Archive for the ‘Tak Berkategori’ Category

Cinta Pakai Kaca Mata

Thursday, October 6th, 2011

cross_readers
CROSS Readers

Sejak dulu aku tak pernah berani mendefinisikan arti cinta. Meskipun banyak literatur yang menyuguhi teori tentang ini mulai dari buku-buku panduan cara membuat pasangan jatuh cinta atau sekedar opini personal dari blog.

Cinta itu adalah kata benda yang abstrak, ia tak berwujud namun biasanya dapat dirasakan. Merasakan cinta pun kadang-kadang tak semua orang bisa, tergantung bagaimana cara seseorang mencintai dan bagaimana cara ia mengekspresikan cintanya.

Waktu jaman SMP dulu saat pertama kali punya pacar, aku sama sekali tak tau dan tak merasakan cinta selain pada orang tua. Bahkan kepada Tuhan Sang Pencipta pun kadar cintaku bisa dibilang biasa-biasa saja. Standar. Saat beranjak SMA aku mulai merasa bahwa aku memang jatuh cinta waktu itu kelas 3 SMA, cintaku ini at first sight lagi (pada pandangan pertama). Melihat seorang lelaki tampan duduk di atas sepeda motor sambil memandangi langit. Teng tereeeng seketika dewa cinta menancapkan anak panah di jantungku.

Tapi, benarkah aku jatuh cinta saat itu? Ya, aku memang jatuh cinta. Karena sejak pertama kali berjumpa itu dan akhirnya ketemu lagi 6 bulan kemudian ternyata aku memang masih merasakan perasaan yang sama. Berdebar-debar, sesuatu yang menggelitik di perut semacam perasaan bahagia saat bertemu dengannya, indah dan ingin berlama-lama bersama. Syukurlah ia pun jatuh cinta padaku. Cinta itu berbalas. Bagaimana rasanya? Bahagia. Cukupkah? Entahlah. Karena tiba-tiba saja kami berpisah dan aku merasakan patah hati untuk pertama kali.

Saat itu rasanya aku tak akan pernah bisa melupakan dia, bahkan lagu KLA Project yang judulnya Tak Bisa Ke Lain Hati itu menjadi semacam soundtrack selama beberapa hari diiringi mata sembab sehabis menangisi kekasih hati. Oh iya, itu pertama kali aku menangis karena seorang laki-laki. Aldian namanya.

Nyatanya, aku jatuh cinta lagi pada lelaki lainnya. Mana kata-kata tak bisa melupakannya itu? Memang tak mudah melupakan cinta masa laluku. Ia seperti hidup terus di dalam hati, setiap menyebut namanya selalu terkenang kisah cinta manis kami berdua. Tapi ternyata cinta itu bisa muncul dan hilang kapan saja. Ia pun seringnya diiringi berbagai macam logika.

Ada beberapa kasus mengenaskan tentang cinta. Bunuh diri, misalnya. Entah kenapa beberapa orang merasa bahwa ia harus mengakhiri hidupnya karena cinta yang tak berbalas atau cinta yang tak bisa bersatu. Cinta semacam membutakan mata dan hatinya. Aku pun cemas ketika aku menemukan diriku ternyata jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Apakah aku akan menjadi buta dan tak peduli? Ternyata tak demikian.

Cinta itu selalunya dapat membahagiakan hati kita, jika ia tak membahagiakan maka ia bukanlah cinta meskipun tak berbalas atau tak bisa bersama biasanya perasaan cinta kita pada seseorang membuat kita selalu dapat menerima apapun yang terjadi. Cinta tak mengenal sedih dan putus asa, cinta pun memberi dengan tulus seluruh dirinya.

Cinta tak pernah buta, ia hanya butuh kacamata untuk memperjelas logika.

Aku cinta padamu, dan kau pun tau.

LEGO Batik Art Melestarikan Budaya Indonesia

Wednesday, October 5th, 2011

Hari ini aku menghadiri pembukaan LEGO Batik Art di Living World Alam Sutera.
Acara ini merupakan pameran karya seni perpaduan kreasi LEGO dengan motif Batik oleh mahasiswa dari UNINDRA (univeristas Indra Prasta), BINUS dan UMN.

Menakjubkan sekali menyaksikan karya seni para mahasiswa yang mampu mengubah bricks-bricks LEGO berbentuk kotak warna merah dan putih menjadi sebuah karya seni berupa motif batik. Ada tokoh pewayangan Semar yang dikenal dengan kearifannya, ada pula Srikandi yang semalam sempat kuperdebatkan jenis kelaminnya bersama kawan-kawan di timeline.

