Author Archive

Biarkan Blogger Bicara

Hampir empat tahun aku menobatkan diri dan mengaku-ngaku diriku sebagai seorang blogger.

Yah, sepertinya sih aku memang cukup kompeten untuk mengaku diriku blogger. Pertama, karena aku punya blog, kedua karena aku sering posting walaupun belakangan jarang banget dan malah di blogku yang satunya aku sering dituduh postingannya berbayar semua atau sekedar ikutan kontes menulis berhadiah. Apapun itu, aku tetap boleh donk mengaku blogger.

Sebenarnya blogging sudah lama sekali dimulai sebelum tahun 2008 itu dimana aku mulai ngeblog di blogdetik. Blogging mungkin sudah dimulai sejak sekitar tahun 1999 atau malah sebelumnya. Kalau pernah ingat jaman ada friendster dulu, di sana pun tersedia kolom untuk blogging.

Bagi yang tak terbiasa menulis, mula-mula ngeblog itu agak sulit. Pasti mikir, mau posting apa ya? Kira-kira kalau aku posting tentang cerita di kantorku ada yang baca gak ya? Atau, misalnya bingung apakah bahasa dalam postingannya enak dibaca atau tidak. Kebingungan-kebingungan ini akhirnya melahirkan banyak sekali pelatihan blog, buku-buku tentang bagaimana cara ngeblog dan menulis yang baik.

Menurutku semua tulisan di blog itu baik. Selama isinya tidak memprovokasi atau merugikan orang lain. Jangan bicara konten dan tampilan dulu deh. Sekarang kita bicara tulisan saja. Tulisan kita, apapun isinya, merupakan informasi yang bisa dibaca oleh semua orang. Bukan cuma di jakarta ini saja, bukan cuma di Indonesia, tapi in the whole world bahkan kalau memang di planet Mars ada makhluknya dan di sana ada hot spot mungkin mereka baca ini postinganku.

Bagaimana dengan bahasa? Bahasa yang digunakan ada baiknya bahasa indonesia yang wajar. Kalau ingin menuruti kaidah EYD baik juga. Kaku atau tidak bahasa kita tergantung pada siapa yang akan membaca. Tak semua pembaca blog kita adalah remaja atau orang dengan umur seusia kita kan? Ada juga misalnya guru bahasa Indonesia yang apabila membaca tulisan tak sesuai kaidah bahasa Indonesia tentu akan sakit kepalanya. Yang penting adalah jangan menulis dengan bahasa 4lay atau singkat-singkat shg smw org g phm.

Lalu masuklah kepada tampilan. Tampilan blog kita adalah tampilan yang kita pilih dengan berbagai macam pertimbangan. Ada yang memilih tampilan sesuai dengan kepribadiannya. Misal, seorang remaja perempuan mungkin senang dengan segala sesuatu yang berwarna pink, maka dia memilih tampilan blognya begitu pinky. Ada pula yang mempertimbangkan kegunaan dari sidebar, misalnya untuk theme tertentu yang digunakannya memungkinkan untuk bisa mendisplay banner, blogroll, dan lain-lain.

Jangan terlalu stress dan terpaku pada tampilan blog, tagline, apalagi isinya. Selama isi dari tulisan kita informatif dan wajar-wajar saja, tulisan nantinya akan mengalir berkarakter.

Jadi, sekarang apa? Tulis sajalah, jangan ragu.

Comments (27)

Dangdut Kasta Brahmana

Postingan ini aseli terinspirasi oleh postingannya yuni salah seorang adek bloggerku yang sekarang masih setia pada kota Suroboyonya.

Yuni memposting tentang musik dangdut vs jazz yang menurutnya bahwa dangdut itu berada pada kasta terendah dalam jajaran musik-musik di seluruh Indonesia (mungkin, bukan dunia).

Istilah kasta yang aku tulis ini tidak bermaksud menyinggung salah satu suku hanya sebagai perumpamaan saja.

Memang sejak kecil, di dalam rumahku tak pernah satu orangpun yang memperkenalkan musik dangdut di telingaku. Alm ayahku penyuka lagu-lagu Latin dan semua lagu yang macam Elvis Presley, Engelbert Humperdick gitu yang suaranya bas-bas gimanaaa gitu. Alm ibuku penyuka lagu-lagu pop, keroncong dan lagu daerah mungkin ini adalah akibat dari profesinya sebagai guru bahasa Indonesia dan guru kesenian otomatis beliau memang pintar menyanyi dan nembang jawa juga.

Sementara itu kiblat musikku lebih persis kepada abangku sebagai anak sulung di keluarga. Si abang ini suka banget dengan lagu-lagu rock, pop rock, ballad dan jazz. Dan lagu-lagu yang paling sering terdengar di rumah ya lagu-lagu rock dan ballad itu. Memang sih tetanggaku juga suka musik dan tak jarang pula mereka nyetel lagu kenceng banget. Tapi, lagi-lagi mereka juga gak suka dengan lagu dangdut, yang kuingat sih dulu tetanggaku sering muter lagu-lagunya panbers, pance pondaag dan lagu-lagunya dedy dores *cengir*.

Kemudian di sekolah, aku mulai berbincang tentang musik itu pas SMP. Perbincangan dengan teman-teman, kebanyakan dari mereka sukanya lagu pop, kebetulan pula aku punya pacar seorang vokalis band yang sukanya lagu-lagu Roxette dan Slank. Dan entah kapan gitu saat ada yang muter lagu dangdut mereka langsung bilang, ih norak, kampungan. Tapi tetep sih ada yang suka banget sih dengan musik ini seorang temanku namanya Zainal. Si Zainal ini anak tukang sate padang dan tinggalnya juga di pasar, jadi beberapa temanku juga tak mau temenan dengan dia karena selain gayanya yang memang agak nyeleneh juga pemilihan musiknya yang menurut teman-temanku sangat tidak keren.

