Archive for August, 2009

love of my life

Monday, August 31st, 2009

love of my life you ve hurt me
you ve broken my heart and now you leave me

ibu,
aku rindu tatap hangatmu
di balik kacamata yang semakin bertambah saja lensanya
maafkan bila beberapa malam aku tak memanjat doa untukmu
menjadi ibu ternyata tak semudah pikirku dulu

love of my life can’t you see?
bring it back, bring it back
don’t take it away from me
because you don’t know what it means to me

bukan airmataku yang ingin kau sentuh, ibu
aku tau
dan bukan tubuh lemah terus bergelayut di lenganmu
yang ingin kau lihat
aku pun tau
sebab itu ibu,
aku ingin sekuat dan setegar hatimu

i will be there right your side to remind you
how i still love you

bersama ayah di sana,
terimalah maaf dan cintaku…

sommer sommer sommer

Friday, August 28th, 2009

and the sun it shines as it did yesterday

meski tak keluar dari kamarku yang sempit, hari ini terasa panas. hari pertama musim semi memang sedikit membakar kulitku. karena saat ini kulitku tak sebagus dulu. lebih tipis dan rentan.

aku tak berniat tinggal lama di kota ini. zurich dengan jalanan yang padat akan toko berlabel mewah. prada, gucci, sumpah mati aku ingin saja mencobanya sesekali. mencoba membeli? tentu saja tak perlu. cukup mengambilnya diam-diam karena mereka tak bisa melihatku.

tapi untuk apa? aku toh tak bisa memakainya. okelah bisa. tapi tetap sajakan tak ada yang bisa melihat betapa keren aku ketika memakai setelan coat warna coklat selutut plus sepatu boot berwarna sama dengan bahan suede. tunggu dulu, mungkin topi koboi itu pun bisa kupadukan sekalian.

tapi kau tentu tak tau apa yang akan kubeli.
aku tak akan mengambil diam-diam, kali ini aku akan meninggalkan sejumlah euro di meja kasir, karena aku ingin membeli kemeja kotak-kotak biru yang begitu menawan hatiku. tentu saja sangat pas melekat di tubuh tinggi kurus berkaca mata.

***

aku menatapnya dekat sekali. mengagumi lekuk-lekuk wajahnya yang ramping, dengan tautan alis yang begitu tebal, mata hitam itu menatapku tajam tanpa kacamata. ia merasakan kehadiranku. lalu meraih kacamatanya di meja belajar. membetulkan letaknya dan sia-sia mencari tau siapa yang ada bersamanya di dalam kamar ini.

tak lama terkaget-kaget melihat sebuah bungkusan kotak biru bersampul kembang dengan pita coklat. ia meraihnya perlahan, membolak-balik, melihat berkeliling dengan cepat. menutup jendela, dan kembali ke kursinya.

ketika membuka bungkusan itu, hatiku ingin bersorak melihat pancaran di matanya. ia begitu kagum dan senang. okelah aku lupa melepas label harga dan segalanya, lantas ia pun tau bahwa baju pemberianku asli tak beli di mangga dua.

namun ia memasukkan lagi baju itu ke kotak biru yang kubeli dengan susah payah di gramedia tadi. lantas meraih hape dan kau tau pasti siapa yang akan dia hubungi.

aku pergi.

kosong

Thursday, August 27th, 2009

dalam keriuhan lalu lalang manusia aku merasa kosong. mereka seolah hanya kelebatan tubuh-tubuh kurus, sedang, gemuk, nampak berwajah cerah, hampir cerah dan gelap. seperti mendung. namun langkah mereka tak seperti gontaian kakiku, yang mengejar angin.

angin melenakan beberapa helai daun di pojok parkiran sepeda motor tempat mahasiswa biasa bercengkrama dengan teman-temannya selepas kuliah. tanah tak rata yang penuh kerikilan batu seketika lengang tak menyisakan helaiannya.
di situ ada sekumpulan mahasiswa berdiskusi entah mata kuliah atau game seru terbaru, jangan-jangan mereka membahas bagaimana merayu mahasiswi edisi baru? entah pula aku tak begitu ingin tau.

