sempat terpikir di otakku yang tak kecil sebuah keraguan yang menyerang menusuk ke dalam rongga hati ketika seorang teman mempertanyakan,
“memang siapa yang bisa membuktikan kalo hari kiamat itu ada?”
sebuah pemikiran yang tak pernah melintas,
ide kecil yang begitu besar.
bukan berarti teman ini tak lagi memeluk agama dan kepercayaan yang sama denganku, namun ia dengan sertamerta mulai berhasil menginfluenceku.
jiwa detektif yang telah diturunkan oleh Hercule Poirot ke dalam sel-sel kelabu kecil di otakku pun bekerja (padahal cuma sekelas Frederick Trotteville).
tak hanya mempertanyakan hari akhir yang sering dijadikan tebak-tebakan oleh hampir semua orang, tapi aku mulai dengan parah mempertanyakan keberadaan Tuhan.
mulai mencari-cari literatur, berbincang-bincang sok serius dengan Philip seorang Katolik dan Robert seorag Protestan, mengandalkan kemampuanku sendiri untuk berdiskusi tentang Tuhan sebagai seorang muslim.
mencuri waktu untuk membaca buku “Para Pencari Tuhan” karena dilarang ayahku, takut aku tak mampu memahaminya lalu berubah menjadi musyrik.
namun pada akhirnya aku terkesima dan sadar, bahwa Tuhan begitu jelas keberadaannya, nyata, mengalir dalam darahku, menyertai tiap hela nafasku.
“sistem maha indah yang terdiri atas matahari, planet, dan komet-komet ini hanya mungkin berasal dari rancangan dan kekuasaan Wujud yang cerdas dan perkasa…Dia abadi dan tak terbatas, maha kuasa dan maha mengetahui..keberadaannya tak berawal dan tak berakhir, kehadirannya mencakup segala ketakterbatasan; Dia mengatur segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu yang akan atau dapat dilakukan…” (Sir Isaac Newton)