sekotak ferrero rocher dan twilight

Friday, February 13th, 2009

hari ini aku melangkahkan kakiku yang kurus dengan sedikit berat. aku telah didiagnosa dokter positif demam tifoid sejak sabtu 7 februari 2009 tapi karena kekuatan cinta (halaaah) dan semangatku untuk terus work hard and play hard yang begitu besar maka sejak senin aku memaksakan diri bekerja.
dan alasan lainnya juga karena ada tamu dari hongkong yang akan berkunjung and see our market here.
tapi ternyata pas kamis tgl 12 februari kemarin aku bener2 ga kuat bangun dan jadilah cuma ke dokter dan tidur seharian di rumah.
dan today i push my self to come to the office because i want to see sally and say good bye to her because today she will go back to hongkong.
aku telat as usual, tapi hari ini parah telatnya 1,5 jam, hehehe
dan sepanjang jalan aku masih merasakan panasnya nafasku dan kulitku. tapi aku harus ke kantor.
pas nyampe di mejaku, taraaaa aku menemukan 1 bungkus koran dengan tulisan kepada julia hardy yang imut bla bla bla…ahaa aku tau siapa yang mengirimkan ini….
isinya adalah…….novel Twilight!!!!! ohhh no…halaaah padahal dah tau pun mo dikirimin sok surprised kow jul!
lalu kita buka bungkusan kedua, yaitu…… kiriman dari khatulistiwa.net, isinya 2 buah buku Dan Brown Angel and Demon dan The ARt Of Loving pesenanku. Salah satu buku ini akan kukirimkan pada seseorang sebagai valentine’s gift.
lalu ternyata di bawah bungkusan2 itu ada sebuah bungkusan berwarna merah, siapakah pengirimnya?
aku buka pelan2, dan isinya adalah……sekotak ferrero rocher!!!
huehehehe a valentine’s gift. ntar duyu sapa yang ngasi yeee?
kayanya bukan lelaki yang ngirim buku twilight itu??
hmmm siapapun dia aku berterima kasih padanya

hehehe aku langsung berseri2 gitu karena dapet hadiah2 ini….
jadinya semangatttttt…

terima kasih buat lelaki yang telah mengirimkan twilight itu…
kehangatan hatimu terasa begitu dekat di hatiku…
terima kasih juga buat pengirim ferrero rochernya siapapun dirimu
kapan2 sekalian coklat yang laen yaaa (huehehehe maruk)
terima kasih juga buat ella yang bikin postingan buat aku hari ini

teknologi formulasi cinta

Tuesday, February 10th, 2009

mencintaimu
seperti mendiskusikan bahan tambahan apa yang akan kugunakan untuk mencetak tablet isoniazid dengan metoda cetak langsung
tak seperti mahasiswa farmasi lain, aku melakukannya dengan penuh spekulasi, menciptakan data-data cantik yang kunikmati sendiri
bioavailibilitas cintaku tak terkatakan jumlahnya dan kau akan lihat grafik warna-warni di kertas folio jurnalku
lalu mengumpulkan semuanya dalam binder biru bunga-bunga yang sering aku pinjamkan usai penat penilitianku
dan menandai kemasan pot plastik dengan lembar-lembar merah muda persegi bertuliskan cinta

ada seseorang yang menungguku di kejauhan sana..