Archive for May, 2009

kekasih rahasia (2)

Wednesday, May 27th, 2009

Akmal
kamar kost
medan, 10.00 wib

hari ini tak ada berhasrat kuliah. rapat senat keparat yang diam-diam membunuh keinginan yang memang tak seberapa itu. Jam dua siang masih lama. Tak ada yang bisa aku lakukan selain mengeram di kamar. Rutinitas akhir bulan yang entah kapan berakhir: kiriman telat. Bahkan tak ada sisa selembar pun untuk sekedar membayar segelas minuman

dari kamar sebelah aku lihat rifan dan pacarnya keluar. sudah bukan rahasia lagi di kost-kostan ini berubah menjadi tempat persetubuhan liar mirip di taman firdaus. Semua mahfum, termasuk aku. Hanya sesekali saja melakukan adegan ciuman atau pelukan yang agak liar.

dan liza juga bukan tipe perempuan agresif yang menginginkan lebih.
mungkin juga karena aku tak mencintainya sama sekali jadi aku tak berhasrat lebih pada liza. padahal semua teman-temanku mengatakan bahwa dia cantik. mungkin juga karena rini. liza yang cantik dan rini yang manis. aku mendapatkan kemewahan dari liza dan kenikmatan dari rini.

“bang Akmal, santai bang…”, sapa Rifan sembari mengunci pintu kamarnya.
“iya nih Fan”, jawabku.
“gak kampus bang?”, tanyaya.
“sebentar jam dua aja”, jawabku.
“aku duluan ya bang”, sahutnya dan berlalu bersama pacarnya.

Setahuku pacar Rifan itu juga tunangannya. Dan dia anak pamannya. Jadi semacam perjodohan adat batak. dan rifan juga dibiayai oleh keluarga pamannya itu. Tak heran bila dia begitu patuh pada pacarnya eh tunangannya itu. seperti sedikit takut.

Rifan sudah setahun ini ngekos di sebelah kamarku. Dia mahasiswa jurusan Administrasi Negara semester 8, sebentar lagi menyelesaikan kuliahnya. Rifan sangat tampan, tak heran teman-teman di sini memanggilnya si tampan. Apalagi tubuhnya atletis. Yang aku dengar sebenarnya dia tak mencintai tunangannya itu.

***

Liza dan Akmal
ruang senat fakultas MIPA
medan, 13.45 wib

“aku ada praktikum jam dua, Al”
“kan mau rapat panitia”
“yawdah ikut aja sepakatlah”
“nanti pulang ke rumahku bisa?”
“dah kemaleman besok aja yaa”
“oke”

Aku melambaikan tangan segera. bergegas menuju ke arah laboratorium kimia organik sampai aku yakinkan bahwa Akmal tak memperhatikan aku lagi, lalu secepatnya mengambil jalan memutari lab ilmu-ilmu dasar ke arah belakang lab ilmu penelitian, melewati lapangan rumput dan mencari becak dayung. satu becak menghampiriku.

“Bang, ke dokter mansur”, sahutku terengah-engah.
“ayo dek”, sahut si abang becak.

kali ini aku begitu bersemangat, karena aku tau Akmal akan cukup lama berada di kampus dan waktuku akan cukup panjang bersama Rifan. Aku merogoh hape dari dalam tas, ada dua pesan yang belum kubaca.

+628121078071
cepat kesini sayang, aku kangen

+628121078071
bang akmal di sana kan?

aku tergesa-gesa membalasnya,

aku menuju ke sana, tunggu ya sayang

tak sampai lima menit, becak dayung yang aku tumpangi berhenti di sebuah rumah kost berlantai dua, aku membayar an setengah berlari menuju ke lantai dua, di kamar paling ujung aku menghentikan langkah, mengetuk pintu.

***

Rifan dan Liza
kamar kost rifan
Medan, 14.50

suara ketukan halus di pintu. itu pasti dia. tak salah lagi, dia baru saja mengirim pesan dua menit yang lalu. jantungku berdebar kencang. Liza, kau selalu membuatku berdebar.

aku membuka pintu dan menemukannya di sana. ia mengenakan tshirt putih dan rok kotak2 biru selutut. dia cantik. selalu cantik buatku. aku menariknya ke dalam, kupalingkan pandangan ke sekitar kost an. sepi. aku menutup pintu.

ketika berbalik, Liza telah menarikku ke dalam pelukannya, tangannya meraih leherku, bibirnya terbuka mengundang bibirku untuk menyentuhnya. aku merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhnya, dan ia menyentakkan celana pendek yang kukenakan. kembali kami bergelung dalam balutan nafsu, penuh hasrat.

aku tak ingin menukar momen ini dengan apapun. aku ingin waktu berhenti berdetak.

