Archive for March, 2009

Tersenyumlah

Monday, March 30th, 2009

the-smile-stone-award

tersenyumlah julie…

karena ketika enrico baru membuka matanya ia tersenyum memandangku dan berkata “mama ntar beli kue ya pulang kerja” dengan gayanya yang lucu.

karena ingat semalam enrico mencoba merayuku, dia bilang “mama jangan nangis yaa mama cantik “.

karena enrico mencium tangan dan kedua pipiku sebelum aku berangkat kerja tapi setelah itu menangis karena ditinggal mamanya.

karena kang bejo yang menyapu jalanan sekitar Puri Mall menyapaku dengan riang meskipun ia kelihatan lelah tetapi ia senang karena katanya pekerjaannya sudah selesai.

karena kak Tatie telfon dan ngabarin bahwa puisi buat buku yasin 40 hari ayahku sudah hampir rampung semua termasuk puisiku.

karena produk yang aku titip ke lies udah masuk di tokonya dan bosku segera memanggilku untuk meeting dan dia senang banget (apakah akan ada bonus susulan?)

karena baca postingan si luvjoy tentang si ganteng maut.

karena ada seorang lelaki yang selalu membuatku tersenyum dan mengatakan bahwa aku bisa mempercayainya.

karena aku memiliki dua orang lelaki yang aku sayangi meskipun aku telah kehilangan orang-orang yang aku cintai.

karena bisa ngerjain peer dari kang Aldie ini.

Beginilah aturan mainnya:

1. Blogger yang mendapat Award dan PR ini harus memajang banner di blognya
2. Tautkan link blog yang memberi Award dan PR pada banner tersebut
3. Nominasikan minimal 7 Blogger untuk menerima Award dan PR selanjutnya, dan pastikan mereka benar-benar menerima pemberitahuan nominasi itu
4. Sebutkan 10 hal yang membuatmu tersenyum hari ini
5. Pastikan peraturan ini diposting Award dan nominasi kamu

lalu apakah peer ini akan kulimpahkan lagi?????

sesuai aturannya okelah, jadi buat Rianku, Ella, Joel, Idana, andivan, rizwal dan Vita, kerjain yaa peernyaa.

pentingkah aku - part 3

Friday, March 27th, 2009

Philia membanting pintu kamarnya, menyurukkan tubuhnya ke atas kasur, membenamkan wajahnya kuat-kuat pada bantal bersarung bunga-bunga pink. Tangan kanannya meraba-raba mencari boneka beruang coklat yang biasa dipeluknya setiap tidur. Dan ketika ia mampu menyentuh teddy bear itu, dengan sekuat tenaga, Philia melemparkannya ke arah lemari.

Hari ini sudah ketiga kalinya Shigel tak mau menjawab telfon, dan ketika ia berusaha mencari tau tentang kabar kekasihnya itu melalui Vibri (Vibrio comma), yang didapatnya hanya kedikkan bahu dari sang cewe kutubuku penyebab kolera.

Belum habis kesalnya pada Shigel, ia baru mendengar kalau Samuel kekasih cadangannya juga sekarang ini kabarnya tengah asik mencari perhatian Tania (Clostridium tetani), yang benar saja? Tania? Sama sekali tak masuk kelas wanita-wanita elegan setipe dia. Oke memang dia salah karena telah coba-coba menduakan Shigel, tapi kenapa harus seperti ini? Samuel itu kan Cuma hal iseng untuk mengisi kekosongan ketika Shigel begitu sibuk dengan kegiatan penelitiannya??

Apakah Shigel pernah berpikir bahwa ia begitu kesepian dan butuh teman bicara dan jalan-jalan?
Shigel terlalu egois menurutnya. Dan hey, kenapa harus peduli manusia akan mati atau tidak setelah kita infeksi? Tapi Philia juga tak bisa menyangkal bahwa dia begitu mencintai lelaki itu. Shigel adalah sosok paling cool dan paling sempurna di matanya.

Pelan-pelan Philia mengangkat wajahnya dari bantal, menyeka airmata dan merapikan rambutnya. Rasanya ia tau bagaimana cara meraih hati Shigel kembali. Ia berdiri dan beranjak ke cermin, dipandanginya wajahnya yang cantik dan tersenyum.

***

Ketika beranjak dari ruangan dr. Budi, kerutan di kening Shigel rasanya bertambah sepuluh kali lipat. Tak habis pikirnya kenapa tiba-tiba sang ibu pasien begitu ngotot mengatakan bahwa anaknya terkena alergi protein susu. Ia tak sabar ingin tau pengobatan sang anak. Maka diam-diam Shigel mengikuti sang ibu pulang.