312021_10150348439312350_181220417349_8112195_1047765559_n
Barisan karya seni dari bricks LEGO, picture by patrick

297396_2397885381994_1096776832_32816321_1636421968_n
Semar, LEGO Batik version

308757_2398178109312_1096776832_32816585_1029770576_n
Gatot Kaca, LEGO Batik version

309305_10150348441577350_181220417349_8112214_1514278468_n
Pocong Pun ada yang dari Batik lhooo :D

296280_2398174909232_1096776832_32816583_1511560846_n
Srikandi, LEGO Batik version

298895_10150348441172350_181220417349_8112210_1003458934_n
Mesin Jahit Batik, picture by patrick

314894_2398179829355_1096776832_32816586_419200058_n
This is the winner, GAMELAN, super kereeen!

Ternyata, LEGO yang bentuknya kotak-kotak itu bisa juga ya dibuat kreasi yang keren macam gini bahkan jadi motif batik. Padahal gak kebayang sebelumnya akan jadi seperti apa hasil karya mereka. Patut bangga juga para mahasiswa Indonesia ini mampu menghadirkan karya yang super keren seperti ini.

Yuk lihat langsung kreasi mereka di Living world Alam Sutera dari tanggal 5 October sampai 30 October 2011 ini.

318401_10150347393692350_181220417349_8107281_588392895_n

Kategori Narsis di Blogdetik

Wednesday, October 5th, 2011

Sejak awal aku tak pernah membuat tag dan kategori pada setiap postinganku di blogdetik, sampai pada suatu hari ada beberapa teman blogger lain yang menyarankan untuk mencantumkan tag dan kategori agar postingan di blogku lebih rapih. Maka aku pun mulai terbiasa menuliskan tag dan membuat beberapa kategori sederhana yaitu pharmacy karena aku senang menulis berdasarkan latar belakang pendidikanku, cerita karena aku senang menulis fiksi, reportase karena dari awal aku sering menulis laporan situasi sebuah kopdar dan event untuk menginformasikan event-event yang ada. Namun karena beberapa teman blogger kadang ingin menulis di sini maka kubebaskan mereka menambahkan kategori lainnya.

Sampai saat kemarin aku ingin posting, seperti biasa aku sudah mengisi tag dan captcha. Dan seringnya aku memang tak mengisi kategori, jadi postinganku akan masuk dalam kategori Tak Berkategori. Tetiba ada permintaan di bagian bawah kategori yang kubuat untuk mengisi kategori apakah postinganku. Di situ banyak sekali kategorinya, Budaya, Daerah, Ekonomi Bisnis, Fiksi, Foto dan lainnya. Kebetulan isi postinganku adalah tentang kopdar yang berbasis komunitas maka kuisilah postinganku sebelum ini dengan kategori Komunitas.

Tapi, koq ya kalo ngeliat foto-fotonya yang segede gaban karena gak bisa kuedit itu jadi kaya narsis gitu ya?
Pada suatu hari dulu, aku pernah dituduh sebagai blogger narsis karena seringnya aku ikutan dalam banyak kegiatan blogger terutama kopdar, dan aku sering pula memposting foto-foto. Lalu saat aku liburan ke bali dan kopdar di sana pun aku malah membuat postingan liburan ke bali sampai tiga episode berikut foto-fotonya. Apakah itu dapat dikategorikan sebagai narsisme? Entahlah. Yang jelas menurutku wajar saja memposting tentang kegiatan kita berikut foto selama itu tak berlebihan, namun memang ada saja yang menganggap itu pamer.

Jadi apa perlu ya ditambahkan kolom Kategori Narsis di blogdetik?

Kopdar adalah sila Kelima bagi Blogger

Tuesday, October 4th, 2011

Sejak menobatkan diri menjadi seorang blogger pada bulan Juli tahun 2008, banyak saja pertambahan teman-teman dalam list phonebook di HP ku dan ditambah pula pada kolom blogroll di sebelah kanan pada kedua blogku. Belum lagi yang akhirnya menemukan aku di media social lain semacam facebook dan twitter.

Pertemanan di dunia maya pada dasarnya menyenangkan sekali, selain memang menemukan beberapa teman yang klop kadang-kadang kita juga mendapatkan inspirasi dari mereka, lebih mensyukuri apa yang kita miliki ketika menemukan teman yang tertimpa masalah atau musibah, dan lebih bersemangat meraih cita-cita saat bertemu dengan blogger lain yang sudah sukses.

Sebuah pertemanan dimulai dari hal yang sangat sederhana yaitu komen. Ketika kita berkunjung ke sebuah blog dan membaca sebuah postingan, otomatis kita ingin meninggalkan komentar. Memang tak semuanya begitu ada juga sih beberapa blogger yang tak suka memberi komentar cukup membaca saja dan kadang-kadang memberi icon like saja. Lalu saling mengunjungi dan saling memberi komentar ini akan berlanjut kadang-kadang berlanjut di chatting apakah itu melalui messenger atau media lainnya.

