kekasih rahasia (2)
Akmal
kamar kost
medan, 10.00 wib
hari ini tak ada berhasrat kuliah. rapat senat keparat yang diam-diam membunuh keinginan yang memang tak seberapa itu. Jam dua siang masih lama. Tak ada yang bisa aku lakukan selain mengeram di kamar. Rutinitas akhir bulan yang entah kapan berakhir: kiriman telat. Bahkan tak ada sisa selembar pun untuk sekedar membayar segelas minuman
dari kamar sebelah aku lihat rifan dan pacarnya keluar. sudah bukan rahasia lagi di kost-kostan ini berubah menjadi tempat persetubuhan liar mirip di taman firdaus. Semua mahfum, termasuk aku. Hanya sesekali saja melakukan adegan ciuman atau pelukan yang agak liar.
dan liza juga bukan tipe perempuan agresif yang menginginkan lebih.
mungkin juga karena aku tak mencintainya sama sekali jadi aku tak berhasrat lebih pada liza. padahal semua teman-temanku mengatakan bahwa dia cantik. mungkin juga karena rini. liza yang cantik dan rini yang manis. aku mendapatkan kemewahan dari liza dan kenikmatan dari rini.
“bang Akmal, santai bang…”, sapa Rifan sembari mengunci pintu kamarnya.
“iya nih Fan”, jawabku.
“gak kampus bang?”, tanyaya.
“sebentar jam dua aja”, jawabku.
“aku duluan ya bang”, sahutnya dan berlalu bersama pacarnya.
Setahuku pacar Rifan itu juga tunangannya. Dan dia anak pamannya. Jadi semacam perjodohan adat batak. dan rifan juga dibiayai oleh keluarga pamannya itu. Tak heran bila dia begitu patuh pada pacarnya eh tunangannya itu. seperti sedikit takut.
Rifan sudah setahun ini ngekos di sebelah kamarku. Dia mahasiswa jurusan Administrasi Negara semester 8, sebentar lagi menyelesaikan kuliahnya. Rifan sangat tampan, tak heran teman-teman di sini memanggilnya si tampan. Apalagi tubuhnya atletis. Yang aku dengar sebenarnya dia tak mencintai tunangannya itu.
***
Liza dan Akmal
ruang senat fakultas MIPA
medan, 13.45 wib
“aku ada praktikum jam dua, Al”
“kan mau rapat panitia”
“yawdah ikut aja sepakatlah”
“nanti pulang ke rumahku bisa?”
“dah kemaleman besok aja yaa”
“oke”
Aku melambaikan tangan segera. bergegas menuju ke arah laboratorium kimia organik sampai aku yakinkan bahwa Akmal tak memperhatikan aku lagi, lalu secepatnya mengambil jalan memutari lab ilmu-ilmu dasar ke arah belakang lab ilmu penelitian, melewati lapangan rumput dan mencari becak dayung. satu becak menghampiriku.
“Bang, ke dokter mansur”, sahutku terengah-engah.
“ayo dek”, sahut si abang becak.
kali ini aku begitu bersemangat, karena aku tau Akmal akan cukup lama berada di kampus dan waktuku akan cukup panjang bersama Rifan. Aku merogoh hape dari dalam tas, ada dua pesan yang belum kubaca.
+628121078071
cepat kesini sayang, aku kangen
+628121078071
bang akmal di sana kan?
aku tergesa-gesa membalasnya,
aku menuju ke sana, tunggu ya sayang
tak sampai lima menit, becak dayung yang aku tumpangi berhenti di sebuah rumah kost berlantai dua, aku membayar an setengah berlari menuju ke lantai dua, di kamar paling ujung aku menghentikan langkah, mengetuk pintu.
***
Rifan dan Liza
kamar kost rifan
Medan, 14.50
suara ketukan halus di pintu. itu pasti dia. tak salah lagi, dia baru saja mengirim pesan dua menit yang lalu. jantungku berdebar kencang. Liza, kau selalu membuatku berdebar.
aku membuka pintu dan menemukannya di sana. ia mengenakan tshirt putih dan rok kotak2 biru selutut. dia cantik. selalu cantik buatku. aku menariknya ke dalam, kupalingkan pandangan ke sekitar kost an. sepi. aku menutup pintu.
ketika berbalik, Liza telah menarikku ke dalam pelukannya, tangannya meraih leherku, bibirnya terbuka mengundang bibirku untuk menyentuhnya. aku merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhnya, dan ia menyentakkan celana pendek yang kukenakan. kembali kami bergelung dalam balutan nafsu, penuh hasrat.
aku tak ingin menukar momen ini dengan apapun. aku ingin waktu berhenti berdetak.
***
Rini
jl. iskandar muda
medan, 15.00 wib
berpuluh pasang baju, celana dan rok telah aku coba hari ini tapi rasanya semua tak cocok untuk kukenakan. kenapa sih? apa karena aku akan bertemu Akmal malam ini?
hm..hm… dia pasti datang selepas rapat senatnya. tapi, membayangkan ia hari ini ada di ruang rapat itu bersama Liza saja aku tak tahan.
bukannya aku tak percaya bila ia mencintaiku. tapi lihat saja mereka berdua seperti tak terpisahkan. sudah enam tahun bersama.
dan akmal tak berusaha memutuskan Liza hanya karena aku hadir dalam hidupnya. jangan-jangan itu hanya rayuannya agar bisa jalan denganku dan Liza sekaligus.
Siapa yang tak bangga punya pacar Liza? Bahkan ketika ia pernah begitu dekat dengan Efan pun, Akmal tak percaya padaku bahwa Liza selingkuh. Tak ada bukti kedekatan mereka lebih dari teman, itu katanya. Sebenarnya Akmal juga tak salah. Tapi, yang benar saja, aku telah tiga tahun menunggu kemungkinan untuk menjadi kekasihnya dan itu tak pernah terwujud.
Lagi-lagi aku curiga semua ini karena Akmal masih ingin hidup nyaman. Bukan saja rajin memberi hadiah, Liza juga seperti dompet berjalan buat Akmal. Tapi lihat saja, sebentar lagi aku akan bekerja di sebuah bank swasta dan Akmal tak perlu terus menerus menempel pada Liza, karena aku akan mampu menggantikan Liza memberi semua hadiah-hadiah itu.

