Archive forAugust, 2009

Indonesiaku

meramaikan kontes menulis merahputih blogdetik.

“di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata”

aku memandang kalian seraya tersenyum. lalu apalagi kalau bukan senyuman yang bisa kuberi?

dahulunya kalian sebelah menyebelah dengan bambu runcing menggagas langkah semangat untuk raupan jiwa dan raga yang merdeka.
sekarang kalian sebelah menyebelah menghunus kawan dan bukan kawan untuk gelimangan harta yang menghijau di mata.

aku ini hanya seorang ibu, nak.
tak pernah sedih meski tubuhku kalian sayat gores demi gores.
terus nikmati air susu dari dadaku yang selalu penuh.
namun tubuh juga bisa renta anakku, dan kalian tak henti menghujamnya. aku juga butuh cinta dan kasih sayang, butuh belai lembut semiliran angin dari hijaunya dedaunan.

aku Ibu Pertiwi, kepada kalian anak-anak bangsaku.
hanya bisa tersenyum meski perih.

Comments (48)

ikatan kovalen

kutipan dari email sahabatku:

persahabatan kami berempat itu BUKAN krn masa lalu
kami…sahabat-sahabatku lebih tahu siapa saya.. dan mereka bisa
terima saya apa adanya. kami berempat tidak berprejudice satu sama lain. saya memang bukan orang yang bisa bicara KERAS, menggigit atau apapun istilahmu, terhadap sahabat saya. tapi kami saling mendukung dan mengingatkan dengan bahasa yang bisa kami mengerti satu sama lain.

yang kami miliki adalah saat ini dan masa depan.

tanya pada dirimu siapakah yang bermasalah? kami atau kalian?

PS: untuk sahabat2ku yang cantik: rh, luv, dan mou

Comments (36)

kehilangan arah

“putar haluanmu, J. di sana langit sudah gelap abu-abu” sahut Joe.
“aku mau jalan lurus ke sana, layarku terkembang penuh” sahut J tanpa ekspresi.
“kau akan tenggelam, lihat persediaan makananmu telah menipis” Joe terus mengingatkan.
“aku tau. tapi aku ingin melihat dunia di sebelah sana Joe”, J berkeras.
“kami tak ingin melihat kau tenggelam, kembali J” setengah teriak ia memanggil J.
“aku tak akan tenggelam. tak akan”

J dengan cemas memandang sekeliling kapal layar kecilnya. menatap hamparan biru air laut yang begitu tenang namun di atasnya awan menggantung berwarna kelabu gelap.

ia sesungguhnya ragu dengan langkahnya, namun kekuatan cinta begitu besar memanggilnya. cinta yang membutakan.

“raih kompasmu, J” masih didengarnya teriakan terakhir Joe.

sinar matahari semakin terik menyengatnya, percikan air laut membasahi wajahnya yang penuh keringat.

“kemana aku harus pergi?”

PS: untuk sahabatku, terima kasih.

Comments (52)

a different ramadhan-part 2

medan, pukul 17.45

“ditahan sebentar lagi ya” sahut sang ibu sambil mengelap butiran keringat di kening anak gadisnya.
“mau muntah bu” jawab anaknya dengan wajah seputih kapas.
“jangan dimanjakan dia” sesosok laki-laki berperawakan sedang menatap tajam di balik lensa kacamatanya mengawasi kedua perempuan yang dikasihinya.
“iya takut dia muntah aja. ayo nak, jangan dulu sebentar lagi adzan magrib” sahut ibunya kembali menyemangati sang anak yang semakin lemah.

tiga pasang mata di ruang tengah mengawasi terus kejadian di dalam kamar tengah. ketiga gadis lainnya itu adalah kakak-kakak dan adik seorang gadis berambut ikal yang tengah berjuang menanti waktu berbuka puasa.

waktu berlalu terasa lambat, sang gadis yang semakin pucat seperti tak mampu lagi menahan ledakan dari dalam perutnya. ibunya tak henti menyeka butiran keringat di wajahnya. anak gadisnya yang kini beranjak di usia sma. hari keempat di bulan suci yang telah ia lewati dengan sekuat tenaga mampu berpuasa.

pukul 18.33
panggilan syahdu menggema dari televisi berwarna di ruang tengah. semua mata tertuju pada sang gadis yang seketika itu memuntahkan cairan kuning kental ke atas pangkuan ibunya. lalu tak sadarkan diri.

ketika ia membuka mata, yang dilihat adalah tatapan dua pasang mata di balik lensa kacamata mereka yang terlihat sangat cemas.

“ayah, ibu aku akan selalu membuatmu bangga meski harus bersakit-sakit”.

ramadhan pertama tanpa mereka berdua.
ayah, ibu, berikan kekuatanmu dari surga.

Comments (29)

sweet revenge

“tidak baik membalas dendam nduk”, sahut ibu mengelus gumpalan rambut keritingku.

“aku sangat sakit hati” jawabku terbata menahan tangis.