Pertama kalinya aku berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya yang lebih banyak blogger adalah saat kopdar. Kopdar yang merupakan singkatan dari kopi darat (kenapa disebut kopi darat mungkin pas mendarat kita sambil ngopi?) ini menjadi ajang silaturahmi para blogger. Di sini kita tak hanya sekedar kumpul-kumpul gosip tak menentu namun sering sekali melahirkan kegiatan positif yang berguna.

Sejak tahun 2008, aku sudah mengikuti banyak sekali kopdar yang sulit dihitung jumlahnya, mulai dari kopdar ecek-ecek berdua sama eyang anjari, kopdar di bali, kopdar jogja, kopdar surabaya, kopdar medan sampai kopdar dengan skala nasional macam Pesta Blogger.

9632_1202502218162_1096776832_30641252_58410_n
Kopdar Pertama Dblogger, fanabis-anny-dedi NAFF-anjari-julie-ella-husin

n1096776832_30263430_2823
kopdar di detik office, belakang: eyang anjari-dedi NAFF-hilman-fanabis-soebandi
depan: fandhie-ella-julie-marlisa-reza

n1096776832_30412452_1083395
Kopdar Blok M Plaza, belakang: stevenjoel-julie-mataharitimoer
depan: luvjoy-eyang anjari-yan-udinkoxx

9632_1202592420417_1096776832_30641373_3535227_n
Kopdar Saung Merak Bogor, Udinkoxx-Dwi-Septa-Mellyana-ANdivan-abang farhan-julie-ella-fariq-kakaknya melly-sekar-anny-zuanita-hilman-fika

6252_1179024591236_1096776832_30559994_2785542_n
Kopdar Plaza Semanggi with Easy, Mataharitimoer-Julie-Lies Surya ‘Easy’-Ella-Joel

133838_1725185404915_1096776832_31953607_1398957_o
Kopdar Bali, Hani PendarBintang-Idana-Arik-Aa-nya arik-Joddie-Julie-Enrico

cimg1854
Kopdar Lombok Idjo, Jogjakarta, Anna-Ari-Tt-Gugun and komunitas canting-JUlie-Nandini-Ais-Bunda Tuti Nonka

47336_1332524486914_1645082580_757472_6782420_n
Kopdar Suroboyo, Pakdhe Cholik-Kang Yayat-Julie-Non Inge

53381_1626347974041_1096776832_31744366_435250_o
Pesta Blogger 2010, with Mellbondz

Meski beberapa blogger tak ingin ikutan kopdar karena takut identitas aslinya diketahui massa :D, tapi bagiku kopdar itu sangat banyak manfaatnya seperti yang sudah aku sebutkan di atas. Dan memang sih seorang blogger itu identik dengan menulis, tapi tak salah kan mewujudkan aksi nyata. Jadi sila pertama seorang blogger adalah menulis, maka sila kelimanya adalah kopdar. Sila kedua sampe keempat apa ya?

Ketika Terlalu Banyak Bicara, Kita Lupa untuk Diam

Thursday, September 29th, 2011

Begitu banyaknya social media yang bertebaran di dunia maya meyebabkan semakin banyak orang-orang yang merasa bebas menuliskan opininya di berbagai media, itu belum termasuk acara talk show dan diskusi dengan bermacam judul di televisi dan radio plus seminar dan lain-lain.

Topik apakah yang biasanya disukai peserta diskusi atau para penulis opini? Biasanya, yang diangkat adalah topik terhangat. Contoh rok mini dan kasus pemerkosaan, bom bunuh diri di Solo, kebijakan presiden SBY, kasus korupsi atau topik selingkuh yang rasa-rasanya terlalu sering dan itu-itu saja dan macam-macam topik lain. Beberapa penulis dengan sengaja mengangkat topik-topik ini untuk menarik perhatian pembaca, memilih judul adalah keahlian mereka, semakin menarik sebuah judul akan semakin penasaranlah pembaca dengan isi tulisannya. Terkadang ada pula yang sengaja menuliskan bahasan negatif yang memancing emosi pembacanya sehingga timbul debat pada kolom komen. Apa yang diinginkan sang penulis? Tentunya macam-macam, ada yang memang ingin terkenal dengan isi tulisan yang bersifat provokasi, ada pula hanya sekedar mencari traffic di blognya untuk meningkatkan Page Rank.

Belum lagi debat panjang di media social lain semacam fesbuk dan twitter, ada beberapa tweeps yang senang menunggu twit orang lain untuk dikomen dengan tujuan menjatuhkan orang lain tersebut. Ada pula yang meng-update status dengan tujuan untuk memancing komen pembacanya. Tak jarang hal ini berlanjut dengan sebuah postingan di blog, lalu debat pun berlanjut lagi di komen blog.