Rumah yang mereka tempati hanya sebuah rumah mungil bercat putih tanpa pagar dan pekarangan. Tapi bila dilihat dari luar, rumah itu kelihatan asri dan bersih. Apalagi bila kita masuk ke dalamnya. Sang penghuni rumah sepertinya tak membiarkan sehelai debu pun mengotori bagian-bagian rumah itu.
Tapi sang ibu tak tau bahwa pengasuh anaknya sering tak mendengarkan instruksi yang dia selalu berikan sebelum berangkat kerja.

Shigel menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan, iya menempatkan dirinya di kamar tidur kali ini. Sang bayi, Ardano masih sambil tertawa,bermain-main dengan ibunya. Dan saat ini adalah waktunya minum obat. Seperti yang ia dengar dan lihat, ibu Vera menyetujui untuk penggantian antibiotik dan malah tadi di apotek ia membeli susu alergi protein.

Kita lihat siapa yang lebih kuat, Shigel dalam hati berkata. Mudah-mudahan si anak memang tak mempan antibiotik apapun karena disentri yang ia infeksikan telah begitu parah.

Setelah sejam lebih memberikan obatnya, ibu Vera membuatkan susu untuk Ardano, susu alergi yang harganya cukup menguras kantong itu tak ada artinya bagi dia. Ardano begitu ceria dan tersenyum menerima botol susunya, ia kelihatan sangat haus tapi ketika pertama menyedot cairan susu yang rasanya masih asing, ia sempat memasang tampang aneh beberapa jenak lalu tak peduli dan mulai minum lagi dari botol susunya.

***

Ibu Vera berulang kali memeriksa bagian dalam diaper Ardano, malam itu bahkan ia tak sedetik pun memejamkan mata meski sang suami telah mengingatkannya untuk beristirahat.
Ketika untuk ketiga kalinya ia mengganti diaper anaknya karena masih saja mengeluarkan darah segar sedikit-sedikit akhirnya ibu Vera tak mampu menahan keletihan dan rasa kantuk yang menyerangnya.

Ia terjaga pagi-pagi sekali dan ingat bahwa terakhir ia memeriksa dan mengganti diaper Ardano pada pukul 1 malam, selama itu ia telah membuatkan susu tiga kali.

Pelan-pelan ia bangun dan memandangi wajah anaknya yang begitu polos tertidur. Dengan jantung yang berpacu cepat, ia mengintip ke dalam diaper, hatinya bersorak karena tak ada kotoran apapun di situ. Tapi ia tak mau senang dulu karena ia akan menunggu sampai siang bahkan sampai sore untuk memastikan bahwa anaknya telah sembuh.

pentingkah aku?-part 2

Wednesday, March 25th, 2009

Dokter Budi membuka jas putihnya dan meletakkannya begitu saja di atas kursi. Hari yang melelahkan. Berpuluh pasien telah ditanganinya sore ini dan kebanyakan dari mereka terkena diare.

Dokter Budi adalah dokter spesialis anak yang masih muda dan cekatan. Meski baru beberapa tahun menjadi dokter praktek di rumah sakit ini tapi pasiennya sudah cukup banyak karena kebanyakan diagnosa dan terapi yang diberikannya tepat.

Tetapi hari ini dokter Budi agak sedikit kewalahan dengan seorang pasien bernama Ardano yang datang dengan keluhan buang air besar berdarah. Sekilas tentu keluhan ini akan didiagnosa sebagai disentri namun ternyata pasien tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut dan sebelumnya telah datang padanya dengan terapi yang dia berikan dan tak kunjung hilang setelah hampir 5 hari.

Ardano tidak demam tinggi seperti yang seharusnya ketika seseorang terinfeksi disentri. Dia malah terlihat sehat-sehat saja dan ceria. Hanya ibunya yang terus menangis, dokter Budi sangat iba dengan ibu sang anak karena tak hentinya ia berkeras bahwa sang anak bukan terkena disentri tetapi hanya alergi protein susu. Sang ibu berani memberikan masukan karena ia seorang apoteker yang sedikit banyak tau tentang penyakit dan obat.

Tapi biasanya alergi protein susu sapi menyertakan gejala merah-merah pada kulitnya dan ini tak terlihat pada Ardano. Dokter Budi telah menyarankan sang ibu untuk kembali setelah Ardano di USG perutnya. Dokter Budi merasa kecewa karena pengobatan yang ia berikan pada Ardano tak mampu mengurangi darah yang keluar bahkan si ibu bilang darahnya semakin kental dan berbuih.

