bergelung sepi
aku tak pernah membayangkan suatu ketika saat aku berusia tiga puluh dua tahun, dengan penuh kesadaran ternyata aku merasa begitu sepi. keceriaan dan tawa yang aku persembahkan pada orang-orang di sekelilingku hanya sebuah presentasi palsu untuk menutupi kerapuhan, aku terlihat kuat, bahagia dan sempurna.
akan hadirkah mereka di jagat berikutnya? selalu tanyaku setiap kali hati mengerat rindu ingin bertemu orang-orang yang kucintai. berulang kali memendam harap yang tak mau pergi, mengelebatkan slide kehidupan bahagiaku ketika mereka semua masih berada di sekelilingku.
pada suatu masa saat aku terpuruk dalam kehilangan yang sangat dalam, sepasang tangan menangkapku dalam pelukannya, menyodorkan kedua bahu dan hatinya untuk tempat aku berteduh. aku merasakan kehangatan, kasih sayang dan cinta yang begitu besar menjadi lentera dalam kegelapan jalanku.
mengenal dan merasa dekat dengannya menjadi semacam rutinitas yang membuat aku bersinar lagi.
namun, semua itu hanya sebentar..
karena ia kembali meninggalkanku
merasakan kehilangan yang tak henti bertubi-tubi
seperti sebuah kebiasaan
seperti bintang yang ingin selalu bercahaya
seperti bumi yang ingin selalu berputar dengan setia
seperti itulah aku