Lalu, melihat perkembangan musik ini dengan penyanyi-penyanyinya yang bisa dikatakan berbusana agak sedikit too much aku pun mulai menganggap bahwa memang musik ini untuk kalangan bawah. Belum lagi kalo diundang ke acara kondangan di luar kota, biasanya penyanyi-penyanyi dangdutlah yang mentas, siang masih berpakaian sopan, malam satu-persatu busana mereka terbuka. Mulai tambah percaya deh kalo musik ini kampungan.

Kenapa sih musik dangdut ini selalu diangggap norak dan kampungan? Mungkin nih ya berdasarkan opiniku aja, karena penyanyinya suka mengumbar goyangan yang sebenarnya gak harus seperti itu juga sih. Belum lagi dari cara mereka berpakaian, glitter-glitter yang melengkapi para penyanyi dangdut itu kesannya memang dangdut. Trus, liriknya itu lho hadooh gak nguatin banget. Gak usah liriknya deh, judulnya aja udah fantastik misalnya Mabok Janda :D.

Tapi ternyata belakangan, beberapa artis dangdut terlihat lebih elegan baik musik maupun penampilannya. Tak perlulah kita bahas lagu Cinta Satu Malam yang videoklipnya aja bikin tutup mata (sambil ngintip). Musik dangdut kini mulai dikenal lebih berkelas apalagi sejak ada artis muda baru yang Korean Style pula gayanya. Lagunya pun asik dibawakan dalam aliran musik jazz, kesan dangdutnya tetap ada namun lebih enak didengar.

Apakah aku kemudian berubah pikiran untuk menyukai musik ini? Nggak juga sih, cuma mungkin akan lebih mau dengar apalagi kalau penyanyi dangdutnya gak selalu tampil heboh dengan pakaian yang mengundang. Musik dangdut akan naik kelas dan tak dituduh kampungan lagi pada akhirnya. Sik Asik kan? :D

Comments (2)

Lubang Besar Berbentuk Tuhan [Book Review]: God-Shaped Hole

7bac5786b09762419b9929e1b7c97085_god-shape-hole

Book review
Started on: April 5, 2012
Finished on: April 6, 2012
Judul buku: God-Shaped Hole (Kekasih Idaman)
Penulis: Tiffanie de Bartolo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 448 halaman
Tahun terbit: cetakan pertama, Februari 2012
Harga: Rp. 65.000 (TB Gramedia)


“Kalau niatmu tulus, aku sedang mencari teman untuk menghadapi akhir dunia”

Adalah Beatrice “Trixie” Jordan yang merasa hidupnya begitu membosankan. Meski berasal dari sebuah keluarga berkecukupan namun ia kehilangan sosok ayah. Karirnya sebagai perancang perhiasan yang cukup berhasil tak membuatnya luput dari perasaan kosong sebab kehidupan percintaannya selalu gagal, belum lagi kota Los Angeles dengan segala kepalsuannya membuatnya muak dan ingin sekali meninggalkan kota itu untuk menetap di suatu daerah yang nyaman, Pada suatu hari di masa kecilnya ketika berusia 12 tahun Beatrice pernah diramal bahwa satu-satunya cinta sejatinya akan mati muda dan meninggalkannya.

Sementara itu seorang Jacob Grace merupakan penulis di The Weekly. Ia memiliki kesamaan seperti Beatrice yang dipanggilnya Trixie, sama-sama kehilangan sosok ayah, dan merasa kosong serta bosan hidup di Los Angeles. Pada suatu hari Jacob memasang iklan di LA Weekly yang sebenarnya adalah merupakan potongan sebuah lagu. “Kalau niatmu tulus, aku sedang mencari teman untuk menghadapi akhir dunia”. Iklan itu menarik perhatian Trixie yang sedang dalam puncak kebosanannya dalam menghadapi hidup. Maka ia pun menghubungi Jacob.

Sejak awal perkenalan keduanya langsung merasa saling tertarik satu sama lain. Ketika akhirnya merasa jatuh cinta, Trixie masih saja teringat pada ramalan masa kecilnya tentang cinta sejatinya. Namun mereka melewatkan hidup mereka berdua dengan saling mengisi sebab perasaan kosong yang mereka rasakan. Mereka memutuskan untuk hidup bersama dan memiliki impian jika akhirnya Jacob bisa menerbitkan buku, mereka akan segera pindah dari Los Angeles ke sebuah kota kecil yang nyaman.

Hubungan cinta di antara mereka tak melulu berisi tentang hal-hal yang indah saja. Kadang ada pula goncangan yang datang saat mantan kekasih Jacob tiba-tiba membuat cemburu Trixie, atau saat Jacob terguncang akibat pertemuannya dengan ayah kandungnya.

Jacob dan Trixie merasa dengan saling menemukan mereka telah mampu mengisi kekosongan lubang berbentuk Tuhan yang ada di dalam jiwa mereka. Padahal sesungguhnya kekosongan yang mereka rasakan tak semata karena kebutuhan akan cinta dari pasangan hidup namun juga dari ayah dan keutuhan keluarga mereka. Ketakutan yang dirasakan Trixie untuk sebuah kehilangan semakin terasa setiap kali ia mengingat ramalan masa kecilnya. Trixie dibayangi oleh mimpi buruk dimana Jacob terjebak dalam pusaran air. Ketakutan akan kematiannya membuat Trixie selalu mencemaskan Jacob dimanapun ia berada.

Pertanyaan kita saat membaca novel ini adalah apakah ramalan itu memang benar terjadi seperti ketakutan yang terus dirasakan oleh Trixie? Atau mereka berdua akan mampu mewujudkan impian untuk keluar dari Los Angeles dan menjalani hidup bahagia seperti mimpi-mimpi mereka.

God-Shaped Hole.