Dari beberapa literatur, ada beberapa kasus alergi protein yang disertai buang air besar yang berdarah, tapi itu sangat jarang. Apakah si ibu yang benar dalam hal ini? Dokter Budi merasa terlihat bodoh setiap berhadapan dengan wanita ini.

Tiba-tiba suster Vina melongokkan kepalanya di pintu,

“Dok, ibu Vera, pasien Ardano ingin bertemu”, sahutnya membuyarkan pikiran-pikirannya.

“Silakan”, jawabnya.

Dan dalam hitungan detik, seorang ibu muda yang menggendong seorang balita berumur 4 bulan telah hadir di hadapannya membawa amplop coklat besar berisi hasil USG.
Dokter Budi mengenakan jas putihnya, mengambil sikap layaknya seorang dokter yang profesional.

”gimana ibu Vera?”, tanyanya lembut
Ardano mengerling dengan matanya yang bulat menunjukkan ekspresi lucu tetapi seperti kesakitan.

”ini hasilnya dokter, dari dokter Roslina, sepertinya tidak ada kelainan di usus kecil maupun besar, saya kembali pada kesimpulan awal, hanya alergi protein susu”, sahut sang ibu lancar.
Lihat, betapa pintarnya dia, dan aku terlihat bodoh di depannya, sahut dokter Budi dalam hati.

”saya akan pelajari dulu lebih lanjut ibu, sementara pengobatan ini saya ganti dulu, antibiotiknya diganti dengan cefixime, bagaimana?”, dokter Budi menjawab dengan terbata.

”sampai kapan dokter ingin mencoba-coba antibiotik pada anak saya? Saya akan setuju dengan pengobatan ini tapi saya juga akan mengganti susu anak saya dengan susu khusus alergi protein”, sahutnya tak mau kalah.

Setelah berdebat beberapa kali akhirnya disepakati bahwa pengobatan dilanjutkan dengan antibiotik dan penggantian susu. Ibu Vera dan anaknya pamit meninggalkan dokter Budi yang terlihat semakin lelah dengan keringat di dahinya.

Shigel yang sedari tadi hanya melihat adegan itu sangat kecewa pada dokter Budi, karena membiarkan sang Ibu mengalihkan hasil diagnosa dari disentri ke alergi susu. Padahal Shigel ingat betul ketika ia mencoba menginfeksi sang anak saat pengasuhnya tak mencuci bersih tangannya ketika membuatkan susu formula.

Sungguh sia-sia jika hasil akhirnya tak seperti keinginan Shigel. Mengapa kali ini pun dia harus bersaing dengan reseptor histamin penyebab alergi. Tak habis pikir.
t

Pentingkah aku?

Tuesday, March 24th, 2009

Shigel (Shigella dysentriae) sedang bermalas-malasan di teras rumahnya. Berulang-ulang mama memanggilnya untuk makan siang. Tapi sedikitpun ia tak menggubris panggilan mama.
Suasana hatinya yang kacau saat itu membuat keinginannya untuk makan tak ada sama sekali.

Sudah berulang-ulang ia mencoba menginfeksi beberapa manusia jorok yang tinggal dekat kali Ciliwung tapi hanya dua tiga orang yang benar-benar terinfeksi parah. Apakah kekuatannya sebagai bakteri telah hilang?

Shigel dilahirkan ke dunia sebagai bakteri berbentuk batang yang mengkhusukan dirinya sebagai bakteri penyebab penyakit disentri.
Belakangan ia semakin tak mampu melawan dunia kedokteran yang semakin banyak menghasilkan obat-obat penyembuh disentri.
Belum lagi persaingan dengan keluarga Amoeba, Eschericia coli dan Salmonella yang terkadang mampu menciptakan penyakit yang sama dengan keluarga mereka. Saat ini bahkan Eschericia semakin populer namanya karena kebanyakan ibu-ibu melaporkan bayi mereka terkena diare.

Kenapa semua orang terlalu sibuk membicarakan diare? Padahal penyakit disentri itu lebih hebat dan mematikan dibandingkan diare yang terlalu umum.
Shigel semakin gundah hatinya memikirkan semua itu.