Pada suatu hari saya membaca TL (timeline) seorang aktivis perempuan yang mencaci maki presiden SBY, meskipun saya bukan salah seorang yang memilih pak presiden tapi ada baiknya kita tak mencaci si bapak dengan kalimat-kalimat tak pantas. Lalu seorang teman mencoba menegur aktivis perempuan ini dengan teguran yang halus, namun orang tersebut tidak terima dengan teguran itu malah menuduh temanku adalah antek-antek presiden SBY. Dengan lalu lintas di TL temanku ini aku pun tertarik membaca TL sang aktivis perempuan yang selama ini kukenal dengan kegiatan positifnya dalam membela kaum perempuan.

Ternyata isi Timelinenya lebih banyak menyalahkan dan mengkritik pemerintahan yang korup, dan yang anehnya banyak sekali orang lain yang mengkritik beliau namun beliau membalas dengan kata-kata yang menuduh pengkritik itu antek pemerintah. Apa yang saya dapat dengan kenyataan itu? Saya kehilangan respek terhadap beliau, ia bisa mengkritik pemerintah dan presiden namun ketika ia dikritik ternyata ia tak menerimanya.

Mungkin kita berpikir, ketika kita menjadi presiden kita akan melakukan banyak perubahan, memberantas korupsi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memakmurkan kehidupan petani, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan serta banyak lagi teori lain yang akan kita paparkan. Ketika kita menjadi pengurus PSSI, kita juga ingin merombak susunan pemain, mencari pelatih Timnas yang paling baik, menghapus segala macam kemungkinan untuk tindakan korupsi untuk mengharumkan nama bangsa dengan kemenangan TImnas di berbagai kompetisi sepakbola.

Semua orang bisa bicara dan berkata bahwa presiden harus begini dan begitu, sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi jika pemainnya bukan si ini dan si itu. Tapi pernahkah kita semua sampai pada posisi itu? Pernahkah kita berpikir jika kita berada pada posisi orang-orang yang kita salahkan dan kita kritik?

Bicara untuk kebaikan boleh, mengkritik itu pun baik untuk kemajuan, namun jika terlalu banyak bicara tanpa solusi lebih baik kita diam saja.

Milk Powder Oriented

Wednesday, September 28th, 2011

Milk oriented adalah istilah yang aku ciptakan sendiri yang artinya adalah Berorientasi pada Susu Bubuk Formula.

Begini, sejak lahir anakku hanya sempat mengkonsumsi ASI selama 3 hari, entah kenapa produksi ASI yang aku hasilkan sangat sedikit bahkan nyaris tak ada pada hari keempat, padahal sejak hari pertama lahir itu perasaannya koq banyak ya, tapi aku tetep bersyukur karena sempat merasakan yang namanya menyusui bayi. Oleh sebab inilah maka sejak awal, anakku telah diperkenalkan pada susu formula atau susu bubuk.

Mulanya sih tak terjadi apa-apa sampai pada bulan ketiga, anakku terlihat tanda-tanda alergi protein susu sapi dengan gejala buang air besar disertai darah. Mulanya sih aku tak terpikir tentang alergi ini, apalagi setelah dibawa konsultasi ke tiga orang dokter di rumah sakit terkenal yang tak mungkin aku sebutkan di sini, dan diagnosa mereka berbeda-beda mulai dari disentri sampai kelainan usus besar dan usus kecil sampai pada kesimpulan tindakan operasi. Yang bener aja pak dokter, anak saya baru empat bulan udah disuruh operasi?

Saat konsultasi dengan ketiga dokter ini, aku sebagai seorang farmasis (apoteker) sempat sounding apakah kemungkinan darah yang keluar disebabkan oleh alergi protein susu? Namun ketiga dokter itu menyangkal keras bantuan diagnosaku, namun saat aku mendapat rujukan operasi di dokter terakhir, aku memutuskan untuk mengikuti diagnosaku saja, yaitu membeli susu dengan protein kedelai dan berdoa semoga tindakan pengobatan yang aku pilih adalah yang terbaik. Ternyata sodara-sodara setelah minum susu tersebut sebanyak 2 botol, anakku pun bebas dari mencret dan buang air besar yang berdarah. Sempat aku ingin menuntut sang dokter karena aku menghabiskan banyak biaya dalam proses diagnosa penyakit anakku, tapi ya sudahlah aku maafkan saja yang penting anakku sembuh.

