Banjir dan Introspeksi Diri

23 Jan 2013

Seluruh Indonesia bahkan barangkali dunia sempat terpaku pada wilayah Jakarta sejak hari Rabu tanggal 16 Januari 2013 sampai dengan hari ini karena bencana banjir yang melanda ibukota dan beberapa daerah di sekitarnya. Tiba-tiba saja stasiun televisi penuh dengan berita banjir di Bundaran Hotel Indonesia, Bantaran kali Ciliwung, Pluit, dan bahkan berita terperangkapnya beberapa orang di basement sebuah bank.

Melihat beritanya saja ngeri rasanya apalagi kalau kita merasakan langsung bagaimana rumah terendam air setinggi 50 cm, 70 cm dan bahkan 3 meter.

Aku sendiri tinggal di lokasi yang sangat dekat dengan banjir, di sebuah pemukiman penduduk di daerah Puri Kembangan. Entah karena belum sempat mencari tempat tinggal yang lebih lega (karena yang sekarang memang tergolong sangat kecil) atau karena pertimbangan lain seperti mencari pengasuh anak yang menyebabkan aku masih betah tinggal di sana. Daerah rumahku itu berada di dataran yang sangat tinggi. Banjir merendam lokasi lampu merah puri kembangan sampai setinggi perut (satuannya bukan dalam centimeter ini) dan mengarah ke Karang Tengah bahkan lebih parah.

Lalu bagaimana dengan tempat tinggalku? Perbedaan tinggi rumahku dengan TL (traffic light) puri kembangan adalah 150 meter lebih tinggi. Pada hari pertama banjir (Rabu) aku sempat keluar rumah untuk berangkat ke kantor melalui jalan pinggir tol karena jalan yang biasa dilalui sudah terendam air semata kaki. Lalu akhirnya kembali ke rumah siang hari karena semua jalan menuju tempat kerja terhalang banjir. Hari kedua banjir semakin tinggi meski rumahku tak kenapa-napa. Hujan malah tak henti-hentinya turun pagi, siang, malam. Aku sempat mengecek beberapa warung yang mulai kehabisan beras, telur dan mi instan dan ikut menyetok beberapa.

Pada hari ketiga banjir semakin parah, bahkan menurut berita ketinggian air di bendung Katoelampa semakin besar dan harus dibuka agar tidak jebol. Aku sempat diminta untuk mengungsi ke apartemen iparku di daerah pesanggrahan bila banjir semakin tinggi. Sementara itu sekitar 700 meter ke arah kiri dan kananku rumah-rumah sudah terendam.

Aku sempat panik, melihat dompet yang memang masih ada uang tunai, memeriksa atap yang mulai terlihat lembab di bagian pojok rumah, bolak-balik membuka twitter dan beberapa portal berita untuk mengecek lokasi banjir, menonton semua channel berita di tv swasta. Bahkan aku sudah sempat membungkus beberapa dokumen penting ke dalam plastik berjaga-jaga bila harus mengungsi.

Belum pernah aku merasa panik menghadapi bencana.

Enrico memantau suasana banjir

Enrico memantau suasana banjir

Namun betapa bersyukurnya ternyata pada hari Sabtu hujan mulai mereda, air yang menggenang di TL Puri mulai surut sekitar 15cm, sempat ada info listrik akan mati namun ternyata tak jadi. Selama 4 hari terperangkap banjir itu pun aku tak kekurangan makanan karena ada saja warung nasi yang buka, bahkan warung sayur pun tetap menjual sayuran segar. Penduduk sekitar rumahku yang merupakan warga Betawi asli yang biasa mencari nafkah dengan ojek malah mendapat rejeki dengan mendorong gerobak dan motor yang mogok. Aku tak merasakan suasana mencekam di daerah sekitar rumahku.

Saat ini, suasana sudah kembali normal meski jalan-jalan terlihat penuh lubang. Terbersit pertanyaan dalam pikiranku bagaimana seandainya aku yang mengalami banjir dan harus mengungsi? Betapa kecil andilku selama ini dalam mencegah bencana banjir. Saat melihat televisi dan social media, begitu banyak orang yang saling menyalahkan. Padahal saat inilah waktunya kita mengintrospeksi diri. Sudah benarkah perbuatan kita pada alam dan lingkungan? Pemerintah yang telah melakukan kesalahan di masa lalu haruskah dihujat lagi ketika mereka ingin berbenah?

Andai bisa mengulang sebelum kejadian banjir tentu mereka pun ingin memperbaiki sistem drainase kota, menambah lahan hijau untuk menyediakan tanah resapan air yang lebih banyak, mengurangi beban kota dengan membatasi pembangunan gedung, semoga saja demikian. Aku masih terus berharap bencana ini tak akan berulang. Setidaknya tak ikut mencaci-maki dan menyalahkan.


TAGS banjir Jakarta


-

Author

Search

Recent Post