***

Rini
jl. iskandar muda
medan, 15.00 wib

berpuluh pasang baju, celana dan rok telah aku coba hari ini tapi rasanya semua tak cocok untuk kukenakan. kenapa sih? apa karena aku akan bertemu Akmal malam ini?

hm..hm… dia pasti datang selepas rapat senatnya. tapi, membayangkan ia hari ini ada di ruang rapat itu bersama Liza saja aku tak tahan.
bukannya aku tak percaya bila ia mencintaiku. tapi lihat saja mereka berdua seperti tak terpisahkan. sudah enam tahun bersama.
dan akmal tak berusaha memutuskan Liza hanya karena aku hadir dalam hidupnya. jangan-jangan itu hanya rayuannya agar bisa jalan denganku dan Liza sekaligus.

Siapa yang tak bangga punya pacar Liza? Bahkan ketika ia pernah begitu dekat dengan Efan pun, Akmal tak percaya padaku bahwa Liza selingkuh. Tak ada bukti kedekatan mereka lebih dari teman, itu katanya. Sebenarnya Akmal juga tak salah. Tapi, yang benar saja, aku telah tiga tahun menunggu kemungkinan untuk menjadi kekasihnya dan itu tak pernah terwujud.

Lagi-lagi aku curiga semua ini karena Akmal masih ingin hidup nyaman. Bukan saja rajin memberi hadiah, Liza juga seperti dompet berjalan buat Akmal. Tapi lihat saja, sebentar lagi aku akan bekerja di sebuah bank swasta dan Akmal tak perlu terus menerus menempel pada Liza, karena aku akan mampu menggantikan Liza memberi semua hadiah-hadiah itu.

kekasih rahasia

Tuesday, May 26th, 2009

Rifan dan Liza
kamar kost Rifan
22 januari 2004
medan, 08.30 wib

Tok. Tok. Tok.
“Fan…”. Ketukan di pintu.
“Ya…”, sambil berbisik ke telingaku, “sebentar sayang”.

Rifan mengangkat tubuhnya dari atas tubuhku, meraih kain sarung di dekat meja dan berjalan ke arah jendela, mengintip sedikit.

“Bang Akmal”, sahutnya keras sambil menoleh ke arahku dan melambaikan tangan agar aku masuk secepatnya ke kamar mandi.

Dengan berjingkat aku meraih tas, pakaian-pakaianku yang berserakan lalu berjalan ke kamar mandi. Duh, kenapa Akmal harus ke sini?

Aku mendekam di dalam kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu dengan posisi yang sangat tidak enak. Dengan mendekap seluruh pakaianku termasuk bra dan panty, tas yang disampirkan di pundak sebelah kanan. Aku pasti terlihat bodoh plus telanjang.

Begini resikonya berselingkuh dengan teman satu kost pacarku.

Nyiiiit.
Pintu kamar mandi terbuka. Kepala Rifan menyembul begitu saja.

“Sayang…”, ia tersenyum nakal. Menarik tanganku yang sedang cemberut dengan posisi bodoh.
Aku mengikutinya keluar dari kamar mandi, tepatnya pasrah. Ia meraih tas dari pundakku, meletakkannya sembarangan di lantai, merebut semua gumpalan pakaianku dan membuangnya entah ke sebelah mana aku tak ingat karena sepasang bibirnya telah kembali melahap bibirku.

“Maaf ya sayang, pacarmu mengganggu acara kita”, sahutnya bergetar dalam deru nafsu yang tak terbendung.

“Hmmm…”, jawabku, tak mampu berkata lebih karena sentuhan jari-jarinya selanjutnya telah membungkam semua kata-kata yang ingin kuucapkan.
Kami tenggelam dalam alunan gairah yang kami sebut nafas cinta.
Rifan membuatku bergelung dalam ombak-ombak yang memecah di tepi pantai. Menderu dan akhirnya senyap dalam kenikmatan. Berulang-ulang.

***

Liza
kampus MIPA
medan, 14.30 wib

“Liz, minta fotokopian yang tadi”, Vini menyerbu tumpukan kertas yang kupegang.
“Dipinjem Poppy”, sahutku santai membiarkan ia mengacak-acak tumpukan itu.

