Siapa tak kenal sosok perempuan bernama Raden Ajeng Kartini yang mula-mula aku lihat fotonya di poster kertas berbingkai kayu untir-untiran dengan kaca bening. Poster ini tergantung pas di sebelah kanan dinding belakang ruang kelasku saat Sekolah Dasar.
Ternyata RA Kartini adalah seorang pahlawan wanita. Dulu pun saat SD, aku yang sering bermain ke ruang kepala sekolah tak jarang memainkan lagu “Ibu Kita Kartini” dengan angklung. Ibuku yang mengajari untuk selalu senang menghapal lagu-lagu nasional dan daerah juga harus bisa memainkan dengan alat-alat musik sederhana. Lagu Ibu Kita Kartini terbilang mudah sekali dimainkan nadanya.
Bagaimana sih ceritanya si ibu kita Kartini ini koq bisa jadi salah satu pahlawan wanita? Padahal pahlawan wanita jaman perang dulu itu bisa dihitung jumlahnya di antara banyak pahlawan lelaki. Misalnya saja yang kuingat adalah Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, dan mereka berdua ini turut aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Apakah ibu kita Kartini juga ikut-ikutan dalam perang kemerdekaan makanya beliau dipanggil pahlawan?
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. (sumber: wikipedia).
Perjuangan Kartini memang bukanlah perjuangan semacam bambu runcing ke medan perang, ia lebih berpikir dan bercita-cita mengubah nasib dan kondisi perempuan-perempuan pribumi saat itu yang tidak boleh bersekolah seperti layaknya laki-laki. Budaya Jawa saat itu juga banyak sekali merugikan kaum perempuan tak hanya dalam bidang pendidikan.
Pada tanggal 2 Mei 1964 presiden Soekarno menetapkan Kartini menjadi salah satu pahlawan Nasional karena perjuangan dan cita-cita luhurnya yang ingin memajukan perempuan Indonesia. Sejak itu hari lahir Kartini pun diperingati sebagai salah satu hari besar Nasional. Perjuangan Kartini ini dikenal dengan Emansipasi Wanita dimana perempuan atau wanita Indonesia menuntut persamaan hak mereka untuk disetarakan dengan laki-laki baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan hal-hal lainnya.
Banyak sekali kontroversi tentang diangkatnya Kartini sebagai pejuang perempuan dan pelopor emansipasi wanita ini dengan tudingan bahwa Indonesia hanya terlalu fokus pada pulau Jawa saja pada masa itu sehingga daerah-daerah di luar itu terabaikan padahal sudah banyak pejuang perempuan lain yang sudah mendahului Kartini dan apalagi Kartini hanya berjuang dari surat-suratnya saja.
Apapun itu dan siapapun itu yang terlebih dahulu berjuang untuk emansipasi wanita, sebenarnya perjuangan emansipasi seperti apa sih yang kita inginkan? Benarkah emansipasi wanita yang dituangkan Kartini dalam surat-suratnya sudah benar-benar seperti yang ia cita-citakan? Apakah perempuan jaman sekarang ini masih merasa lebih rendah derajatnya dari kaum lelaki?
Jika Kartini bisa bicara saat ini mungkin beliau sendiri sedih dengan pengertian emansipasi yang makin disalahgunakan. Perempuan ingin disamaratakan kedudukannya dalam segala hal. Bahkan lebih sedihnya lagi aku baru saja membaca sebuah opini tentang emansipasi wanita dimana si wanita merasa masih dibedakan dengan pria dalam hal poligami, warisan dan hak asuh anak.
Kedua masalah poligami dan warisan itu sudah tercantum dalam kitab suci agama Islam ketentuannya. Lagipula aneh sekali seorang perempuan merasa tidak adil jika lelaki bisa poligami dan ia tidak bisa poliandri? Sebuah pemikiran yang tak sejalan lagi dengan cita-cita Kartini sendiri.
Sebenarnya perempuan dan lelaki itu memiliki kedudukan dan derajat yang sama di mata Tuhan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengapa kita sibuk terus mencari-cari kesetaraan bila kita sendiri pun tidak berusaha bersikap untuk setara?
Yang membuat seorang perempuan terlihat lemah, tidak kompeten dan tidak berharga adalah pandangan dari perempuan dan laki-laki itu sendiri. Banyaknya kasus pelecehan, kriminalitas dan diskriminasi terhadap kaum perempuan baik di instansi pendidikan, rumah tangga maupun pekerjaan adalah akibat dari sikap dan perilaku perempuan itu sendiri.
Bagaimana tidak dilecehkan bila sikap dan cara berpakaian kita terlihat murahan. Bagaimana bisa dianggap kompeten bila kita sendiri merasa rendah diri dan tidak menampilkan sikap seorang yang pantas untuk sebuah profesi atau pekerjaan. Semua kembali kepada sikap seorang perempuan. Sebab jika kita berpikir kita adalah makhluk yang lemah, yang tidak kompeten dan berada di bawah lelaki maka pikiran itu akan mewujud dalam sikap dan tingkah laku kita.
Jika ingin mewujudkan cita-cita Kartini, jagalah sikapmu wahai perempuan.








`baik kak, aku akan jaga sikap:)
Setuju deh,selamat Hari Kartini ya.
selamat hari kartini
Siip, siap graakkk
akan dijaga terus sikapnya Jeng …..
AKU KARTONO
nice
objektif sekali, saya suka tulisannya
salam kenal dari : http://www.kopikoplak.com
kapan orang nulis tentang Kartono? Siap dia?! ^_^
Siap , aku akan menjaganya
wah benar banget nih,,ayo jaga sikap,,,!
Selamat hari kartini (\^ _ ^)/ Ayo para sudah saatnya wanita berkarya lebih hebat lagi pada Ibu Pertiwi
Good point, Jul.
Harga diri dan martabat perempuan itu tergantung pada apa yang dibuatnya, apa yang diucapkannya. Apalagi dalam agama sudah disebutkan bahwa kita harus menyayangi dan menghormati perempuan, jadi tentu sudah sepantasnya kita menjaga diri dengan baik.
Mengenai poliandri, susahnya adalah kalau si perempuan hamil, sementara dia berhubungan dengan 2 lelaki, tentu tak akan ketahuan ini bapaknya yang mana hehehee….
Beda dgn poligami, karena ada 2 pabriklah istilahnya, maka anak akan tahu siapa bapaknya, siapa ibunya…
iya jugak ya kak masalah poliandri itu gak kesana pemikiran awak ya hahaha aneh juga kalo ada yg pengen poliandri
yuuuk
makasih atas kunjungannya brother
siiip manteblah pasti kalo dirimu sist
hahhaha Kartono yang pake kebaya mau gak bang?
salam kenal jugaaa
saya suka blognya
makasih ekaaaa
abangnya donk
hehe makasih sistaaaa