Untuk sebuah novel perdana, buku ini sangat bagus menurutku karena ditulis dengan bahasa yang sama sekali tidak membosankan. Aku hanya butuh beberapa jam dalam dua hari untuk menyelesaikan buku ini. Dari segi cerita yang begitu wajar mengalir. Untuk edisi Indonesia, kalimat-kalimat terjemahannya  sangat bagus sehingga mampu dipahami oleh pembaca.

Judul yang unik inilah yang membuatku ingin membeli dan membacanya meski sebenarnya dari dulu aku tak pernah suka buku dengan cover foto.

Yang menjadi ganjalan adalah judul terjemahannya: Kekasih Idaman. Rasanya tidak mewakili cerita dari novel ini, sebenarnya mungkin judul Lubang Berbentuk Tuhan tidak terlalu aneh untuk sebuah judul.

God-Shaped Hole yang diartikan sebagai lubang besar di dalam jiwa kita yang seharusnya merupakan tempat dimana Tuhan berada.

Karena setiap manusia memang melakukan pencarian. Pencarian terhadap kekosongan yang mereka rasakan. Ada yang mengisinya dengan kehadiran anak-anak mereka, ada yang mengisinya dengan terus memfokuskan diri pada pasangannya, pada teman-temannya, pada pekerjaannya, bahkan ada pula yang berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbelanja. Dengan pakaian baru, sepatu baru, tas baru. Setiap manusia berusaha terus melakukan pencarian untuk mengisi lubang berbentuk Tuhan itu semata-mata untuk melarikan diri dari kesedihan-kesedihan mereka. Dan memang Tuhanlah yang seharusnya berada di sana.

Comments (16)

Tendangan si Madun: Teknik Bermain Bola dengan Kekuatan Gaib

Tumben yah pagi-pagi gini aku udah nyinyir pengen ngerasanin sinetron ala Indonesia.
Sebenarnya sinetron Indonesia sudah bermula sejak jaman sandiwara di TVRI yang berjudul Losmen (ini kalo gak salah ya). Dulu, channel telivisi cuma ada satu TVRI nasional. Siarannya pun pada weekdays bermula pukul 4 sore dan berakhir pukul 10 atau 11 malam.
Sementara di hari Minggu siaran dimulai pagi jam 7 sampai jam 12 siang, lalu istirahat dan dimulai kembali jam 4 sore seperti biasa. Malam minggu siaran berakhir jam 12 malam.

Siaran yang begitu terbatas membuat tayangan yang disiarkan TVRI menjadi fokus tontonan seluruh rakyat indonesia yang sudah memiliki televisi tentunya. Siarannya cukup beragam, mulai dari berita nasional (Dunia Dalam Berita), acara musik,animasi untuk anak-anak, hiburan semacam lawak, film serial asing dan sandiwara lokal semacam sinetron. Yang aku ingat, masa kecil dulu ada sebuah sinetron berjudul ACI aku cinta indonesia, Si Doel Anak Sekolahan, Losmen, Desaku Bumiku (bener gak ya?), Keluarga Cemara. Semua tayangan sinetron ini sangat wajar. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia dalam beragam latar belakang. Semua sinetron jadul itu menginspirasi, tak berlebihan dan mengandung hikmah tentunya. Sebagai anak-anak usia sekolah pun orang tuaku tak melarang aku untuk ikut menikmati tontonan sinetron ini.

Sejak terbitnya berbagai channel televisi baru, RCTI, TPI yang skrg jadi MNCTV, SCTV, antv dan lain-lain tiba-tiba saja hadir telenovela. Tak lama kemudian hadir pula drama Jepang, India, Cina dan seterusnya. Barangkali kehadiran telenovela inilah yang menjadi inspirasi awal para produser sinetron sebab aku dulu salah seorang pelanggan telenovela apalagi yang pemainnya cantik-cantik dan bajunya bagus-bagus. Inti cerita dari semua telenovela memiliki kesamaan bahwa si kaya adalah org yg sombong dan kadang jahat sementara si miskin adalah org yang baik namun menderita dan akhirnya menjadi bahagia dan kaya juga. Meski dengan cerita dan pemain yang berbeda-beda serta jalan cerita yang beda tapi intinya ya kaya gitu itu.

Nah, sinetron pertama yang aku tonton dulu di Indonesia adalah Tersanjung. Dalam arti menonton dengan sebenar-benarnya. Mengikuti jalan cerita setiap minggu. Ceritanya sih aku udah lupa tapi semakin diikuti koq ya ini sinetron gak ada habisnya sampe udah ganti anak mudanya dari Lulu Tobing jadi Jihan atau siapa gitu dan malah sampe punya anak trus anaknya besar dan punya anak lagi. Inti ceritanya pun tetep sama seperti telenovela itu cuma dipanjang-panjangin aja biasalah namanya juga drama. Tapi aku malah merasa sinetron ini makin diikuti koq makin menjebak, dalam arti kita koq mau-maunya gitu ya dibuat penasaran dengan adegan terakhir yang to be continued itu padahal sebenarnya udah tau juga sih nanti kaya apa. Maka sejak itu aku memutuskan untuk berhenti nonton sinetron.

Cukup lama aku menghindari segala macam sinetron sampai akhirnya anakku mulai suka nonton sinetron aneh gaya Sule. Sebenarnya sinetron ini tidak mendidik. Bayangin aja, masa sih ada pak RT yang begonya gak sante, belum lagi majikan yang selalu dikerjai oleh pembantu dan supirnya. Sama sekali tak mengandung inti cerita yang penting untuk ditonton. Cuma lawakan buat hiburan aja. Maka selama menonton itu meski aku ikut tertawa bersama anakku tapi aku selalu mengingatkan bahwa apa yang dilakukan di dalam cerita tak boleh diikuti. Dan ia pun cukup paham.

