Hidup untuk Mencintai

30 Nov 2012

Pagi-pagi subuh gini aku udah posting aja. Sepertinya ini adalah the first timenya aku bisa posting pagi-pagi, karena dipaksa pak bos untuk buka fanpage yang aku adminin dan menjawab message salah satu customer yang aku gak bisa buka pakai hp. Dan baru ngeh ternyata androidku bisa dipake buat modem (digetok rame-rame saking gapteknya).

Kenapa sih blog ini taglinenya Cinta dalam Serpihan Kata?

Kalo aku cerita dari awal pembuatan blog ini kayanya semua bakal langsung ngambil sarung dan senter (ini mau baca postingan atau ronda sih Jul?) saking lamanya. Pokoknya inti dari taglineku ini adalah aku ingin menuliskan apapun di sini dengan sepenuh hati, gak dipaksa (ada sih yang ikut lomba itu agak maksalah sikit), tapi sejak mulai menulis di sini lebih banyak yang tertulis begitu saja (ga pake draft) (makanya sering ilang tiba-tiba) (curcol sama blogdetik).

Jadi kebanyakan sih tulisanku memang bertema cinta, cintanya macam-macam, ada cinta pada anakku enrico, cinta pada kedua almarhum ayah dan ibuku, cinta pada persahabatanku, cinta pada kekasihku (yang barusan bbm) dan juga pada kehidupan, pekerjaan, dan semua aktivitas yang aku lakukan.

Memang sih aku gak begitu saja dilahirkan ke dunia tanpa masalah. Justru kalo mau hitung-hitungan banyak banget masalah yang sudah aku lewati dan aku sangat bersyukur bisa mengalami semua itu. Dari seorang anak manja yang bahkan nyisir rambut aja harus disisirin sama kakakku, berangkat sekolah bahkan kerja pun diantar jemput ayahku dan nggak berani kesana kemari sendiri kecuali ke kampus dan kantor sampai menjadi seorang perempuan dewasa yang harus mampu menghidupi seorang anak.

Betapa pelajaran itu bisa didapatkan dari mana saja, dari hal-hal paling menakutkan, menjengkelkan, menyenangkan, semua memperkaya hati dan pikiranku.

Ada masa-masa ketika aku merasa hidup begitu menjengkelkan, keluarga begitu tak support, kisah cinta yang begitu horrible, pekerjaan menuntut terlalu banyak waktu. Saat memikirkan itu, memang rasanya kita seperti orang paling menderita di dunia. Tapi percayalah, semua itu dinamika hidup. Saat memikirkan betapa beruntungnya punya 6 orang saudara kandung yang menyayangiku, punya anak yang begitu tampan dan mencintaiku, punya pekerjaan di kala orang lain tak memiliki pekerjaan seexcited yang aku miliki, punya banyak teman yang nyata maupun maya, punya kekasih yang mencintaiku.

Saat merasa lelah dan down, aku cukup melihat ke dalam diriku kembali betapa beruntungnya dapat merasakan hidup seperti ini. Ketika kita banyak merasa bersyukur dan beruntung, segalanya menjadi lebih berwarna, indah dan mengagumkan.

Terima kasih Tuhan.


TAGS bersyukur hidup cinta keluarga


-

Author

Search

Recent Post