Tiba-tiba hape mungilnya berdering. Demi melihat sebuah nama yang tertera di sana ia semakin gundah. Padahal saat itu yang menelfon adalah Philia (Haemophilus influenza) kekasihnya sang bakteri penyebab influenza.
Bukan karena Philia juga sedang berusaha beralih dari bakteri penyebab flu menjadi disentri, tetapi belakangan kabar bahwa kekasihnya itu sering jalan dengan Samuel (Salmonella typhosa) semakin sering dan sepertinya kabar itu tak hanya sekedar rumor.

Shigel tak ingin menambah panjang daftar kegundahannya dengan mendengar suara Philia yang selalu manja dan merayu. Dasar wanita, semuanya selalu sama, manis di depan, mentertawakan di belakang.

Apalagi yang harus aku lakukan? Pikirnya. Beberapa kali ia mencoba mengintip kegiatan para mahasiswa kedokteran di RSU Cipto Mangunkusumo yang terkenal paling ramai dengan berbagai macam kasus termasuk disentri. Tapi sepertinya belakangan ini dokter-dokter di sana hanya mengeluarkan antibiotika yang sama Trimetoprim, dan memang itulah obat yang tepat. Padahal tujuan akhir Shigel adalah membuat anak-anak kecil dan orang-orang yang terkena disentri tak tertolong, itu akan makin menaikkan namanya dan keluarganya sebagai bakteri yang sangat perkasa karena tak mampu dikalahkan dengan obat-obatan buatan manusia.

Tetapi, bukan Shigel namanya jika menyerah. Ia terlahir sebagai bakteri patogen yang tak gampang menyerah oleh tangan-tangan manusia yang menyebut diri mereka dokter dan apoteker.
Ia memutuskan untuk mencari informasi dari buku dan internet.

lelaki bermata bintang

Thursday, March 19th, 2009

senja mengalir berwarna jingga
langit melukis dindingnya dengan semburat abu-abu keperakan
satu bintang bersinar kecil mencoba mengalahkan bias cahaya matahari
pendar keemasannya mengingatkanku pada kerlip matamu
yang tak pernah redup tiap aku mengalih pandang tepat di maniknya

lelaki bermata bintang,
yang mengubah kapas-kapas awan gelap menjadi putih bergelombang di langit biru jernih
menguatkan binar pelangi di lepas cakrawala hatiku

untuk lelakiku, thank’s a lot.

Many thanks to

Sunday, March 15th, 2009

Semua yang hidup akan merasakan mati.

Ucapan terima kasih yang begitu besar aku persembahkan untuk kalian semua teman-teman dblogger yang telah memberiku dukungan dan kekuatan ketika aku merasa sedih dan jatuh.
Untuk Ella my lovely sister sekaligus sahabat terbaikku, yang memberikan kedua lengannya dan bahunya tempat aku menangis, yang memberikan segenap kasih sayang dan perhatiannya untukku. Thanks karena tanpa dirimu aku ga tau harus berbuat apa. Thanks juga buat tiketnya (bisa ngutang dulu hehehe).
Untuk adikku idana, yang selalu mengupdate keadaanku sejak jumat kehilangan itu sampai hari ini, dan selalu memberikan dorongan untuk kembali menjadi julie yang biasanya.
Untuk dua orang yang begitu sehati, miss gothic dan lelakinya.
Thanks Riena karena mewakiliku untuk ikut mensholatkan jenazah ayah, thanks udah datang memberiku kekuatan. Terima kasih untuk kalian berdua.
Terima kasih yang begitu besar untuk teman-teman yang menelfon dan mengirim message, untuk Lies, Mas Karmin, Hasby, Mas Ari, EMiy, Putri, Moulin, Asri, Lemontea, ucie, cyperus, dayu, dina, lischantik, hilman, moel, depz, rizkysutji, wewenk, aribicara, dan semuanya barangkali ada yang terlupa maaf ya.
Untuk sang bapak yang begitu baik hati, Pak Budiono, thanks messagenyanya Pak.
Dan tentu saja untuk lelaki yang tak henti memberiku kekuatan dan kasih sayangnya untuk selalu ingat pada Tuhan dan tak larut dalam airmata. Dan memberikan kedua lengannya untuk tempatku berteduh selalu. Thanks a lot.

Ketika Tuhan telah memilih ummatNya untuk diberikan cobaan, maka Dialah yang tau bahwa itu yang terbaik. Dan ketika ummatNya mampu melewati cobaan itu dengan tetap bersyukur maka mereka adalah ummatNya yang terpilih.
Aku kehilangan ibu, suami, dan ayah dalam waktu kurang dari setahun. Aku adalah orang terpilih. Aku dengan kekuatanMu, insya Allah akan mampu melewati semua ini. Tentunya dengan kekuatan dari semua dbloggers juga.