Susu dengan protein kedelai ternyata mahal sekali harganya, dulu sekitar tahun 2007-2009 harga satu kaleng isi 400gramnya adalah 88.000 dan dalam sebulan aku harus membeli minimal 10 kaleng susu. Dengan keadaan itu maka otomatis kebutuhan paling besar dalam pengeluaranku adalah susu anak (selain transpot pastinya). Sejak saat itu otomatis setiap kali mendapatkan rejeki misalnya gajian, dapat bonus, dapat arisan, dapat uang jajan pasti aku langsung belikan SUSU BUBUK. Alhamdulillah saat usia anakku 1,5 tahun secara perlahan ia sudah dapat kembali mengkonsumsi susu dengan protein sapi yang harganya lumayan. Tapi karena sudah terbiasa dengan milk powder oriented tadi, sampai sekarang pun setiap aku dapat rejeki dalam bentuk uang, pasti langsung kubelikan susu anak padahal di rumah masih ada stoknya :D.

Itu cerita milkpowder-oriented ku, apa ceritamu?

Batikkan Harimu! SOBAT (Save Our BATik)

Tuesday, September 27th, 2011

Ini bukan ngikutin kontesnya Orin karena gak memenuhi syarat perkontesan.
Orin mengajak teman-teman blogger untuk Membatikkan Blogsphere pada tanggal 2 Oktober 2011 karena hari itu dicanangkan sebagai hari Batik Nasional oleh Pak SBY sejak tahun 2009 yang lalu (udah dua tahun donk).

Lalu aku jadi teringat, awal mulanya aku mau pake batik ya pas tanggal itu, 2 Oktober 2011 yang bertepatan pada hari Jum’at.
Dulunya, aku gak pernah mau pakai segala sesuatu yang berjenis batik, apakah itu baju, tas, sepatu, underwear (ada lho underwear batik di jogja), bahkan kain untuk wisuda dan acara pun aku pilih yang lain (misalnya songket atau motif sarung). Entah apa yang ada dalam pikiranku yang jelas kalo lihat orang berbatik itu kesannya adalah orang tua atau mau pergi kondangan (dan yang kondangan itu biasanya orang tua juga dulu).

Suatu hari Hilman, ketua dblogger demisioner mengajak aku membuat event SOBAT (save our batik) dari ide yang dicetuskan oleh itan. Katanya blogger diajak memposting sesuatu yang berhubungan dengan batik dan lalu pemenangnya akan mendapat hadiah batik juga. Saat membincangkan event ini aku sempat debat gak jelas sama Hilman bilang bahwa aku kayanya gak pengen deh make baju batik buat ngantor, trus kata Hilman keren lagi Jul pake batik, gitu. Dalam event ini aku menjadi salah satu sponsor yang menyumbang hadiah berupa baju batik yang kubeli dari kakakku pedagang batik (musiman) :D.

Sampai saat Pak SBY mencanangkan hari batik nasional, tanggal 2 Oktober 2011 disarankan dan diwajibkan (bagi sebagian instansi) untuk berbatik pada hari Jum’at. Kebetulan bosku yang warga negara asing memang senang pula pakai batik, jadilah beliau memberlakukan peraturan itu pada hari Jum’at yang tanggal 2 Oktober untuk mengikuti peraturan pemerintah. What??? Hari Jum’at itu kan hari bebas berpakaian sedunia di kantorku mau pake celana selutut, kaos buntung, tshirt gambar kartun, rok mini, celana model aladin, terserah selama tak ada meeting dengan buyer atau lainnya. Aku pun kelabakan. Bayangin aja, disuruh pake batik sementara gw gak punyaaaa??? Hajab ini ceritanya. Dengan merengek-rengek sedikit aku pun mendapat satu atasan batik dari kakakku yang dagang batik karena aku gak tau beli batik yang model kaya apa dan nggak ngerti milihnya.

Hari itu, tanggal 2 Oktober aku menuju kantor dengan blus batik coklat motif klasik yang agak kedodoran banyak (dengan perasaan ragu-ragu dan gak pede) dengan bawahan celana jins biru belel. Di kantor, suasana batik pun begitu terasa, semua orang pakai batik. Dan saat makan siang bosku mengajak kami jalan-jalan untuk check store di sebuah mall di daerah pluit. Dan ternyata di sana pun suasana batik sangat terasa, jadi aku gak nyesel pake batik hari itu, malah rasanya bangga menjadi bagian yang membatikkan hari. Saat di mall itulah aku menemukan banyak sekali ragam motif dan model batik yang keren-keren dan rasanya jadi pengen pake lagi, pake lagi.

Dan sekarang, koleksi batikku sudah tak terbilang jumlahnya, terutama untuk baju atasan dan dress, bahkan celana pendek batik pun aku punya di rumah, saat memposting tulisan ini aku sedang memakai salah satu batik favoritku. Di kantor, peraturan berbatik telah menjadi aturan tetap setiap hari Jum’at dengan batik yang diseragamkan. Bahkan aku dan temankulah yang memilih motif dan penjahit untuk seragam batik kantor, dan karena begitu tergilanya pada batik, aku dan beberapa teman menambah satu hari kerja lagi dengan hari batik yaitu pada hari Selasa dimana kami bebas memakai batik motif apapun, kalau yang Jum’at kan udah seragam batiknya.