Lalu melenggang di depan tatapan aneh Vini yang mengekoriku terus.

“Liz, mao kemana?” teriak Vini.
“Perpus”, jawabku setengah berteriak dan melambaikan tangan.
Dan ia pun tak bertanya lagi.

Aku, Liza, mahasiswi jurusan Kimia yang sangat cuek. Tapi semua orang di kampus mengenalku. Aku begitu populer di kampus sebagai si kurus Liza yang selalu aktif dalam semua kegiatan kampus.

Pacarku, Akmal, yang telah bersamaku hampir enam tahun, adalah mahasiswa jurusan Fisika. Kami bertemu dalam salah satu kepanitiaan dari Senat Mahasiswa. Ketika itu aku dan Akmal sama-sama masih mahasiswa baru, dan entah kenapa aku menurut saja saat para senior menjodohkan kami untuk berpacaran. Hasilnya yah seperti ini. Hanya berupa status yang berlangsung cukup lama. Ia tak pernah mencintaiku, dan mungkin aku tak terlalu peduli lagi.

Apakah karena Rifan?
Teringat nama itu, seluruh sel-sel kewanitaanku tersengat. Begitu menggairahkan, seorang Rifan.
Aku menginginkannya. Bahkan saat ini, di tengah-tengah buku perpustakaan yang hampir tak ada tempat lagi saking penuhnya.
Otakku penuh dengan gairah.
Aku meraih hape dari dalam tas, menekan sebuah nomor yang telah begitu sering kuhubungi. Mendengar nada sambung dan suara bas di seberang sana.

“Liza…”. Berbisik.
“Fan..aku ingin bertemu..”.
“Jangan sekarang sayang, ada Wiwid”.
“Oh, maaf”.
“Nanti aku kabarin”.
“Iya”.

Suara klik. Aku tercenung.

***

Rifan dan Wiwid
kampus ISIP
medan, 14.45 wib

“Ayo Bang”, suara Wiwid membuyarkan lamunanku.
“Sebentar, abang ke Senat dulu”, sahutku.

Wiwid mengekori langkahku dengan setengah berlari. Ia bertubuh kecil dan pendek. Hanya sebahuku. Tak lebih. Berbeda sekali dengan Liza. Cantik, tinggi, langsing, berambut ikal sebahu.

Tuhan mempertemukan kami di tempat dan waktu yang salah. Liza adalah pacar Bang Akmal, teman sebelah kamar kost ku. Aku mengenalnya tiga bulan yang lalu, saat ia tengah bertandang ke kamar Bang Akmal. jadi dialah Liza yang sering dibicarakan teman-teman kostku ketika kami bermain sepak takraw sore atau main truf.

Sebelum bertemu orangnya, yang aku tau hanya pacar Bang Akmal adalah Liza, dan mereka bilang dia cantik. Dan aku telah membuktikannya sendiri.

Entah bagaimana awal mulanya, tapi Liza telah berhasil memikat seluruh perhatianku. Semuanya begitu alami terjadi. Dan aku tau ini sangat mustahil mengingat seorang perempuan yang kini terus mengekor di belakangku. Wiwid, dia paribanku.

Dalam adat batak, sejak lahir kita telah memiliki jodoh yang merupakan anak dari tulang (paman) yang disebut pariban.

Dan paribanku adalah Wiwid, selain aku merupakan anak laki-laki tertua orang tuaku, juga karena tulangku telah begitu berjasa pada keluarga kami yang pas-pasan. Maka aku telah cukup tau dan mengerti bahwa aku tak bisa menghindar dari perjodohan ini.

bergelung sepi

Monday, May 25th, 2009

aku tak pernah membayangkan suatu ketika saat aku berusia tiga puluh dua tahun, dengan penuh kesadaran ternyata aku merasa begitu sepi. keceriaan dan tawa yang aku persembahkan pada orang-orang di sekelilingku hanya sebuah presentasi palsu untuk menutupi kerapuhan, aku terlihat kuat, bahagia dan sempurna.

akan hadirkah mereka di jagat berikutnya? selalu tanyaku setiap kali hati mengerat rindu ingin bertemu orang-orang yang kucintai. berulang kali memendam harap yang tak mau pergi, mengelebatkan slide kehidupan bahagiaku ketika mereka semua masih berada di sekelilingku.