yang berkacamata melambaikan tangannya sepertinya ke arahku. dengan sedikit kaku kutolehkan kepala ke kiri kanan dan tak menemu sosok lain yang mungkin ia tuju. jadi ia melambai ke arahku? tak mungkin rasanya.

lihat, ternyata aku memang tak salah. karena tak lama sesosok tubuh mungil yang kurus berlari ke arahnya, pasti mahasiswi ini yang ia maksud tadi. hupfff mengapa aku begitu tak tau diri? si kacamata tak mungkin melihat ke arahku sedetikpun bila telah ada si mungil di dekatnya. mereka selalu bersama. kemana saja.

yang lainnya satu persatu mencari alasan memberi ruang buat si kacamata dan si mungil, meninggalkan mereka berdua di bangku kayu bawah pohon. si mungil menyandarkan kepala di bahu si kacamata. pastilah kemanjaannya itu yang ia suka.

aku terdiam menatap resah. betapa kosong semakin lebar menggali hatiku.
kapan kau tau aku ada di dekatmu? rasanya tak mungkin. aku tak nampak jika ku tak mau. aku sang hantu penunggu bangku kayu, salahkah bila jatuh cinta padamu?

paranoid android

Tuesday, August 25th, 2009

Please could you stop the noise, I’m trying to get some rest
From all the unborn chicken voices in my head
What’s this? I may be paranoid, but not an android

ia mencoba mengusik aragornku, dan sedikit-sedikit mencari tahu apakah aku bersama legolas sewaktu-waktu.
lihat, pangeran kecil yang selalu tersenyum dalam tidurnya, sedang apakah dia?

garis luka memanjang di sekujur sayapku, belum kering dan melepuh.
ia ingin menambahnya lagi dengan tetesan jeruk lemon yang perih.
aku memunggungi langkahnya. ia berusaha menapaki.

When I am king, you will be first against the wall
with your opinion which is of no consequence at all
What’s this? (I may be paranoid, but no android)

aku hanya berlindung pada Sang Pelukis Semesta
kekuatanmu tak akan pernah menandingiNya

Save Me (legolas part 3)

Monday, August 24th, 2009

the slate will soon be clean
i will erase the memories

kedua legolas itu menunggu di depan pintu
mereka tak berusaha mengetuk lagi
karena aku terpekur menatap langit

aragorn mengepakkan sayapnya
terbang menjauhiku

save me
don’t let me face this life alone
save me
am naked and am far from home

it’s a hard life (Legolas part 2)

Friday, August 21st, 2009

seorang Legolas lainnya mengetuk pintu hatiku tadi malam.
ia bermata abu-abu pucat, dengan ilalang jambang yang menyatu di wajah tirusnya.
kelopak matanya terbuka penuh menatap mataku.

I try to mend the broken pieces
I try to fight back the tears
They say it’s just a state of mind
But it happens to everyone

“apa yang mengendap di dasar hatimu, gerhana?”
“serpihan luka”
“mari kita balut bersama dengan pita-pita”
“aku tak ingin memilinnya bersamamu”
“mengapa?”
“karena pita ini telah kusut dimakan teriknya”

How it hurts - deep inside
When your love has cut you down to size
Life is tough - on your own
Now I’m waiting for something to fall from the skies

come what may

Thursday, August 20th, 2009

Nothing that anyone can do
And so he lets me live it through
And when I’m in my darkest hour of uncertainty
He just simply lets me be
And goes right on loving me

PS: jangan ganggu aku

home

Wednesday, August 19th, 2009

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

Legolas

Tuesday, August 18th, 2009

aku membiarkan Legolas menapakkan kakinya di beranda hatiku.
ia membawa ikatan kembang lily berwarna putih dengan pita perak.
aku menyambutnya dengan senyum.

“aku ingin merekatkan serpihan mimpimu” sahutnya dengan mata membintang.

“apa yang kau miliki untuk merekatkan serpihanku?” tanyaku berharap.