Ternyata berbatik itu nggak kuno, nggak norak, nggak jadul, malah keren dan bisa klop untuk segala macam situasi.

312940_2370312932700_1096776832_32794929_1370524988_n
Batik sarimbit enrico dan mama

Musnahkan Bahasa 4L4Y jika Kau Cinta Indonesia

Monday, September 26th, 2011

Gak tau kenapa setiap kali lihat orang menulis dengan bahasa alay aku langsung emosi.

Bahasa alay adalah bahasa gaul yang belakangan muncul dua tahun belakangan. Biasanya digunakan oleh ABG (anak baru gede) sebagai bahasa gaul sehari-hari mereka. Mulanya bahasa ini tercipta dari sms, menyingkat kata biasanya sering kita lakukan saat menulis pesan melalui SMS, tetapi kata-kata yang digunakan dalam bahasa alay cenderung tidak dapat dipahami dan sangat jauh dari ketentuan penulisan singkatan kata dalam bahasa Indonesia.
Ciri lain dari bahasa alay adalah penggantian huruf menjadi angka misal huruf A menjadi angka 4, huruf E menjadi angka 3.

perhatikan contoh berikut:
m4N6h kLO w 4L4y, u mO 4p4
artinya adalah: Emang kalau gw alay, you mau apa?

Setiap kata dalam kalimat ini sudah seratus persen salah, belum lagi adanya pencampuran bahasa dengan kata ‘you’

Saya sering sekali menemukan beberapa abg yang mau tidak mau saling berinteraksi dalam sebuah komen di facebook misalnya, dan saya tak segan-segan menegur mereka apakah saya mengenal atau tidak. Bayangkan saja saking mereka begitu seringnya berbahasa alay, komen di status facebook seorang dosen saja bisa-bisanya memakai bahasa alay.
Salah satu respon yang saya terima adalah contoh di atas ketika saya menasehati sang ABG untuk tidak berbahasa alay kepada dosen yang termasuk sangat senior, dan itulah jawabannya. Di satu sisi saya juga termasuk senior karena perbedaan angkatan yang lebih dari 10 tahun kelihatan bahwa sang mahasiswa ABG ini tidak mau menerima kritik.
Namun ada juga yang mau menerima kritik dengan langsung mengulangi komen dengan bahasa yang dipahami banyak orang.

Bahasa alay ini akan terus berkembang jika tidak dihentikan, karena lalu lintas social media sangat pesat dengan kehadiran facebook, twitter dan lainnya. Bagaimanakah solusi untuk memusnahkan perkembangan bahasa alay ini?
Tentunya sebagai orang tua kita bisa memantau anak yang beranjak ABG di rumah saat mereka berinteraksi dengan teman-temannya, dan di sekolah pun ada baiknya guru tidak membiarkan siswanya menggunakan bahasa alay dalam keseharian mereka. Sebab ditemukan dalam ujian siswa ada jawaban yang disingkat dengan kata yang tidak biasa.

W gHY D! HummZ, kMU gHY n6pn?
:D

Ayo hentikan penggunaan bahasa alay, untuk tetap menjaga bahasa ibu kita, Bahasa Indonesia.

Saya Cinta Indonesia meskipun Kadang-kadang

Thursday, September 22nd, 2011

“Saya cinta Indonesia meskipun kadang-kadang”, itu pernyataan favorit kakakku yang saat ini telah menjadi warga negara Jerman.

Sejak usia 26 tahun, ia sudah tinggal dan bersekolah di sana. Mulai dari belajar bahasa Jermannya selama 1 tahun, lalu melanjutkan studi sampai selesai. Dan akhirnya mendapatkan jodoh di sana. Saat ini usianya sudah 43 tahun, dan selalu bisa pulang ke Indonesia setiap tahun.

Selama berada di Jerman, kakakku awalnya bekerja sambil kuliah. Pastilah. Kalau tidak, mungkin ia sudah jadi gelandangan di sana. Mengingat biaya hidup yang tinggi, tak selamanya bisa dicover dari uang kiriman orang tua kami dulu. Namun sejak ia mulai menyelesaikan kuliah dan bekerja, ia lebih bisa bernafas lega. Apalagi ketika bersuamikan seorang berdarah Jerman-Italy. Dan suaminya pun memintanya untuk total menjadi istri dan ibu rumah tangga.