pada suatu masa saat aku terpuruk dalam kehilangan yang sangat dalam, sepasang tangan menangkapku dalam pelukannya, menyodorkan kedua bahu dan hatinya untuk tempat aku berteduh. aku merasakan kehangatan, kasih sayang dan cinta yang begitu besar menjadi lentera dalam kegelapan jalanku.

mengenal dan merasa dekat dengannya menjadi semacam rutinitas yang membuat aku bersinar lagi.

namun, semua itu hanya sebentar..
karena ia kembali meninggalkanku
merasakan kehilangan yang tak henti bertubi-tubi
seperti sebuah kebiasaan

seperti bintang yang ingin selalu bercahaya
seperti bumi yang ingin selalu berputar dengan setia
seperti itulah aku

perempuan lain (8)

Friday, May 22nd, 2009

baca juga:
perempuan lain
perempuan lain (2)
perempuan lain (3)
perempuan lain (4)
perempuan lain (5)
perempuan lain (6)
perempuan lain (7)

Surya side

Lina membanting pintu kamar di depan hidungku, dan tak lama aku mendengar isak tangisnya. Kali ini ia masih saja tak berhenti memaksaku untuk mengakui hubungan gelapku dengan Vera. Dan tentu saja aku tak mau mengakuinya.
Duhai perempuan cantik bernama vera, kapan kau kembali menatap mataku??

Dua minggu belakangan, vera tak lagi membalas ajakanku untuk bertemu. Apalagi membayangkan bisa menyentuhnya. Ia benar-benar menyiksaku.

Aku mencoba mencari cara lain untuk bertemu dengannya kemarin sore. Aku bertandang ke rumah damin untuk mencari celah bisa masuk ke kamarnya. Tapi sejak sore ia tak keluar dari kamarnya sampai hampir tengah malam. Dan aku tak ingin mencari masalah dengan Lina jika aku belum juga kembali ke rumah selarut itu. Apalagi sejak ia dengan bawelnya selalu bertanya tentang perempuan yang mengirimkan pesan.

Aku membuka pintu kamar dan melihat Lina dengan posisi tengkurap menangis terisak-isak. Bahunya terguncang-guncang. Aku menghampirinya. Meletakkan tanganku di bahunya. Ia menepisnya.

Aku bukanlah tipe lelaki yang mau berulang-ulang membujuk seorang perempuan. Sebaiknya kubiarkan saja dia menangis.
Aku sedang tak ingin meminta maaf. Aku ingin memikirkan bidadari bernama Vera.

***

Perutku melilit karena lapar. Tapi aku tak akan keluar kamar malam ini. Karena sejak tadi aku tau bahwa Surya sedang nongkrong di rumah Damin. Aku tak tau tepatnya jam berapa dia ada di sana.

Kubuka lemari kayu kecil tempat menyimpan makanan. Syukurlah ada persediaan mie goreng instant, aku makan ini saja sudah cukup untuk mengganjal perutku sampai besok pagi. Daripada aku harus melewati rumah Damin dan menemukan Surya di sana. Aku tak begitu yakin bila menatap matanya, apakah akan sekuat ini mencoba melupakan dia?

Kemudian aku ingat belum membalas satu pesan di inbox, dari Fery. Belakangan sejak pertemuan kami di mall cilandak, beberapa kali Fery berusaha mengajak aku bertemu lagi. Tapi waktuku yang sedikit tak memungkinkan, dan rasanya aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan baru.
Memulai sebuah hubungan baru? Yang benar saja Vera, hubunganmu dengan Surya saja sudah demikian memusingkan, dan belum selesai. Jerit hatiku.
Bagaimana ini? Aku benar-benar bingung.

Aku membalas sms dari Fery.

”fer, maaf ya baru bales, besok aku harus ke rumah sepupu di pamulang”.
Pesanku berupa penolakan halus lagi, ia terus saja mengajakku bertemu.
Tak menunggu lama, satu sms baru masuk, dan tentunya dari Fery.

”sayang sekali, kalo kamu ada waktu lagi kabari aku ya. Biar kita bisa ngobrol-ngobrol seperti kemarin”.
Ia masih berharap, tak heran karena pembicaraan kami begitu hangat dan nyambung. Ia tipe lelaki yang tak sulit diajak bicara dan menjadi akrab. Ia lelaki yang hangat. Bila aku tak berpikir tentang Surya mungkin aku akan segera menyambut ajakan persahabatan atau apapun yang diulurkannya.