Pada suatu hari, karena anakku ribut ingin nonton sinetron si Madun yang sering dibicarakan teman-temannya di sekolah maka aku menuruti keinginannya. Jadilah kami nonton si Madun berdua. Tendangan si Madun judulnya. Kalau melihat dari tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya sih harusnya sinetron ini memang dikonsumsi untuk anak-anak. Madun itu masih SD (SD kan ya?), anak betawi, ayahnya seorang yang sangat patuh pada ajaran agama dengan logat Medan yang terlalu dibuat-buat sementara ibunya yang katanya orang kurang mampu terlalu cantik dengan dandanan lipstik dan maskara tebal. Tidak wajar, tidak natural.

Ketika masuk ke cerita tentang Madun yang musuhan dengan si Martin (hadooh ini kan nama papanya enrico) mulai deh terasa gak nyaman buatku. Martin yang dikabarkan sebagai tokoh licik dan selalu iri hati berusaha keras untuk selalu mengalahkan timnya si Madun. Nah yang lucunya di sinetron ini ada pula tokoh anak perempuan yang bergaya pendekar Cina dan anak laki-laki yang pakaiannya macam pendekar cina jaman dulu. Lebih nggak masuk akal lagi adalah ceritanya ketika mereka adu keahlian teknik bermain bola, bisa-bisanya bola melayang-layang di bawah telapak tangannya atau bolanya bisa muter-muter di sekeliling badan dan di atas kepala.
Trus kemudian ada kekuatan gaib yang menyebabkan tendangannya memiliki kekuatan besar banget sampe-sampe saat bola menyentuh tubuh lawan, orangnya bisa mental jauh. Hahahhaa ini asli lawak-lawakan. Begitu pikirku mula-mula.

Tapi ternyata, anakku menangkap pesan yang salah dari sinetron ini. Dia menganggap bahwa benar ada orang yang bisa melakukan hal-hal seperti yang ada di sinetron itu. Dengan usia kindergartennya dan sosialisasi di sekolah bersama teman-teman tentu tak sekali dua enrico bermain bola meski cuma bola plastik. Tapi yang mengagetkanku adalah ketika dia bertanya “Ma, gimana sih cara buat bola berputar-putar di bawah tanganku?”. Pertanyaan ini langsung menghubungkanku pada sinetron Madun dan aku akhirnya harus menjelaskan bahwa apa yang ada di cerita tak semuanya benar.

Logika sajalah, kalau memang orang Indonesia bisa bermain bola macam di sinetron Madun masa sih timnas kalah terus? Entahlah menurut orang lain cerita di sinetron Madun ini terasa wajar saja tapi menurutku sinetron Madun sangat salah untuk ditayangkan karena menyebarkan ajaran yang tak masuk akal.

Comments (72)

Manfaat AC Kesehatan untuk Kulit Cantik

Sebagai pemilik kulit sensitif, aku termasuk salah seorang yang cukup pemalas dalam merawat kulit. Semasa masih remaja sejak duduk di bangku SMP, kulitku yang berminyak sudah mulai terlihat mengeluarkan banyak jerawat. Karena dasarnya cuek, aku tak terlalu pusing untuk sibuk merawat kulitku, hanya bermodalkan sabun cair yang dipakai pagi dan malam hari saja. Selebihnya cukup dengan mengoleskan krem atau lotion jerawat saja.

Seiring waktu ternyata kulit sensitifku pun tak berubah juga. Meski usia sudah tak remaja lagi, namun kulitku tetap berminyak dan bermasalah seperti remaja. Labil begitu. Belum lagi sejak pindah ke ibukota yang tingkat polusi dan sengatan mataharinya serasa di atas rata-rata. Saat berada di perjalanan bukan hanya sengatan matahari yang memapar kulitku namun juga debu dan asap kendaraan. Duh semakin bermasalah saja rasanya. Saat tiba di kantor yang dilengkapi pendingin udara pun malah semakin tak nyaman karena biasanya kulit akan menjadi kering dan bersisik. Belum lagi jika udara kotor yang tersaring di dalam AC tidak dibersihkan, bukan kulitku saja yang makin tak sehat tapi tubuhku pun tak jarang menjadi sakit. Sebab udara dingin yang dikeluarkan oleh AC mengandung butiran kotoran yang terhirup oleh paru-paruku.

Di rumahpun aku memiliki masalah yang sama, karena pada umumnya udara di Jakarta memang panas dan aku belum mampu beli rumah terpaksa sampai hari ini aku masih ngontrak di sebuah rumah di Jakarta Barat. Permasalahannya adalah, pemukiman di sana sudah semakin padat padahal dulu pertama kali aku datang tahun 2005 masih banyak pepohonan dan tanah tanpa bangunan. Tetapi karena sibuknya kegiatan membangun mall dan apartemen, otomatis banyak karyawan mall dan apartemen yang mencari tempat tinggal di sekitarku. Hilanglah pohon-pohon yang sejuk serta tanah tempat air meresap, berganti dengan banyaknya rumah kontrakan. Udara semakin panas dan pengap. Masalah lainnya adalah listrik di tempatku terbatas kapasitasnya jadi aku tak bisa memasang AC hanya puas dengan kipas angin saja.

Kemarin, saat mengunjungi salah seorang teman di kantornya, aku mengeluhkan udara panas di luar ruangan yang kontras dengan suasana dingin di dalam gedung kantornya. Lalu curhat terselubung tentang masalah kulitku, tentang AC kantor yang bikin aku sakit dan suasana panas di dalam rumahku saat malam hari.

