Dokter Budi membuka jas putihnya dan meletakkannya begitu saja di atas kursi. Hari yang melelahkan. Berpuluh pasien telah ditanganinya sore ini dan kebanyakan dari mereka terkena diare.
Dokter Budi adalah dokter spesialis anak yang masih muda dan cekatan. Meski baru beberapa tahun menjadi dokter praktek di rumah sakit ini tapi pasiennya sudah cukup banyak karena kebanyakan diagnosa dan terapi yang diberikannya tepat.
Tetapi hari ini dokter Budi agak sedikit kewalahan dengan seorang pasien bernama Ardano yang datang dengan keluhan buang air besar berdarah. Sekilas tentu keluhan ini akan didiagnosa sebagai disentri namun ternyata pasien tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut dan sebelumnya telah datang padanya dengan terapi yang dia berikan dan tak kunjung hilang setelah hampir 5 hari.
Ardano tidak demam tinggi seperti yang seharusnya ketika seseorang terinfeksi disentri. Dia malah terlihat sehat-sehat saja dan ceria. Hanya ibunya yang terus menangis, dokter Budi sangat iba dengan ibu sang anak karena tak hentinya ia berkeras bahwa sang anak bukan terkena disentri tetapi hanya alergi protein susu. Sang ibu berani memberikan masukan karena ia seorang apoteker yang sedikit banyak tau tentang penyakit dan obat.
Tapi biasanya alergi protein susu sapi menyertakan gejala merah-merah pada kulitnya dan ini tak terlihat pada Ardano. Dokter Budi telah menyarankan sang ibu untuk kembali setelah Ardano di USG perutnya. Dokter Budi merasa kecewa karena pengobatan yang ia berikan pada Ardano tak mampu mengurangi darah yang keluar bahkan si ibu bilang darahnya semakin kental dan berbuih.
Dari beberapa literatur, ada beberapa kasus alergi protein yang disertai buang air besar yang berdarah, tapi itu sangat jarang. Apakah si ibu yang benar dalam hal ini? Dokter Budi merasa terlihat bodoh setiap berhadapan dengan wanita ini.
Tiba-tiba suster Vina melongokkan kepalanya di pintu,
“Dok, ibu Vera, pasien Ardano ingin bertemu”, sahutnya membuyarkan pikiran-pikirannya.
“Silakan”, jawabnya.
Dan dalam hitungan detik, seorang ibu muda yang menggendong seorang balita berumur 4 bulan telah hadir di hadapannya membawa amplop coklat besar berisi hasil USG.
Dokter Budi mengenakan jas putihnya, mengambil sikap layaknya seorang dokter yang profesional.
”gimana ibu Vera?”, tanyanya lembut
Ardano mengerling dengan matanya yang bulat menunjukkan ekspresi lucu tetapi seperti kesakitan.
”ini hasilnya dokter, dari dokter Roslina, sepertinya tidak ada kelainan di usus kecil maupun besar, saya kembali pada kesimpulan awal, hanya alergi protein susu”, sahut sang ibu lancar.
Lihat, betapa pintarnya dia, dan aku terlihat bodoh di depannya, sahut dokter Budi dalam hati.
”saya akan pelajari dulu lebih lanjut ibu, sementara pengobatan ini saya ganti dulu, antibiotiknya diganti dengan cefixime, bagaimana?”, dokter Budi menjawab dengan terbata.
”sampai kapan dokter ingin mencoba-coba antibiotik pada anak saya? Saya akan setuju dengan pengobatan ini tapi saya juga akan mengganti susu anak saya dengan susu khusus alergi protein”, sahutnya tak mau kalah.
Setelah berdebat beberapa kali akhirnya disepakati bahwa pengobatan dilanjutkan dengan antibiotik dan penggantian susu. Ibu Vera dan anaknya pamit meninggalkan dokter Budi yang terlihat semakin lelah dengan keringat di dahinya.
Shigel yang sedari tadi hanya melihat adegan itu sangat kecewa pada dokter Budi, karena membiarkan sang Ibu mengalihkan hasil diagnosa dari disentri ke alergi susu. Padahal Shigel ingat betul ketika ia mencoba menginfeksi sang anak saat pengasuhnya tak mencuci bersih tangannya ketika membuatkan susu formula.
Sungguh sia-sia jika hasil akhirnya tak seperti keinginan Shigel. Mengapa kali ini pun dia harus bersaing dengan reseptor histamin penyebab alergi. Tak habis pikir.
t