“pasti fer, aku akan kabari. Thanks ya”.
Aku mengakhiri pesan pada Fery.

Pikirku menerawang lagi pada pertemuan kami di cilandak, Fery tak saja mencuri perhatianku karena sikap dan penampilannya, tapi dengan cerita tentang keluarganya yang telah membuatku kagum padanya. Ia adalah seorang single parent. Istrinya meninggalkan dia dan anaknya ketika sang anak baru berusia 1 tahun, untuk melarikan diri dan menikah lagi dengan mantan pacarnya.
Sejak itu Fery hanya tinggal dan hidup Berdua dengan buah hatinya, seorang anak Laki-laki bernama Ardano. Dan saat ini Ardano telah berusia 3 tahun. Fery menolak untuk menitipkan Ardano pada neneknya karena ia tak ingin hidup terpisah dari anaknya. Bila ia berangkat kerja, pembantu yang tiap hari datang ke rumahnya berfungsi sekaligus sebagai baby sitter bagi Ardano.

Dan dalam waktu begitu lama, Fery tak juga berusaha mencarikan seorang ibu pengganti buat Ardano, “Belum ada yang sreg”, begitu alasannya padaku. Bagiku sosok dewasa Fery dengan kemandiriannya sebagai orang tua tunggal belum pernah aku temukan. Aku begitu kagum padanya.
Setelah menghabiskan dua cangkir vanilla latte sambil membaca La Tahzan, aku tertidur pulas sampai adzan subuh berkumandang.

***
Lina Side

Itu dia. Baru keluar dari rumahnya. Aku akan mengikutimu, Vera. Aku ingin membuktikan sendiri omongan para tetangga. Kau boleh saja cantik dan punya uang, tapi kau tak boleh mengambil siapa saja apalagi suamiku untuk kau miliki.

Aku menyalakan motor bebek yang kupinjam dari Bang Marbun, kakak iparku. Alasanku hanya ingin ke rumah tante Dewi di pasar minggu. Padahal, aku ingin menguntit perempuan itu. Perempuan yang telah membuat suamiku seperti orang gila. Dia tak tau bahwa aku juga bisa membuat dia gila.

Aku tau perempuan itu setiap harinya naik angkot ke arah Grogol tapi selanjutnya aku tak tau dimana kantornya, rasanya seperti orang bodoh mengekori dia begini. Tapi tak apalah demi memenuhi rasa penasaranku.

Ia pasti tak mengenaliku, karena aku berpakaian seperti laki-laki. Tapi agak repot mengikuti bis sebesar ini di jalan sebesar ini. Apalagi di daerah Slipi yang begitu crowded. Hampir saja aku kehilangan bis besar itu, untungnya ada stiker besar di bagian belakang bis, nomor 46 yang ditempel berwarna biru.

Aku melihatnya turun dan naik ojek, ini akan lebih gampang, aku mengikutinya terus sampai ia turun di sebuah komplek perkantoran yang cukup ramai. Kali ini aku harus membayar karcis dan mengantri. Aku ngebut ke arah kiri dan menemukan vera sedang masuk ke sebuah bangunan bernomor 33. Oh jadi di situ rupanya kau bekerja. Aku akan lebih mudah mencarimu, Vera.

***
Kali ini dengan nomor yang berbeda lagi.

+6281513422532
Baru sampe kantor Ver?

Aku balas,
Iya. Ini siapakah?

+6281513422532
Kamu hari ini pake baju abu-abu kan?

Hah? Dia tau aku baru tiba di kantor, dan dia tau aku pake kemeja abu-abu. Ini sedikit menyeramkan. Aku membalas lagi.
Benar. Kamu siapa ya? Kalo tidak terlalu penting nanti saja dilanjutkan karena aku harus kerja.