Temanku bilang bahwa di rumahnya sekarang sudah memasang AC peduli kesehatan kulit. Wah, aku jadi tertarik, dan coba baca-baca infonya , ternyata AC LG Skin Care Deluxe Inverter V ini memang AC Kesehatan yang peduli dengan kecantikan kulit. Kenapa bisa menjadi AC yang peduli perawatan kulit? Sebab dengan teknologi Plasmaster yang dimilikinya, AC LG Skin Care Deluxe Inverterr V ini menyediakan lebih dari 54 triliun partikel ion yang mampu mensterilkan bakteri dan zat-zat berbahaya lainnya. Lalu Inovasi generator Ion Plasmasternya menyediakan fungsi perlindungan kulit yang sangat baik untuk menjaga kulit tetap lembut dan terjaga kelembabannya.

b44e17826a7a9d569f4f66d88b055b5f_h-deluxeinverter

Selain itu AC ini juga akan memberikan efek lebih sehat sebab memilki Plasmaster Auto Cleaning yang bertugas membersihkan bagian dalam dari AC dengan melakukan pengeringan pada evaporator, kemudian melakukan sterilisasi sekali lagi. Plasmaster filternya juga menangkap partikel debu yang langsung dibakar dan dihilangkan ketika tertangkap oleh medan listrik.

Hm hm hm jadi tertarik nih mau pasang di rumah. Eh tapi aku kan punya permasalahan lainnya, yaitu keterbatasan tegangan listrik yang disediakan oleh pemilik rumah. Tapi temanku langsung bilang bahwa AC LG Skin Care Deluxe Inverter V ini hemat energi juga punya Mode Deep Sleep yang akan meningkatkan temperatur sebesar satu derajat setiap 30 menit, dengan demikian temperatur bertambah sebesar 2 derajat per jam untuk menciptakan suasana tidur yang lebih baik dan lebih nyaman. Aaaaargh jadi tambah pengen.

Sepertinya akan menjadi the next produk yang masuk dalam whislistku deh :D.

Comments (4)

Haruskah menjadi Golput Permanen?

Sejak berumur tujuh belas tahun, ayahku menghadiahiku sebentuk kartu berwarna putih dengan kemasan plastik yang belum dilaminating, di dalamnya ada tulisan Kartu Tanda Penduduk, sebuah pasfoto 2×3 dan di bagian belakang ada namaku, tempat tanggal lahir, alamat, status yang tidak menikah diketik rapi dengan huruf-huruf yang ketauan banget dari mesin tik jadul yang panjang dan selalu bunyi saat dipakai.

Sejak memiliki KTP itu, aku merasa harus mulai bertanggung jawab sendiri terhadap hidupku, mulai memperhatikan apa sajakah hak dan kewajibanku sebagai seorang warga negara Republik Indonesia. Maka pertanyaan itu aku tujukan pada ayahku, dan beliau menjawab untuk sementara ini kewajibanmu adalah menamatkan pelajaran di bangku kuliah, kemudian mengikuti Pemilihan Umum. Pemilu pertama yang aku ikuti adalah Pemilu tahun 1997, saat itu usiaku 20 tahun dan sedang berada pada tahun ke-4 sebagai mahasiswa.

Pemilu tahun 1997 ini adalah pengulangan dari pemilu yang berlangsung sejak tahun 1977 yang merupakan edisi orde baru. Pemilu yang hanya memiliki 3 partai saja dengan Golkar sebagai pemegang power tertinggi dan dua partai penggembira lainnya yaitu PDI dan PPP. Sebenarnya aku setengah-setengah hati mengikuti pemilihan umum dan sama halnya dengan kakak-kakak dan adikku, tapi karena ayahku saat itu merupakan ketua TPS di lingkungan kami jadi rasanya malu aja kalau anaknya Pak Hardy gak ikutan milih. Harus memberikan contoh yang baik sebagai warga negara yang baik. Aku tak ingat memilih apa yang pasti aku tidak memilih Golkar, karena kupikir kasihan juga partai selain Golkar yang suaranya pasti sedikit. Ibuku sendiri sebagai PNS, tak perlu ditanya pasti beliau memilih Golkar dan ayahku yang aku tau salah seorang pembenci Golkar mungkin memilih PDI atau P3, kami semua merahasiakan pilihan kami sesuai azas pemilu saat itu LUBER, Langsung Umum Bebas dan Rahasia.

Tapi anehnya, saat penghitungan suara, dari begitu banyak warga Lorong VII (kalau di jakarta namanya RT) hanya ada 1 suara PDI dan 1 suara PPP, padahal sudah jelas aku tak memilih Golkar, ayahku tak memilih Golkar dan satu keluarga di lingkunganku seorang caleg dari PPP. Koq ya aneh gitu rasanya suara PPP cuma 1? Kemudian dengan sangat penasaran aku bertanya pada ayahku tentang masalah ini, dan beliau berusaha menjelaskan bahwa mungkin saja surat suaranya tidak sah dan lain-lain aku sih tak terlalu paham suasana politik pada masa itu karena memang aku tak tertarik sama sekali.

Siapa sangka tahun 1998, pemberontakan pecah menyebabkan turunnya Presiden Soeharto yang dianggap telah sewenang-wenang berkuasa selama masa orde baru, dan wakilnya bapak BJ Habibie menggantikan. Lalu setahun kemudian pada 1999 pemilu pun dilangsungkan kembali, Pemilu kali ini sangat berbeda dari Pemilu masa orde baru yang LUBER itu karena selain diikuti oleh 5 partai Golkar, PDIP, PPP, juga ada tambahan 2 partai yaitu PKB dan PAN. Istimewanya pada pemilu kali ini adalah rakyat memilih wakil-wakil mereka di DPR, DPRD dan MPR sementara presiden dipilih oleh MPR. Saat itu aku juga memilih partai lain selain Golkar dan lupa entah partai yang mana. Mungkin juga PAN karena salah seorang teman dekat abangku adalah caleg PAN yang saat ini telah duduk di kursi DPRD.

