baca juga
http://julie.blogdetik.com/2009/05/26/ke…
http://julie.blogdetik.com/2009/05/27/ke…
Liza
laboratorium Kimia Organik
seharian bergumul dengan senyawa alkali dan pereaksi. penelitianku yang sudah hampir selesai, tinggal merampungkan data-data yang sedikit kupercantik.
otakku mengerucut, tak mampu lagi menyerap sepercik data pun.
penat.
rasa-rasanya belakangan ini hidupku semakin tak terdata. blurr dan mengalir tak menentu. aku tak ingin memaku kepala dengan masalah hati, karena prioritasku adalah skripsi.
ingin melebarkan senyum ayah dan mama tentunya. sebagai anak kelima aku juga ingin menunjukkan kekuatan otak dan sikap. ayah dan mamaku telah cukup bangga dengan Bang Romi dan kakak-kakakku yang lain.tinggal aku yang harus mengukir sejarah manis lagi. meramaikan deretan pigura berisi wajah yang tersenyum manis dihias toga sarjana.
“kemana kau selama ini….bidadari yang kunanti, mengapa baru sekarang kita dipertemukan”
dering hapeku berbunyi.
itu artinya nomor general. bukan dari rumah, bukan dari ayah, bukan dari Akmal, bukan dari Rifan. lahhh siapa ya?? siang-siang ngantuk penelitian.
Aldian calls…
Hmmm Aldian? kuangkat..
“halo”
“halo..Liza!” suara berat yang kukenal di ujung sana.
“ALd, wah pa kabar?” sahutku antusias.
“baek…Liza lagi dimana?” masih dengan suara bassnya.
“kampus. aldi?”
“kampus. sehat-sehat kan?”
“yup, alhamdulillah” ingin menambahkan kalimat “ada apa ya?” tapi tak jadi.
“oh ya udah. oke ya Liz, pulang hati-hati”, sahutnya mengakhiri.
“oke, thanks ya”, jawabku.
“dahh..”
“dahh..”
banyak tanda tanya besar lagi. tapi tak butuh penjelasan rumit karena Aldian adalah lelaki yang tak pernah bisa ditebak.
sejak kami putus empat tahun yang lalu, dia tak pernah berhenti menanyakan kabarku seperti itu saja. tak lebih.
***
Rifan
fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
mataku tak pernah lepas dari pintu kantin. mencari sesosok tubuh mungil yang berambut ikal. Liza, datangkah kamu? berulang-ulang aku memandang ke arah meja sebelah. ada rudi dan memet. mereka tau aku sangat gelisah sedari pagi. dan seperti biasa mereka menjejaliku dengan ledekan-ledekan iseng tentang Liza.
lima hari ke depan aku akan sangat terbebas dari makhluk berjudul Wiwid, karena ia sedang mengunjungi ibunya di Rantau Parapat. Oh Tuhan, makhluk apa namanya aku ini, Wiwid itu calon istriku, kami berjodoh dalam keluarga. Dan apalagi tulangku (paman) telah begitu banyak berjasa buat keluargaku. aku juga bisa merasakan bangku kuliah karena kebaikan hati tulang.
namun hutang ayah pada tulangku juga tak sedikit, aku merasa seperti dijual. tapi sebagai anak laki-laki tertua dari ayah dan ibuku, tak mungkin rasanya menolak. ini semua demi masa depan adik-adikku juga. hidup yang sulit.
aku merasakan sentuhan di pundakku. ketika berbalik, aku tau memang senyuman itu yang akan kutemukan. senyum yang mampu melepas seluruh otot di jantungku.
“Rifan…”
“Liza..”
ia meraih tanganku, mendekapnya dalam kedua tangannya. jantungku berdegup kencang. matanya menatapku penuh bintang.
Tuhan, aku jatuh cinta setiap saat pada Liza.