Archive forSeptember 29, 2011

Ketika Terlalu Banyak Bicara, Kita Lupa untuk Diam

Begitu banyaknya social media yang bertebaran di dunia maya meyebabkan semakin banyak orang-orang yang merasa bebas menuliskan opininya di berbagai media, itu belum termasuk acara talk show dan diskusi dengan bermacam judul di televisi dan radio plus seminar dan lain-lain.

Topik apakah yang biasanya disukai peserta diskusi atau para penulis opini? Biasanya, yang diangkat adalah topik terhangat. Contoh rok mini dan kasus pemerkosaan, bom bunuh diri di Solo, kebijakan presiden SBY, kasus korupsi atau topik selingkuh yang rasa-rasanya terlalu sering dan itu-itu saja dan macam-macam topik lain. Beberapa penulis dengan sengaja mengangkat topik-topik ini untuk menarik perhatian pembaca, memilih judul adalah keahlian mereka, semakin menarik sebuah judul akan semakin penasaranlah pembaca dengan isi tulisannya. Terkadang ada pula yang sengaja menuliskan bahasan negatif yang memancing emosi pembacanya sehingga timbul debat pada kolom komen. Apa yang diinginkan sang penulis? Tentunya macam-macam, ada yang memang ingin terkenal dengan isi tulisan yang bersifat provokasi, ada pula hanya sekedar mencari traffic di blognya untuk meningkatkan Page Rank.

Belum lagi debat panjang di media social lain semacam fesbuk dan twitter, ada beberapa tweeps yang senang menunggu twit orang lain untuk dikomen dengan tujuan menjatuhkan orang lain tersebut. Ada pula yang meng-update status dengan tujuan untuk memancing komen pembacanya. Tak jarang hal ini berlanjut dengan sebuah postingan di blog, lalu debat pun berlanjut lagi di komen blog.

Pada suatu hari saya membaca TL (timeline) seorang aktivis perempuan yang mencaci maki presiden SBY, meskipun saya bukan salah seorang yang memilih pak presiden tapi ada baiknya kita tak mencaci si bapak dengan kalimat-kalimat tak pantas. Lalu seorang teman mencoba menegur aktivis perempuan ini dengan teguran yang halus, namun orang tersebut tidak terima dengan teguran itu malah menuduh temanku adalah antek-antek presiden SBY. Dengan lalu lintas di TL temanku ini aku pun tertarik membaca TL sang aktivis perempuan yang selama ini kukenal dengan kegiatan positifnya dalam membela kaum perempuan.

Ternyata isi Timelinenya lebih banyak menyalahkan dan mengkritik pemerintahan yang korup, dan yang anehnya banyak sekali orang lain yang mengkritik beliau namun beliau membalas dengan kata-kata yang menuduh pengkritik itu antek pemerintah. Apa yang saya dapat dengan kenyataan itu? Saya kehilangan respek terhadap beliau, ia bisa mengkritik pemerintah dan presiden namun ketika ia dikritik ternyata ia tak menerimanya.

Mungkin kita berpikir, ketika kita menjadi presiden kita akan melakukan banyak perubahan, memberantas korupsi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memakmurkan kehidupan petani, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan serta banyak lagi teori lain yang akan kita paparkan. Ketika kita menjadi pengurus PSSI, kita juga ingin merombak susunan pemain, mencari pelatih Timnas yang paling baik, menghapus segala macam kemungkinan untuk tindakan korupsi untuk mengharumkan nama bangsa dengan kemenangan TImnas di berbagai kompetisi sepakbola.

Semua orang bisa bicara dan berkata bahwa presiden harus begini dan begitu, sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi jika pemainnya bukan si ini dan si itu. Tapi pernahkah kita semua sampai pada posisi itu? Pernahkah kita berpikir jika kita berada pada posisi orang-orang yang kita salahkan dan kita kritik?

Bicara untuk kebaikan boleh, mengkritik itu pun baik untuk kemajuan, namun jika terlalu banyak bicara tanpa solusi lebih baik kita diam saja.

Comments (17)