Pada pemilu kali ini harapanku sebagai seorang warga negara sangat tinggi kepada pemerintahan. Ingin melihat perbaikan banyak hal mulai dari birokrasi, tingkat pendidikan dan kesehatan yang meningkat, menurunnya jumlah korupsi, dan banyak hal lain yang seperti sebuah impian untuk dapat meraihnya. Namun ternyata makin banyak saja orang-orang yang rakus dan lebih rakus. Indonesia yang dulunya dijajah oleh Belanda, Portuguese dan Jepang, akhirnya kini dijajah oleh bangsanya sendiri.

Tahun 2004 sampai dengan sekarang aku tak pernah lagi memilih wakil rakyat ataupun presiden pada pemilihan umum. Ada beberapa orang yang mengatakan sayang sekali satu suaraku terbuang yang mungkin bisa mempengaruhi pilihan terbaik yang aku berikan setidaknya pada wakil rakyat. Tapi rasanya koq ya semua seperti omong kosong saja, makin maraknya livediscuss membahas macam-macam dunia hukum dan politik, makin pintarnya rakyat berkata-kata entah itu di forum terbuka, di seminar ataupun hanya beropini di blog, kepalaku makin penuh dengan kebimbangan. Semua merasa lebih ahli, lebih pintar bicara dan lebih benar.

Entah siapa yang bisa dipercaya dan entah siapa yang memakai topeng. Rasanya aku tetap akan menjadi golput untuk pemilu yang akan datang dan entah sampai kapan.
Semoga Tuhan memberkati pemimpin bangsa ini dan semoga Tuhan juga membuka pikiranku untuk bisa mempercayai mereka.

Comments (9)

Mahasiswa: Sosok HERO Pada Jamannya

Tahun 1998 adalah sejarah dalam kehidupan bernegara di Republik Indonesia. Seorang Presiden bernama Soeharto yang telah berkuasa memimpin Republik ini akhirnya ditumbangpaksakan oleh pergerakan mahasiswa di seluruh negeri. Saat itu saya masih berstatus mahasiswa tahun keempat di sebuah universitas negeri di Medan.

Sebagai mahasiswa Farmasi, sebenarnya jadwal 24 jam sehari itu sangat sempit sekali. Rata-rata saya menghabiskan waktu di kampus dari pukul 7 pagi sampai 12 siang untuk mengikuti mata kuliah teori dari pengajar, beristirahat sampai pukul 2 siang untuk mengikuti aktivitas di laboratorium macam-macam sampai jam 6 sore. Dalam waktu istirahat yang singkat itu pun kami biasanya harus sudah makan siang, sholat, menghapal teori untuk tes masuk lab dan tak heran juga bila ada yang masih mengerjakan laporan hasil percobaan minggu sebelumnya. Hampir 90% mahasiswa farmasi tidak aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler semacam himpunan mahasiswa atau senat.

Tetapi, bagi saya hidup itu harus bervariasi. Maka selain kuliah yang begitu padat sayapun tak henti-hentinya mengikuti banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler dan aktif di himpunan mahasiswa dan senat. Pergaulan dan aktivitas yg banyak ini mengenalkan saya pada gerakan demonstrasi dan unjuk rasa. Pada tahun-tahun itu tentu yang paling dihighlight adalah pemerintah Orde Baru yang tidak demokratis. Namun saya tidak ingin mengikuti aktivitas demo dengan alasan yg sangat simple, gak mau panas-panasan :D.

Kembali ke gerakan unjuk rasa di tahun 1998 itu, itulah pertama dan terakhir kalinya saya mengikuti unjuk rasa. Bahkan kakak saya yg saat itu berada di tahun akhir masa perkuliahannya dan bukan tipe mahasiswa yang senang berorganisasi pun ikut. Mengapa? Simple saja. Karena mahasiswa. Saat itu baik mahasiswa model segitiga (kampus-perpus-rumah) atau pun mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa, turun ke jalan.

Kami berkumpul di gedung DPRD menggunakan jas almamater, berbaris rapi dengan masing-masing dikoordinir oleh seorang pemimpin. Sepanjang jalan menuju lokasi demo yang terjadi adalah banyak sekali rumah penduduk yang mengelu-elukan kami, kadang menawarkan minuman bahkan ada yang dapat makan siang gratisan dari beberapa pemilik warung makan. Mahasiswa adalah pahlawan penyelamat  yang mampu memperjuangkan nasib bangsa. Mahasiswa menjadi sosok yang sangat membanggakan. Bahkan saat demo berakhir sore itu saya masih ingat sekali, ketika menyetop angkot untuk pulang ke rumah, sang supir berkata “Pak, Buk kasi tempat duduk buat adek-adek mahasiswa kita ini” dan kami pun dilarang membayar ongkos.

Setelah pergantian pemimpin, republik menjadi ajang demokrasi yang secara perlahan-lahan menjadi cukup memuakkan. Bukannya bertambah baik, kelakuan pemimpin yang mengaku menjadi wakil rakyat malah lebih rakus dan tidak beretika. Dimanakah mahasiswa pada waktu itu? Saya pun masih mahasiwa sekitar tahun 1998 - 2001 sebab selepas menamatkan sarjana, saya melanjutkan kuliah profesi. Selama tahun-tahun itu saya sama sekali tidak ingin ikut lagi dalam kegiatan demonstrasi besar. Mengapa? Sebab ternyata mahasiswa mulai merasa sombong dengan sosok heronya yang telah menyelamatkan demokrasi di negeri ini. Mereka mulai sibuk berorasi sana-sini dengan kalimat yang makin lama makin arogan. Bahkan beberapa di antara teman-teman saya sengaja memancing emosi aparat keamanan untuk menciptakan suasana unjuk rasa yang lebih “fantastik”, semakin fantastik unjuk rasa itu dengan lemparan batu, siram-siraman gas airmata, peluru karet dan lainnya, maka mereka akan makin bangga menceritakan kehebatan dan keberanian mereka saat berdemo.