“apa yang membuatmu begitu membenci dia?” ibu mendekatkan tubuhnya dan mendekapku dalam kehangatan.

“dia merayuku dan semua perempuan lain” aku menggerutu terus sejak kemarin dan tentu saja menangis terus.

bu tersenyum menepuk-nepuk bahuku.
“lelaki selalu seperti itu. mereka tugasnya memang merayu kita para perempuan” ibu tetap menjawabku dengan bijak.

“tapi tak adil bu, memangnya dia tak mempertimbangkan kemungkinan para perempuan itu jatuh cinta?”

“tentu saja mereka tau. hanya bagaimana kita menyikapinya. jangan terlalu larut dalam rayuan mereka”

iya bu”

“begitu nduk, kamu anakku yang cantik dan pintar. jangan mengalah pada perasaan cinta yang membutakan”

dalam hatiku masih merapal mantra untuk membalas dendam pada laki-laki yang kubenci segenap hati.

PS: bagi pembaca blogku. terserah kalo kalian menganggap semua postingan yang ada di blog ini adalah pengalaman pribadiku. bagi yang menganggap aku sampah, kotor, hina, tak bermoral, itu pilihanmu.
hanya aku dan Tuhan yang tau apa yang kualami.

Comments (35)

perempuan lain - part 9

baca juga
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/21/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/26/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/28/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/12/12/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/22/pe…

“aku dan kamu tak kan tau mengapa kita tak berpisah”

aku melahap serpihan kulit ayam dengan malas. sebenarnya kenyang sedikit lapar. tapi tak terasa lezat lagi seperti ketika dibaui. suara nging dari kipas anginku melemah sedikit. setelah kuperhatikan sekeliling bukan suara kipas itu yang melemah namun runtunan air yang keluar dari keran di kontrakan sebelah yang mendominasi sekarang.

hari ini aku memboloskan diri. hmm..senin kapan lagi bisa sesantai ini. kemarin baru saja lepas mensukseskan pameran yang memaksa tubuh cekingku berkutat empat harian di sana. tak kusangka akan seletih ini jadinya.

lepasan pandangku tertumpu pada mainan bricks berbungkus kuning dengan judul LEGO, creator yang kubeli khusus untuk laki-laki yang selalu mengharujingga hatiku. tapi entah kapan bisa kuberikan. mengingat waktuku yang sempit dan betapa sulitnya kami bertemu.

rasanya telah seabad yang lalu aku tak bertemu surya. denyut rindu mendentam-dentam dalam dadaku. merindukan sentuhannya dan tatapan matanya yang membakar seperti matahari.
padahal baru dua minggu yang lalu kami melewatkan waktu bersama, menghilang dari keriuhan semesta. mengurung diri berdua dalam kubikel penuh kapas-kapas cinta.


“i won’t be fooled again”

bukan aku tak berusaha meninggalkannya. aku sadar tak ada masa depan dalam cinta ini. seorang laki-laki beristri tak mungkin kumiliki. namun dentaman jiwaku yang resah ketika aku bersama lelaki lain membuat kami kembali. dan betapa brengseknya laki-laki. fery yang pernah kukenal sebelumnya dari dunia maya ternyata hanya seorang laki-laki pengumbar kata-kata dan hasrat. tak lebih baik dari seorang peselingkuh semacam surya.

belum lagi belakangan ini, ronald semakin sering mengajakku sekedar keluar nonton atau makan. Ronald adalah teman dekat fery yang baru saja pindah ke jakarta dari kota kelahirannya. sekilas dia cukup mempesona namun aku tetap berhati-hati dengan segala jenis pendekatan yang ia lakukan padaku.

terpejam-pejam mataku menikmati angin dan cuaca. sejuk aroma pagi menghantarkan kantuk ke liang otakku. kepulan asap coklat dari cangkir di atas meja kecilku begitu menggoda.
ambil dan teguklah.

****

“mana mungkin dia tau” sahutku cemas.
“tapi dia curiga, ver”, suara surya di seberang sana lebih cemas.
“lalu kita gimana?”
“sementara ini kita tak bertemu dulu ya”
“:( ya sudah”
“maafkan aku vera.aku mencintaimu”

dan telepon kututup.
begitulah menjadi perempuan lain. selalu harus mengalah dan menahan hati untuk tak marah. lantas harus marah kepada siapa aku? karena semua ini salahku juga. mengapa harus jatuh cinta dengan lelaki itu?

sepuluh ribu kata-kata nasehat dari erlyn, dina, antin, dan lainnya pun tak menjamin aku bisa melepaskan diri dari lelaki itu. bukan bagaimana besar dan banyaknya dukungan dari mereka semua namun hatiku tak ingin melepaskannya.

cinta tak sedalam kata-katanya.
cinta mengisi seluruh sel-sel kecil dalam bagian tubuhmu.
maka ia lebih dalam dari kata-kata.

Comments (36)

Julia says

Come on julie…….
open your eyes and see

Comments (36)

Next entries »