Sebagai seorang berdarah Melayu dan lama tinggal di Medan, kakakku pasti sama denganku. Terbiasa dengan masakan rumahan bersantan, berbumbu, semacam rumah makan padang, lontong sayur, nasi uduk, rendang, gulai ikan kakap, sayur singkong tumbuk, sambal terasi, dan masih banyak banget. Ketika ia harus tinggal di negeri orang, otomatis makanannya pun berbeda. Jangankan pindah ke luar negeri, saat aku pindah dari Medan ke Jakarta aja sempat merasakan yang namanya rindu makanan medan (sampe sekarang sih), kalo di Medan itu lontong sayur bener-bener lontong, pake sayur lodeh yang ada labu dan wortelnya, plus sambel teri, kacang dan tempe, plus telur bulet, ditambah sayur tauco dan serundeng. Pas nyampe sini, aku nyoba-nyoba makan ketupat sayur yang lewat pake gerobak, tapi isinya cuman ketupat plus semur tahu dan mie. Waduuuh, gak enak banget deh pokoqnya. Belum lagi karena masih ngekost jadi harus terbiasa makan pecel ayam atau makanan di kantin yang seadanya.

Jauh beda dengan kakakku ini, saat berkelana ke Jerman, dia sudah stok mie banyak-banyak. Mie yang paling sering dikonsumsi rakyat indonesia (kau tau siapa namanya). Tapi akhirnya ia harus makan burger atau roti atau kentang, karena karbohidrat yang dibutuhkannya dari mie instan itu tak cukup mengganjal perutnya, belum lagi aura vetsin yang membuat dirinya tambah lapar dan haus. Mau beli nasi atau beras pasti mahal, jadi yang seadanya saja. Maka ketika ia pertama kali bisa pulang ke Medan setelah dua tahun merantau, kakakku langsung kalap. Sebelum tiba di Medan, jauh-jauh hari ibu sudah disuruh masak sambel teri kacang, sayur daun singkong tumbuk (ini makanan khas Sumatera Utara), sambal ikan tongkol, tumis kepah (kepah ini semacam kerang-kerangan tapi keciiil banget), dan sambel ikan kembung yang cabenya dipotong-potong. Selama tiga hari berturut-turut dia makan sehari 5 kali. Dan terutama adalah ikan.

Bertahun-tahun kakakku betah tinggal di sana, mungkin karena keteraturan dan kerapihan yang ia rasakan tak seperti di negaranya sendiri. Namun meski ia sudah resmi menjadi warga negara jerman, ia tetap sangat mencintai Indonesia, saat kedua anaknya lahir ia berbicara dengan bahasa Indonesia kepada dua anaknya itu, jadi komunikasi mereka adalah kakakku berbicara dengan bahasa indonesia ke anaknya dan anaknya membalas dengan bahasa jerman, tapi mereka saling mengerti. Belum lagi mereka setiap harinya juga makan nasi dan memasak makanan indonesia di rumah karena tersedia toko Asia meski harganya lebih mahal. Demikian pula saat mengadakan pesta, kakakku seringnya memperkenalkan masakan Indonesia mulai dari rendang, gulai, semur bahkan pecel dan urap. Dan nyatanya banyak yang menyukai masakan Indonesia.

Saat ini ia sudah sangat sering pulang, setahun paling tidak sekali, kadang kami berkumpul di Medan, atau di kota lainnya untuk sekedar melepas kangen. Namun yang tak pernah hilang dari kebiasaan kakakku yang kini sudah dua orang berada di sana plus adikku pula, adalah begitu tiba di Indonesia, mereka langsung mencari masakan tradisional, bahkan beberapa tahun belakangan kita mulai diberikan tugas baru yaitu menyiapkan beberapa bumbu-bumbu yang bisa dibawa, memasak rendang kering, sambel teri kacang yang kering, plus bumbul pecel, yang semuanya dibawa untuk mereka nikmati di Jerman.

Salah seorang kakakku sering pula memperkenalkan pakaian adat tradisional Indonesia di sekolah anaknya. Saat ada pawai atau acara lainnya, biasanya dia mendandani kedua anaknya dengan pakaian adat, Bali, melayu, palembang, dan aceh. Ia membelinya di pasar tradisional di Medan. Keunikan pakaian adat ini juga dipuji oleh warga Jerman.

Kadang-kadang ketika mereka kesal dengan pemberitaan tentang Indonesia di media Jerman dan menanyakan updatenya padaku, mereka sering juga melontarkan kekesalan, namun saat ada kompetisi sepakbola atau kompetisi pendidikan yang membawa nama bangsa, mereka juga ikut bangga. Meski tak berniat tinggal lagi di Indonesia, aku pikir kakak-kakakku memang mencintai Indonesia, karena mereka begitu bangga memperkenalkan budaya bangsa di sana. Tak hanya dari makanan, juga dari pakaian adat tradisional yang mereka tampilkan melalui anaknya. Yah kupikir lebih baiklah seperti mereka, sesekali ketika kesal pada pemerintahan di Indonesia dan rakyatnya mereka sering mengeluarkan opini negatif namun tetap membela bangsanya daripada rakyat Indonesia yang jelas-jelas mencari nafkah dan tinggal di negeri ini namun masih tak tau malu mencaci maki, menghina dan menyepelekan bangsa sendiri.