Berita-berita di surat kabar dan televisi juga internet mengatakan bahwa aksi mahasiswa disusupi pihak preman yang menyulut kekerasan. Preman? preman yang mana? Mahasiswa yang preman, ya. Tapi yang preman beneran mungkin hanya sebagaian kecil saja. Sisanya itu, mahasiswa beneran koq. Mahasiswa pun kehilangan simpati dan respek dari rakyat. Demo menjadi momok besar yang menakutkan, dan yang menjadi korban adalah mereka sendiri serta keluarganya.

Saya merindukan saat mahasiswa mampu mengendalikan emosi dan arogansi mereka ke dalam bentuk demokrasi yang lebih halus dan bersahaja. Pemimpin kita pun sebenarnya berasal dari mahasiswa bahkan ada seorang yang dulunya menjadi ketua pergerakan mahasiswa besar di indonesia yang akhirnya sekarang menjadi salah seorang yang dicurigai terlibat dengan kasus korupsi.

Menjadi mahasiswa itu tidak mudah, dengan kata MAHA di depan saja kita sudah lebih dari yang lainnya. Lebih tinggi tingkat intelektualitasnya, lebih mahal biaya pendidikannya, lebih dewasa dalam bersikap dan kelebihan lain yang harusnya memang kita miliki. Jadilah sosok mahasiswa yang menjadi pahlawan pada tempat dan waktu yang tepat.

Comments (29)

Maaf ya Cyiiin, Aku Gak Pilih Kamu

194314_10150114372746839_10440936838_6158031_5106178_o-copy

Sejak lahir, Tuhan telah merencanakan jalan hidup umat manusiaNya. Mulai dari pemilihan siapa orang tua yang melahirkan, lahirnya di rumah sakit gede atau di klinik bersalin, dokternya siapa, perawatnya jutek apa nggak, lahirnya normal atau caesar. Demikian pula nasib kita selanjutnya. Bila percaya Tuhan, biasanya manusia akan memahami bahwa ia ditakdirkan memiliki jalan hidupnya masing-masing.

Begitu juga pas lagi jatuh cinta.

Ada yang jatuh cinta sama guru sekolahnya sendiri, ada pula yang jatuh cinta dengan anak tetangga, tukang bubur ayam di dekat kantor, SPG di toko depan kasir yang tiap hari lewat, atau bahkan jatuh cinta pada saudara sepupu sendiri. Cinta sudah ditetapkan akan jatuh dimana, jam berapa, hari apa, dengan latar belakang nuansa apa.

Temanku misalnya, dia seorang anak dari sebuah keluarga kaya. Setiap hari berangkat ke kampus naik sedan silver yang bisa dihitung deh di kampusku ada berapa orang naek mobil kaya gitu dan itupun cuma dosen. Tinggal sendiri di sebuah rumah besar karena orang tuanya ada di kota lain. Sementara dia khusus dibelikan rumah dengan segala perabotan plus mobil dan satu orang tukang kebun, satu orang tukang masak yang siap melayani.

Pada suatu hari temanku ini jatuh cinta. Seperti biasa, curhatlah dia kepadaku. Katanya dia suka dengan seorang lelaki yang lumayan tampan mirip sama mas Duta-nya Sheila on sepen itu. Trus lelaki itu pun memberikan sinyal-sinyal bahwa dia juga jatuh cinta pada temanku itu.

Singkat kata singkat cerita (macam lagu dangdut) mereka pun jadian. Yah lumayanlah sebagai teman dekatnya aku kecipratan makan-makan. Trus mereka pun tak terpisahkan bagai dua sejoli dimabuk asmara yang selalu cerah ceria. Kemana-mana berduaaa terus, ke perpustakaan, ke mushola, ke laboratorium, ke kantin. Bahkan ke toilet pun berdua tapi yang satu belok kiri yang satu belok kanan. Pokoknya kata temenku ini mereka tuh cucok bok. Mulai dari selera musik sama, selera buku sama, selera makanan sama, untungnya selera pakaian gak sama karena kebetulan temenku ini pakai kerudung (gak kebayang kalo tuh laki juga suka pake kerudung).

Punya pacar di kampus itu banyak sisi positifnya karena kita jadi terpacu untuk terus berprestasi. Nilai-nilai makin oke, jarang bolos supaya bisa cepat tamat karena ada iming-iming ingin membangun mahligai rumah tangga yang bahagia. Jadi kedua orang ini pun terus bersama-sama saling menyemangati sampai masa pendidikan berakhir.

Lelaki yang dicintai temanku ini berasal dari keluarga biasa, bukan anak orang kaya. Berangkat ke kampus naik angkot, uang jajan cuma pas-pasan buat makan indomie sekali plus makan nasi uduk sekali sama minum teh botol. Tapi temanku ini tak pernah mempermasalahkan kesederhanaan kekasihnya. Gak menuntut macam-macam untuk terus ditraktir makan, nonton atau dibelikan ini-itu. Baginya, kecocokan dan saling pengertian dari dua orang pasangan kekasih itu lebih penting daripada harta atau materi.

Tapi ternyata, tak semua orang punya pikiran yang sama dengannya. Ketika keduanya sudah selesai kuliah, orang tua temanku pun ingin menjodohkan putrinya dengan anak seorang pengusaha di daerah Sumatera Barat. Dengan latar belakang keluarga terpandang memang sah-sah saja buat ayahnya bergaul dengan orang yang rasanya selevel dalam tingkat ekonomi dan ada keinginan untuk mengembangkan network melalui perjodohan anak.