“sayap untuk memelukmu terbang”
“kehangatan hatiku”
“dekap erat ketika hatimu memerih luka”

sejenak aku memandang lagi binar yang semakin terang di matanya.
tak seperti mata coklat kekasihku, Aragorn yang selalu hangat dan bertabur cinta.

penuh bimbang, kutinggalkan Legolas duduk di bangku kayu beranda hatiku. menanti jawab sebelum fajar menjemput matahari.

kekasih rahasia (3)

Friday, August 14th, 2009

baca juga
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/26/ke…
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/27/ke…

Liza
laboratorium Kimia Organik

seharian bergumul dengan senyawa alkali dan pereaksi. penelitianku yang sudah hampir selesai, tinggal merampungkan data-data yang sedikit kupercantik.
otakku mengerucut, tak mampu lagi menyerap sepercik data pun.
penat.

rasa-rasanya belakangan ini hidupku semakin tak terdata. blurr dan mengalir tak menentu. aku tak ingin memaku kepala dengan masalah hati, karena prioritasku adalah skripsi.

ingin melebarkan senyum ayah dan mama tentunya. sebagai anak kelima aku juga ingin menunjukkan kekuatan otak dan sikap. ayah dan mamaku telah cukup bangga dengan Bang Romi dan kakak-kakakku yang lain.tinggal aku yang harus mengukir sejarah manis lagi. meramaikan deretan pigura berisi wajah yang tersenyum manis dihias toga sarjana.

“kemana kau selama ini….bidadari yang kunanti, mengapa baru sekarang kita dipertemukan”

dering hapeku berbunyi.

itu artinya nomor general. bukan dari rumah, bukan dari ayah, bukan dari Akmal, bukan dari Rifan. lahhh siapa ya?? siang-siang ngantuk penelitian.

Aldian calls…
Hmmm Aldian? kuangkat..

“halo”
“halo..Liza!” suara berat yang kukenal di ujung sana.
“ALd, wah pa kabar?” sahutku antusias.
“baek…Liza lagi dimana?” masih dengan suara bassnya.
“kampus. aldi?”
“kampus. sehat-sehat kan?”
“yup, alhamdulillah” ingin menambahkan kalimat “ada apa ya?” tapi tak jadi.
“oh ya udah. oke ya Liz, pulang hati-hati”, sahutnya mengakhiri.
“oke, thanks ya”, jawabku.
“dahh..”
“dahh..”

banyak tanda tanya besar lagi. tapi tak butuh penjelasan rumit karena Aldian adalah lelaki yang tak pernah bisa ditebak.
sejak kami putus empat tahun yang lalu, dia tak pernah berhenti menanyakan kabarku seperti itu saja. tak lebih.

***

Rifan
fakultas ilmu sosial dan ilmu politik

mataku tak pernah lepas dari pintu kantin. mencari sesosok tubuh mungil yang berambut ikal. Liza, datangkah kamu? berulang-ulang aku memandang ke arah meja sebelah. ada rudi dan memet. mereka tau aku sangat gelisah sedari pagi. dan seperti biasa mereka menjejaliku dengan ledekan-ledekan iseng tentang Liza.

lima hari ke depan aku akan sangat terbebas dari makhluk berjudul Wiwid, karena ia sedang mengunjungi ibunya di Rantau Parapat. Oh Tuhan, makhluk apa namanya aku ini, Wiwid itu calon istriku, kami berjodoh dalam keluarga. Dan apalagi tulangku (paman) telah begitu banyak berjasa buat keluargaku. aku juga bisa merasakan bangku kuliah karena kebaikan hati tulang.

namun hutang ayah pada tulangku juga tak sedikit, aku merasa seperti dijual. tapi sebagai anak laki-laki tertua dari ayah dan ibuku, tak mungkin rasanya menolak. ini semua demi masa depan adik-adikku juga. hidup yang sulit.

aku merasakan sentuhan di pundakku. ketika berbalik, aku tau memang senyuman itu yang akan kutemukan. senyum yang mampu melepas seluruh otot di jantungku.

“Rifan…”
“Liza..”

ia meraih tanganku, mendekapnya dalam kedua tangannya. jantungku berdegup kencang. matanya menatapku penuh bintang.
Tuhan, aku jatuh cinta setiap saat pada Liza.