Aku melangkahkan kaki keluar dari sisi sebelah kiri mobil soluna silver, menutup pintunya dengan sekali bantingan pelan. Efri mengikuti keluar dari sisi sebelah kanan, dan ika keluar dari pintu belakang.
Hari ini aku mengunjungi fakultas farmasi dengan tujuan yang jelas. Bertemu efan.
Kampus seperti biasa cukup ramai, tapi kali ini hujan turun kecil-kecil. Aku mengenakan pakaian kerja. Karena kelar bertemu dan bicara dengan Efan, aku bermaksud kembali ke Capital Building. Aku mengucapkan beberapa patah kata pada Efri untuk menungguku di depan laboratorium Tablet. Efan pasti ada di sana karena dia sedang membantu penelitian Bang Samran. Dengan sedikit berdebar aku melangkah masuk, ada Popi yang segera menyapaku.
”kak Chiara, wah lama ga kampus kak? Gimana kabarnya?” tanya Popi seraya menyalamiku.
”Baik-baik, Pop. Ada Efan?”, sahutku tak menunggu lama.
”ada tuh di ruangan cetak, bentar aku panggil yaa”, sahut popi bergegas sambil terus tersenyum.
Aku tau telah berpuluh mahasiswa tak Cuma di jurusan farmasi ini yang tau tentang hubungan kami saat ini. Tapi sayang sekali berita-berita yang beredar sungguh menyakitkan telingaku.
Popi keluar dari ruang cetak tablet,
”kak, aku ke depan dulu ya. Itu si Efan”, sahutnya bergegas meninggalkan kami berdua.
Efan keluar tak lama kemudian dengan jas putih. Menghampiri meja di seberang mejaku berdiri.
Kekakuan menyergap di antara kami.
”ada apa Chia?” tanyanya dingin.
“aku Cuma pengen menanyakan beberapa hal”, jawabku tak kalah dingin.
Kami tak saling menatap.
“kenapa beberapa hari belakangan aku sering dengar berita-berita ga enak. Yang katanya aku dan efri bertengkar memperebutkan dirimu padahal kow sendiri milih si Elza. Berita apa itu Fan? Norak tau!”, aku mengungkapkannya begitu bernafsu. Penuh emosi.
”aku ga ada dengar kek kek gitu koq”, dia masih saja ngeles.
”ahhh ga usah alesan Fan, bahkan Pak Wiryanto aja sampe sms aku bilangin kalo ada gosip kaya gitu. Bahkan anak2 teknik, hukum, fisip sampe tau. Aku malu dengernya”, sahutku semakin emosi.
”bukan urusan aku itu, cemburu kau rupanya dengan kami?”, dia masih menjawab dingin.
”eh Fan, denger ya, aku ga peduli kow mau pacaran kek, jungkir balik kek, kawin kek sama si Elza, terserah ga ada urusan ma aku”, ketika mengucapkan itu suaraku bergetar.
”ya udah kalo gitu”, sahutnya tenang.
“dan ingat, posisi kalian di kampus ini ga ada lebih tinggi dari aku. Jadi jangan berani macam-macam”, sahutku semakin marah.
”ooh ngancam Chia?”
”ga ngancam, hanya memperingatkan”
”aku pergi dulu”,
dan aku melangkah keluar dari pintu lab Tablet sambil menahan air mata yang hampir saja jatuh.
Sakit sekali rasanya membohongi perasaan ini. Aku baru sadar bahwa aku mencintai Efan.
Itu pertemuan kami yang terakhir.
************************************************
Sebenarnya sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi berniat untuk mencampuri urusan apapun yang berkaitan dengan Efan dan Elza. Hampir tak pernah lagi. Roni yang berulang-ulang mencoba menghubungi pun aku tak peduli.
Merasa dikhianati itulah yang aku rasakan. Semakin sering aku berpikir betapa bodohnya aku telah begitu buta dipermainkan oleh Efan. Bahkan rasanya tak percaya lagi dengan semua perhatiannya dulu.
Tapi pagi ini telepon di meja kerjaku berdering. Dengan malas membayangkan suara seseorang di Jakarta aku mengangkatnya.
”Bisa bicara dengan ibu Chiara?”, sebuah suara yang kukenal.
”Ada apa Efri?”, jawabku langsung mengenalinya.
”Kak, sini kak. Si Roni berantem ma Efan”, suara Efri terdengar begitu cemas dilatar belakangi suara beberapa orang yang berteriak.
”Di rumah Ef? Kenapa?”, tanyaku cemas.
”Ini si Efan dihajar ma Roni, Kak. Ayo cepat ke sini!”, sahutnya lagi sambil berteriak-teriak mencoba melerai mereka.
“Aduh aku nda bisa keluar ini lagi kerja. Ntar aja sorean ya”, sahutku mencoba mencari alasan.
Dan selanjutnya percakapan beralih ke Ika karena Efri begitu histeris dengan keadaan Efan yang dihajar habis-habisan oleh Roni tanpa perlawanan.
Aku tak ingin memikirkannya. Aku merasakan sakit yang begitu kuat. Kenapa harus jadi seperti ini?
Pekerjaan sore itu aku akhiri dengan lebih cepat, tanpa sempat berbasa-basi dengan Joko, Pak Herdi, Diki dan lainnya.
Aku tak mau Terus memikirkanmu, Efan.
Jangan menanam bayangmu di kepalaku.
PS: ini hanya masa lalu