Temanku ini hampir stress patah hati karena tak ingin meninggalkan kekasihnya. Dan sang kekasih cuma bisa pasrah karena sadar dengan kondisinya. Mulanya dia nekat ingin kabur dan lari dari keluarga. Karena pikirnya, ia gak mungkin lagi akan bertemu dengan lelaki lain dan bisa jatuh cinta seperti pada kekasihnya itu. Mereka sudah ditakdirkan untuk bertemu, jatuh cinta kemudian bersatu. Aku mencoba memberi pengertian bahwa ikatan keluarga lebih penting dari apapun, dan orang tua lebih sering benar dan tau apa yang lebih baik untuk anaknya.

Di antara kedua pilihan yang membingungkan itu, akhirnya ia pun memilih untuk mengikuti keinginan orang tuanya. Mereka berpisah dengan banyak sekali air mata. Selama hampir tiga bulan temanku itu frustasi dan merasa galau tak mampu melupakan kekasihnya.

Tapi, setelah beberapa bulan menikah, ia berubah pikiran. Selain hidupnya terasa lebih tenang karena tak harus menentang orang tua, ia pun telah jatuh cinta pula dengan suami yang dipilihkan mereka.

Jadi cinta itu bukan cuma takdir, namun kita pun bisa memilih cinta mana yang akan kita jalani.

Postingan ini menjawab pertanyaan:

pertanyaan-cinta-bbcblogdetik-1

Comments (10)

Diet Cinta

caloric-diet

foto dicuri dari sini

Pasangan yang baru saja saling jatuh cinta biasanya hidupnya berbunga-bunga terus. Pagi-pagi disapa dengan sms “selamat pagi sayang” atau telfon dengan suara merdu penuh cinta. Belum lagi sapaan di social media. Mengawali hari dengan sapaan cinta macam begitu pasti sampai malam pun rasanya waktu berjalan begitu indah.

Setelah melewati beberapa waktu pacaran, mulai deh keliatan sifat-sifat negatif yang dimiliki sesama pasangan. Ada yang suka telat kalo janjian, ngebatalin janji, bikin pasangan ilfil dengan sikap dan tingkah lakunya di depan orang lain. Macam-macam. Ada pula yang baik-baik saja, hubungannya mulus direstui di segala macam lingkungan, tapi koq ya bikin bosan.

Kebosanan kadang menyerang salah satu dari pasangan atau kedua-duanya. Kebanyakan yang menyatakan perasaan bosan itu adalah kaum lelaki walaupun sebenarnya perempuan juga banyak yang bosan dengan pasangannya namun mereka lebih pintar menutupi kenyataan. Kalau masih dalam tahap pacaran sih oke, bosan dengan si anu bisa langsung putus trus ganti sama ani (ini ani ya bukan anny :D). Tapi gimana kalau udah menikah? Masa bosan trus langsung pisah? Gak mungkin jugalah

Nah makanya cocok juga kalo ada pertanyaan macam gini:

satya-okie-riexel

Karena udah banyak banget kasus perselingkuhan dan lain-lain yang bersumber dari masalah bosan ini.

Trus solusinya apa?

Untuk menghindari kebosanan pada pasangan lakukanlah DIET CINTA.

Seumpama menjaga berat badan ideal dan menjaga kesehatan, kita pasti butuh diet untuk mengatur asupan karbohidrat, lemak , protein dan lainnya. Kalau hanya menuruti nafsu makan, ada kemungkinan akan terjadi kelebihan gula, lemak dan lainnya yang bisa mempengaruhi bentuk tubuh dan bahkan kesehatan. Overweight dan obesitas bukan sesuatu yang baik dari segi penampilan maupun kesehatan.

Demikian juga dengan cinta, kalau di awal hubungan terlalu banyak karbohidrat dan lemak cinta yang dicurahkan, maka akan terjadi penumpukan sel-sel lemak cinta di bawah kulit yang akan menyumbat peredaran darah cinta, suatu hari akan terjadi  kejenuhan yang melanda pasangan tersebut. Dengan Diet Cinta, asupan cinta yang ditumpahkan pada pasangan akan lebih teratur.

Yuk Diet Cinta agar keseimbangan berat cinta selalu terjaga bersama kekasih tercinta ^^.

Comments (8)

Sakit Cinta: Murahnya Tiada Dua

cinta-sakit-hati

Kalo cinta kenapa harus ada sakit hati? Sebab sakit hati saat jatuh cinta itu satu-satunya sakit paling gratisan di dunia.
Makanya pas lagi seneng cinta-cintaan gitu mendingan milih sakit hati lah daripada sakit-sakit yang laen.

Coba aja kalo misalnya sakit gigi macam lagu dangdut itu, yakin milih sakit gigi? kalo sakit gigi pas lagi jatuh cinta gitu banyak banget kerugiannya:

1. Tampang jelek karena pipi bengkak, akibat tampang jelek makin malu ketemu pacar ato gebetan

2. Berasa pengen marah karena ngeras nyut-nyutaan di pipi

3. Kudu ngeluarin duit buat ke dokter gigi ya minimal beli antibiotik sama beli antiinflamasi gitulah kalo antibiotik buat gigi aja nih satu strip isi 10 kapsul udah 20 ribuan belom lagi analgesiknya yang buat ngilangin sakit kalo yg merek pons**n itu jaman aku masih kerja di century aja udah 17 ribuan sekarang gak tau deh.

4. gak bisa makan enak-enak

itu baru satu penyakit, coba kalo sakitnya lebih parah macam sakit jantung, paru-paru, bengek, tbc, atau diabetes?

itu kudu mendapatkan perawatan yang lebih intensif. belum lagi obat-obatan dan biaya konsultasi sama dokternya lebih mahaaaal.

kalo cuma sakit hati karena cinta kan murah banget gak bakal ngeluarin duit sepeser pun laaah, paling juga ngeluarin duit buat pulsa untuk koneksi internet nyari-nyari tempat curhatan.

Udah, pilih sakit hati aja gak usah sakit yang laen. RUGI!

Comments (17)

Next entries » · « Previous entries