kalimat itu aku dengar secara tak sengaja dari sebuah stasiun tivi beberapa hari yang lalu. yang membuat aku segera memalingkan wajah dari bacaanku yang kebetulan berjudul “presiden gus dur bikin heboh” halaman 150 buku Berita Peristiwa 60 Tahun WASPADA.
judul acara televisi itupun bikin aku tertawa. Entah kenapa beberapa banyak rakyat indonesia ini sering latah, giliran sang Kyiai itu meninggal, tiba-tiba saja semua orang berduka cita. Bukan aku tak suka dan tak setuju mereka berduka cita, tapi seingatku dulu banyak yang tak suka dengan beliau. Secara pribadi aku tak punya masalah dengan almarhum, apalagi menyangkut pekerjaan. Lah siapalah ya kan awak ini kenal pun tidak dia sama si julie.
Lalu kenapa pula mereka harus membuat sebuah acara yang mempertanyakan siapa yang pantas jadi pahlawan. Aku juga bukan anak esde yang cuma tau pahlawan itu yang ikutan perang ato pahlawan tanpa tanda jasa macam pak guru dan bu guru. aku juga tau bahwasanya pahlawan bisa seorang pemain sepakbola, tukang becak, tukang somay, bahkan koruptor juga pahlawan bagi orang-orang yang ditolongnya.
aku baca kalimat-kalimat di artikel buku itu, salah satunya dengan cetak tebal, “Gus Mus Tegur Gus Dur” lalu ada pula tentang pemberhentian dua menteri pada kabinetnya yang ternyata keduanya tak pernah diberitahukan, tapi aku pun tak pernah mengikuti sepak terjang almarhum sebelum selama dan setelah ia jadi presiden, yang kutau cuma beliau itu agak nyeleneh.
tapi yasudlah terserah orang-orang yang menilai, paling tidak almarhum sudah menjadi pahlawan bagi keluarganya :D.
menulis dengan tatapan tajam kakakku yang bilang “ntah apa aja yang kow tulis”