+6281513422532
Jangan sombong

Aku tak membalasnya. Aku merasa yakin, dia seorang perempuan dan ini pasti ada hubungannya dengan kebodohanku terlibat kehidupan Surya. Aku mengganti profile hapeku ke silent. Meski ia mengirimkan sepuluh pesan mengancam, aku tak akan peduli.

perempuan lain (7)

Wednesday, May 20th, 2009

nbsp;http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/21/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/26/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/28/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/12/12/pe…

dari pagi tadi hapeku telah diramaikan oleh sms dan telfon dari lelan dan fery, keduanya adalah teman yang aku temukan secara tak sengaja di kolom fesbuk. sebenarnya dibilang tak sengaja juga tak sepenuhnya benar karena mereka adalah teman dari friska, teman esemaku yang sekarang berdomisili di bandung.

ini adalah pertemuan pertama kami.
di coffeeshop salah satu mall besar di daerah cilandak, jakarta selatan, jam 14.00 wib.

aku mengenakan dress hitam selutut dan selop datar yang cantik. tepat pukul 14.00 aku tiba di depan coffeeshop itu, kulihat tak semua meja terisi, tapi di sebelah kanan pojok ada seorang lelaki berkaca mata yang duduk menghadap leptop yang membuka. dari ciri-cirinya aku memastikan bahwa dia adalah fery.

aku menghampiri mejanya dengan langkah pasti. ketika aku tiba, dia menengadahkan wajahnya dan tersenyum lebar.

“vera… pasti”, ia berdiri dan menyambut uluran tanganku.
“fery hehehe akhirnya kita ketemu ya”, sahutku menjabat tangannya erat.
“duh..ternyata lebih cantik dari fotonya”, fery menggodaku.
“yah dah biasa sih dibilang cantik”, jawabku sambil tertawa.

fery ternyata seorang lelaki yang cukup tinggi. badannya proporsional, berkulit putih dengan rambut pendek ikal yang bersih tercukur. dia adalah sosok lelaki yang akan dilirik oleh setiap perempuan, tinggi, tampan dan hmmm wangi.

kami berbincang seputar kegiatan masing-masing. fery bekerja sebagai kepala cabang di sebuah showroom mobil di daerah bekasi. memiliki seorang anak dan tanpa istri.
ketika kami sadar telah berbincang begitu asik, tiba-tiba hapeku berdering, dan ada nama lelan memanggil. aku mengangkatnya.

“halo, lan. udah sampe mana?aku dan fery udah di sini”
“ver, sorry deh, gw ga bisa ikutan. suami gw lagi ngambek nih”
“duh gimana sih kan elo yang nentuin hari ini”
“iya gw tau tapi nih tiba-tiba dia ga jelas, dia kira gw mau ketemu cowo selingkuhan”
“makanya elo sih kebanyakan. nih ngomong sendiri ma fery”

aku mengangsurkan hapeku ke arah fery.
fery tak mengobrol lama dengan lelan dan segera mengembalikan hapeku.
akhirnya, hanya aku dan fery di sini. seperti sebuah kesengajaan rasanya karena lelan telah lama berusaha menjodohkan aku dan fery. katanya vera itu jodohnya emang fery. yah kita lihat saja apakah fery seasik tampangnya.

***

siang yang panas. surya baru saja menelfonku dan mengajak bertemu, tapi entah kenapa aku tak berhasrat untuk menemuinya. dorongan dari dalam diriku untuk mengakhiri kisah cinta tak jelas ini semakin kuat saja. hari ini suami istri itu sama-sama menggangguku dengan cara mereka yang berbeda. surya terus menerus mengajakku bertemu, dan lina terus menerus mengirim sms atas nama suaminya. aku telah memilih terlibat dengan masalah dan aku baru menyadarinya sekarang.

hapeku kali ini berdering. nomor yang tak kukenal.

“halo..”, sahutku
“halo..”, sebuah suara perempuan di seberang
“ya..ini siapa?”, tanyaku
“saya diana, mau bicara dengan vera”, jawab suara di seberang
“ya saya vera, ini diana yang mana ya?”, tanyaku lagi
“saya temannya surya, kenal kan?”, jawabnya lagi

aku terdiam sejenak. aku harus berhati-hati.

“surya yang mana ya?”, sahutku mencoba mencari keterangan
“surya yang tinggal di mampang”, jawabnya
“mungkin anda salah sambung”, sahutku tak ingin terjebak
“oh gitu ya?maaf ya”, sahutnya.

dan ia menutup telfon. aku menghela nafas. ada kegelisahan yang tiba-tiba menyerang.

bosan

Tuesday, May 19th, 2009

kebosanan melandaku…..

sambil memerangi rasa bosan itu aku mencoba mencari2 mangsa untuk kutumpahkan rasa bosanku dan aku menemukan mangsa yang tepat yaitu adikku yang baik hati depz.

inilah hasil perbincangan kami
BOSAN!!!

satu perasaan yang normal dan wajar ada dalam setiap hidup manusia. Biasanya rasa bosan muncul ketika hal yang terjadi dengan frekwensi yang berulang-ulang. Bayangkan bila menu makan anda seminggu berturut-turut adalah menu favorit anda. Pastinya akan bosan walaupun itu menu kesukaan anda.