Ngeblog: Adakah Gunanya?

Wednesday, September 21st, 2011

Sejak bergabung dengan grup alumni fakultas MIPa yang isinya kebanyakan senior dari jurusan yang berbeda, aku kembali terkoneksi dengan mereka. Baik yang memang sudah dekat, lumayan dekat, sangat dekat atau bahkan yang tak bertegur sapa dahulu kalanya.
Member dari satu grup itu maksimal hanya 30 orang (baru tau) dan yang benar-benar kukenal dan bertemu muka hanya separohnya. Umumnya mereka berusia di atasku karena meski seangkatan saat kuliah aku memang lebih muda setahun atau dua tahun dari teman seangkatanku.

Mula-mulanya sih asik aja, sebelum beberapa senior senang ngeshare foto, misal lagi makan di resto mana, belanja sepatu dimana, foto lucu2an, atau foto kegiatan anaknya. Tapi koq ya lama-lama jadi gak lucu ketika mereka ngeshare foto jenazah (isti saiful jamil, dan korban pembunuhan di medan yang termasuk alumni), dan foto-foto telanjang yang bermaksud lucu tapi sudah kelewat batas. Aku yang hitungannya masih junior di antara mereka, menegur dengan bahasaku. Sebenarnya bahasaku termasuk sopan untuk ukuran orang medan, tapi karena kedudukanku sebagai junior itu persepsinya pun akhirnya berbeda.

Aku dianggap sok, sok menggurui. Gak asik, sok alim, sok serius, apalagi ditambah keterlibatanku di forum chat grup sangat kecil. Bayangkan saja mereka tak berhenti chatting kecuali pada pukul 02.00 wib sampai pukul 05.00 wib. Kalau notifikasi message kuaktifkan alamat hang hapeku nerima mesej terus-menerus.
Di antara alumni di grup ini hanya akulah yang seorang blogger. Dan beberapa kali setiap mereka membahas satu topik sering menyindirku dengan mengatakan “awas, nanti ditulis si Ulil di blognya atau bukunya” *salah satu panggilanku itu Ulil-laporan selesai :D*. Dan aku kadang menanggapi dengan canda biasa atau diam kalo lagi males nulis.

Gara-gara kejadian aku yang sok-sok negor senior ini, aku pun diPM (private message) oleh satu senior, dia bilang aku gak sopan dll, dan tetiba mengait-ngaitkan ketidaksopananku karena aku blogger. Hloh? Apa hubungannya coba? Katanya blogger itu kaya orang-orang yang gak punya kerjaan gitu, nulis ini itu sok-sok nyaingin media, trus apalagi dia tau kadang-kadang aku sering kumpul blogger (baca: kopdar) yang cuma ngabisin waktu.

Aku menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat saja. Tapi kalimatnya panjang-panjang.
Aku bilang, manfaat yang aku dapat saat menjadi blogger adalah satu aku punya banyaaaak banget teman, susah ngitungnya keknya. Yah anggaplah sebagian cuma teman ecek-ecek tapi aku bisa sebutkan satu-satu teman-teman yang kutemu di blog menjadi teman yang benar-benar dapat dikatakan sebagai teman atau sahabat macam anny, idana, depz, aish, dll.
Kedua, aku mendapat banyak informasi dari blog-blog lainnya yang (dulu) rajin kukunjungi. Mulai dari curhatan, info teknologi, info pendidikan, cerita keluarga yang seru dan asik sampe psotingan ngajak perang. Hanya dengan mengklik mouse beberapa kali dalam sehari. Total blog yang bisa kukunjungi dalam waktu 5 jam adalah 50 blog (ini kalo dibaca semua isinya) plus komen.
Ketiga, hey aku dapat uang lho dari ngeblog. Dengan cara gimana sih? Yah memang awak ini masih blogger ecek-eceknya. Review pun bisa diitung berapa kali. Tapi, bukankah hari gini semakin sulit cari uang? Jadi limaratus ribu, sejuta itu yah lumayan lah buat nambahin uang saku daripada cuma bisa ngabisin duit suami :D.
Keempat, apa yaaa? Sejujurnya sih aku belom pernah ngalamin, tapi coba liat nunik @isnuansa yang udah wara wiri sampe ke hongkong berkat ngeblog, sapa tauuu awak nanti bisa ke bali jalan-jalan gara-gara ngeblog.

Itu baru 5. Coklah tambahin sapa yang tau, pastinya manfaatnya banyak kan?
Yang setuju, unjuk jari :D