Archive forApril, 2009

Kekecewaan Kartini

Ketika kembali mengitar pandang dan hati pada bumi Indonesia bertahun-tahun kemudian, perasaan Kartini mencelos.

Ada sedikit sesal yang memerih di ruang hatinya.
Dulu, tak sebersit keraguan untuk memajukan kaum yang begitu dipujanya, WANITA. mengangkat derajat kaum ini agar tak selalu dianggap buta aksara dan rela dibodohi lelaki.

kini apa yang diperbuat oleh mereka?
Emansipasi yang sering digaungkan menuntut persamaan gender, saat ini telah begitu absurd. Wanita dan lelaki menafsirkannya dengan cara mereka sendiri-sendiri.

bila merasa setara dengan lelaki mengapa masih ingin diperlakukan lebih?

Sudahlah, wanita itu jelas-jelas beda dengan lelaki, mulai dari kromosom, hormon, anatomi dan fisiologi yang menjadikan mereka saling melengkapi.
tak perlu selalu menyalahkan lelaki karena ketakpedulian mereka dan tak perlu pula menyalahkan wanita karena kebawelannya.

Kartini menolehkan pandangnya sekali lagi pada sosok wanita-wanita yang berlalu lalang di hadapannya. Ia berbisik pelan,

aku seorang wanita yang ingin dicintai, dimengerti dan dihargai oleh lelaki, dan aku yakin lelaki pun menginginkan hal yang sama.

Comments (58)

pengganti diriku

Tak hentinya aku memohon dalam hati agar kali ini ia tak mengajakku. Rasanya belum hilang penat seharian kemarin wanita ini membawaku berkelana dari pagi hingga malam.

Bukan tak suka aku menemani tubuhnya. Lekukan kaki jenjang dan harum tubuhnya senantiasa merupakan hiburan di sela-sela kelelahanku menapaki jalan-jalan kering beraspal ataupun sisa-sisa air becek selepas hujan.

Biasanya ia memulai kepagian harinya dengan melangkah riang keluar dari pintu rumah kecil ini, melewati jalan setapak sempit di depan teras, melangkah menuju jalanan berpasir dan berkerikil lalu menyeberang ke arah jalan besar beraspal yang tak pernah sepi dengan nyaringnya klakson mobil dan motor.

Yang paling kubenci saat-saat ia membawaku melewati jalan ke arah angkutan umum. Jalanan yang tak bersih sama sekali. Di pojok jalan ada sebongkah tumpukan es bertutup terpal biru yang tentunya membuat jalanan sekitarnya becek, aku selalu melangkahi tempat itu dengan jijik.
Dan bila ia telah mendapat kursi yang nyaman di dalam angkot, aku pun bisa beristirahat sejenak tak perlu melangkah. Kantukku biasanya datang sampai ketika ia mulai membangunkanku untuk melangkah lagi.

Kali ini jalanan yang harus kulalui adalah jalan yang penuh gerobak pedagang makanan, angkot-angkot ngetem dan tukang ojek, membosankan.
Cukup jauh untuk sampai ke perhentian angkot selanjutnya yang harus kami naiki. Tapi biasanya tak lama, karena ia kemudian membawaku menyeberangi jalanan yang lebih ramai dan penuh, masuk ke dalam kompleks perkantoran dengan aspal yang selalu kering, dan kadang-kadang langkahnya lebih cepat karena ia lebih sering terlambat.

Tempat yang ia tuju adalah tempat yang paling kusukai karena tempat ini selalu tenang, dingin dan kering. Meski tak jarang ia membawaku berlari-lari ekcil naik turun tangga. Dan di tempat ini kami biasa berlama-lama hingga hari petang.
Tubuhku telah pulih kembali menemani langkahnya, namun ia tak hirau dengan keadaanku belakangan ini. Aku telah cukup tua menemaninya sejak lima tahun yang lalu.
Dan kemaren selepas magrib, ia membawaku ke tempat banyak teman-temanku yang lain. Ia memilih satu yang tak henti dicobanya kesana kemari lalu membayar dan membawanya pulang.

Pagi ini ia menyentuhku sedikit dengan perasaan sayang, lalu beralih ke kotak biru yang di dalamnya ada sepasang sepatu hitam berhak rendah. Aku sedikit iri ketika melihat ia mengenakannya. Namun mungkin sudah waktunya bagiku untuk beristirahat.
Karena baginya saat ini aku hanyalah sepasang sepatu coklat tua.

Aku mendiami kotak biru itu pada akhirnya.
Dan memejamkan mata.

Untuk sepatu coklat betty barclay-ku
I love u so much

Comments (34)

Letih

malam menghamparkan butiran bintang di atas permadani lembut langit
gemerisik awan yang melangkah pelan-pelan menghapus biru cerah menjadi kelabu
lengkungan tajam bulan sabit menusuk manik mataku

hujan mengguyurkan tetesan dingin yang mengalir menyentuh lepas helaian rambutku menghapus lekatan debu
aku menggigil

seperti matahari yang terdiam suram

menggontaikan telapak kaki yang letih mencari keujungan semesta

Comments (42)

seorang ibu seperti aku

seorang ibu seperti aku
meninggalkan pangeran kecil ketika ia belum membuka matanya
kembali dengan peluh saat bulan menggantikan matahari

seorang ibu seperti aku
hanya mampu menatap sepi dinding bercat putih dengan pangeran kecil terlelap di atas singgasana berkasur tipis
menahan kantuk sesekali sang pangeran terjaga ingin mendekap erat tubuhnya
tak hirau perih dan letih
ingin selalu menuang kasih yang rasanya tak pernah cukup

seorang ibu seperti aku
cukupkah buatmu pangeran kecilku?

Comments (41)

setahun kepergianmu

aku menatap kosong ruang tengah yang lengang
ada dirimu tersenyum di sana
tanganmu yang hangat meraih ringkih tubuhku
tatapanku jatuh di matamu yang tak letih

ibu,
linangan kristal yang mengambang itu
adalah mutiara tak tergantikan

takkan pernah kulipat mimpi
agar kasih sayangmu selalu
erat memelukku

untuk ibuku yang cantik yang telah pergi
kami semua mencintaimu dan merindukanmu

Comments (37)

lelaki dan perempuan dunia maya

dunia maya menghantarkan jiwa-jiwa resah yang berkelana bebas tak mengenal detik yang bergulir.
ketika tumpukan kejenuhan mengukir hari dengan meeting, presentasi, interview dan sebagainya, dunia maya terhampar menggiurkan ingin selalu dibelai, mencuri-curi konsentrasi, mengetuk-ngetuk kepala ingin segera dibuka.
dimulai dari sapaan lembut dan menggoda, wanita dunia maya menemukan sisi liar dirinya untuk diungkapkan pada sang lelaki haus atensi.
tangan-tangan tak mampu menjamah, tapi hati terlipat-lipat resah.
apa maumu lelaki?
hanya kejenuhan sesaat yang terisi gairah singkat.
dan perempuan dunia maya menjerat jiwa-jiwa resah yang tak ingin bertemu di kenyataan.

kupersembahkan pada lelaki dan perempuan yang tak paham arti persahabatan di dunia maya.

Comments (36)

Next entries »