Terima kasih semuanya……….

aku mencintaimu ibu

Thursday, March 12th, 2009

ibu,
apa kabarmu hari ini?
aku menuliskan surat ini dengan perasaan rindu yang begitu besar membuncah
masih ingatkah kau terakhir kita bertemu?
aku tak pernah melupakan tanganmu yang memelukku hangat dengan mata berkaca-kaca mengusap rambutku dan menciumku, lalu katamu “Jul, ingat pesan ibu, jaga enrico dan kuatlah di sana”
dan tak lupa mencium enricoku yang saat itu belum pun genap dua bulan usianya.
kenapa itu harus jadi pertemuan terakhir kita ya bu?
kadang-kadang aku merasa kesal karena begitu keras hati tak mau mendengarmu untuk tetap tinggal di rumah besar kita, tapi ini semua tak perlu disesali kan bu?
ibu,
aku menuliskan surat ini juga dengan mata yang berkaca-kaca, seperti matamu setiap memeluk semua anak-anakmu.
maafkan aku ibu, karena ketika dulu aku pernah meragukan cintamu, ketika dulu aku pernah berpikir bahwa anak kesayanganmu hanya abang, karena kau begitu bangga setiap bercerita tentang dia, matamu penuh dengan rasa cinta.
tapi ternyata,
kau juga bangga padaku, kau juga menceritakan segala sesuatu tentang aku dengan tatapan mata penuh cinta seperti itu. bahkan kau anggap aku anak paling cantik di antara 6 anak perempuanmu.
ibu,
aku menuliskan surat ini untuk melanjutkan suratku buatmu yang entah kenapa dengan bodohnya tak pernah aku kirimkan sampai waktu terakhirmu, tapi aku, abak, kakak2, abang dan adik, kami semua meletakkan suratku itu di atas bantal kesayanganmu, kau sudah membacanya kan Bu?
jangan sedih dengan isi surat itu,
aku dan enrico sudah tak bersama dia lagi, Bu.
aku harap semua ini tak membuatmu bersedih juga.
ibu,
meskipun aku tak bisa menatap matamu lagi, meskipun aku tak mampu memeluk tubuhmu, meskipun tak sempat aku katakan betapa aku merindukanmu, meskipun aku tak sempat memohon maaf karena telah membuat kau menangis,
ketahuilah,
aku selalu mencintaimu
aku berjanji aku juga akan selalu menjaga enrico dan memberikan kasih sayang seperti yang selalu kau berikan padaku
aku mencintaimu seperti ini
dan tak akan pernah berakhir..

kupersembahkan untuk ibuku tercinta menjelang setahun kepergiannya..

Hilang

Wednesday, March 11th, 2009

ketika tak mampu menjelaskan sebuah perasaan yang berpusar begitu kuat di dalam hati
ketika begitu besarnya ketakutan memaksa pikiran-pikiranku
ketika kekuatan yang biasanya berpendar begitu besar menjadi pudar dan menghilang
ketika itu aku merasa limbung dan hilang
ketika itu aku tak mampu berpegang dan keletihan
ketika aku merasa jatuh dan semakin tak pasti
kelelahan
dan ingin pergi

aku juga mencintaimu ayah

Thursday, March 5th, 2009

ayah,
pagi ini aku tersentak kabar dirimu
sakit dan harus dalam perawatan very very intensive
makanya jangan suka minum kopi
jangan suka makan daging kambing
jangan suka bandel kalo dikasi tau anak-anakmu yang bandel ini

ayah,
jangan pergi yaa aku butuh kekuatanmu…
cepat sembuh
aku mencintaimu
kami semua mencintaimu

tak perlu ada cinta

Monday, March 2nd, 2009

daun-daun kering jatuh dari dahan
begitu ringan terbang menjauh menyentuh tanah
dipermainkan angin
burung gereja dengan kaki-kaki kecil
melompat riang sambil bersenandung
langit sore berwarna biru terang
dengan kapas-kapas awan putih bergelombang
matahari tersenyum ramah dan hangat
secangkir coklat panas di atas meja kecil di sudut kamar
kertas-kertas putih persegi penuh coretan
huruf-huruf lepas tersambung membeku di ujung jariku

ketika beralih pandang
aku menemukan namamu di segala penjuru
tiap kali tertulis, aku hapus satu-persatu
tak ingin jatuh cinta aku
denganmu atau siapapun juga

biar tak pernah ada luka,
tak perlu ada cinta