Bosan terhadap pekerjaan, kuliah atau pun hidup (kalo yang terakhir ini bahaya!!!)

Tapi siang ini aku membahas mengenai bosan terhadap pasangan (pacar, suami/istri) dengan kak julie/idepp.

berikut pendapat kami :

menurut julie : bosan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja dalam waktu yang tak terduga2. mula2 diiringi dengan sakit kepala sebelah, pilek dan bersin berulang-ulang, suhu badan naik secara drastis dan batuk di malam hari. (woiiiii ini mo bahas penyakit apa bosan? lho depp bosan itu kan penyakit juga. oh iya ya kak? makanya diem dulu jangan ngomong aja kerjamu).
menurutku bosan pada pasangan adalah hal yang wajar, mungkin hal itu terjadi karena rutinitas, misalnya kalo ketemu pasti nyapanya selalu “halo sayang” sekali2 nyapanya “halo nyet” hihihi

menurut idepp : biasanya terjadi karena ada hal-hal dari pasangan yang mengganggu dan karena berulang-ulang akhirnya kebosanan tercipta. elain itu bisa juga karena mood(kebosanan yang datang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas).

bagaimana pendapat blogger?
dan kira-kira gimana cara mengobati/menghilangkannya?

semenjak kau hilang

Monday, May 18th, 2009

aku tak tau harus menjejakkan kaki di mana lagi

aku ingin pulang

Friday, May 15th, 2009

aku letih…

hari ini ga mau berpuisi

Thursday, May 7th, 2009

sekali-sekali kow postingannya jangan puisi napa kak
demikian seorang adik sekaligus teman yang kukutip di dunia maya berkata.

kenapa rupanya ga suka kow rupanya?
sahutku tenang

bukan kek gitu, gak ngerti aku mbacanya ntah bahasa2 apa aja pun itu, kow pun salah jurusan kutengok
sahutnya lagi berusaha memberikan argumen.

setelah kutengok2 (dah cakap medan kita) mang bener juga adekku itu. dari semua postingan yang ada di sini 90% keknya sok puitis, kalo kata orang tua kita ini si julie sedang jatuh cinta jadi berpuisi terus padahal gak juga nya mang aku suka nulis2 puisi. tapi tak apalah kita coba posting yang ga sok2 puitis yaa..

begini ceritanya (pasti dokter cintah satu itu sedang nungguin sambil ngarep aku mo cerita tentang honey moon) aku kan lagi bikin ktp jakarta karena dah 5 tahun tinggal di sini masa ga berhasil aku punya ktp nya?? hmmm dengan penuh perjuangan dan rayuan kucoba ajalah bikin ktpnya ternyata rada2 agak sedikit anu (kata2 favorit lelaki itu).

image814
bukti otentik

rasanya seneeeeeeeeng banget dah punya katepe dki (siul2- ketularan lelaki yang rada2 ini) meskipun agak susahpayah apalagi mengingat bajet yang harus dikerahkan.

tapi aku heran bukan buatan, kira2 di bulan april lalu aku pernah mensponsori event dengan hadiah bolpen Cross dan yang menang adalah 24hari tapi kemana dia gerangan tak mengklaim hadiahnya. sungguh terlalu, bolpen semahal itu dengan engrave nama Julie yang terukir indah disiasiakan begitu saja.
akhirnya dengan sangat menyesal bolpen itu harus jatuh ke tangan seorang lelaki pemabuk.

image815
bolpen CROSS yang telah dibungkus cantik.

dah ahh postingannya
bingung aku mo nulis apa lage.

mari ngeblog dengan taste kata eyang.
mari jalin persahabatan di dunia maya kata aribicara.
life is beautiful kata depz.
warnailah duniamu kata yangputri.
ngeblog dengan hati kata idana.

dan…
keep blogging and keep me in your heart kata julie

matahariku

Wednesday, May 6th, 2009

panasmu melelehkanku
jari jemarimu menyentuh dan membakar kulitku
usapan di ujung hidungku
di garis leherku
tak henti menghanguskan

terbakar serpih sayap-sayap jiwaku
dan seketika tersiram sejuk tatap coklatmu

matahariku
aku cinta padamu