Ini bukan ngikutin kontesnya Orin karena gak memenuhi syarat perkontesan.
Orin mengajak teman-teman blogger untuk Membatikkan Blogsphere pada tanggal 2 Oktober 2011 karena hari itu dicanangkan sebagai hari Batik Nasional oleh Pak SBY sejak tahun 2009 yang lalu (udah dua tahun donk).
Lalu aku jadi teringat, awal mulanya aku mau pake batik ya pas tanggal itu, 2 Oktober 2011 yang bertepatan pada hari Jum’at.
Dulunya, aku gak pernah mau pakai segala sesuatu yang berjenis batik, apakah itu baju, tas, sepatu, underwear (ada lho underwear batik di jogja), bahkan kain untuk wisuda dan acara pun aku pilih yang lain (misalnya songket atau motif sarung). Entah apa yang ada dalam pikiranku yang jelas kalo lihat orang berbatik itu kesannya adalah orang tua atau mau pergi kondangan (dan yang kondangan itu biasanya orang tua juga dulu).
Suatu hari Hilman, ketua dblogger demisioner mengajak aku membuat event SOBAT (save our batik) dari ide yang dicetuskan oleh itan. Katanya blogger diajak memposting sesuatu yang berhubungan dengan batik dan lalu pemenangnya akan mendapat hadiah batik juga. Saat membincangkan event ini aku sempat debat gak jelas sama Hilman bilang bahwa aku kayanya gak pengen deh make baju batik buat ngantor, trus kata Hilman keren lagi Jul pake batik, gitu. Dalam event ini aku menjadi salah satu sponsor yang menyumbang hadiah berupa baju batik yang kubeli dari kakakku pedagang batik (musiman) :D.
Sampai saat Pak SBY mencanangkan hari batik nasional, tanggal 2 Oktober 2011 disarankan dan diwajibkan (bagi sebagian instansi) untuk berbatik pada hari Jum’at. Kebetulan bosku yang warga negara asing memang senang pula pakai batik, jadilah beliau memberlakukan peraturan itu pada hari Jum’at yang tanggal 2 Oktober untuk mengikuti peraturan pemerintah. What??? Hari Jum’at itu kan hari bebas berpakaian sedunia di kantorku mau pake celana selutut, kaos buntung, tshirt gambar kartun, rok mini, celana model aladin, terserah selama tak ada meeting dengan buyer atau lainnya. Aku pun kelabakan. Bayangin aja, disuruh pake batik sementara gw gak punyaaaa??? Hajab ini ceritanya. Dengan merengek-rengek sedikit aku pun mendapat satu atasan batik dari kakakku yang dagang batik karena aku gak tau beli batik yang model kaya apa dan nggak ngerti milihnya.
Hari itu, tanggal 2 Oktober aku menuju kantor dengan blus batik coklat motif klasik yang agak kedodoran banyak (dengan perasaan ragu-ragu dan gak pede) dengan bawahan celana jins biru belel. Di kantor, suasana batik pun begitu terasa, semua orang pakai batik. Dan saat makan siang bosku mengajak kami jalan-jalan untuk check store di sebuah mall di daerah pluit. Dan ternyata di sana pun suasana batik sangat terasa, jadi aku gak nyesel pake batik hari itu, malah rasanya bangga menjadi bagian yang membatikkan hari. Saat di mall itulah aku menemukan banyak sekali ragam motif dan model batik yang keren-keren dan rasanya jadi pengen pake lagi, pake lagi.
Dan sekarang, koleksi batikku sudah tak terbilang jumlahnya, terutama untuk baju atasan dan dress, bahkan celana pendek batik pun aku punya di rumah, saat memposting tulisan ini aku sedang memakai salah satu batik favoritku. Di kantor, peraturan berbatik telah menjadi aturan tetap setiap hari Jum’at dengan batik yang diseragamkan. Bahkan aku dan temankulah yang memilih motif dan penjahit untuk seragam batik kantor, dan karena begitu tergilanya pada batik, aku dan beberapa teman menambah satu hari kerja lagi dengan hari batik yaitu pada hari Selasa dimana kami bebas memakai batik motif apapun, kalau yang Jum’at kan udah seragam batiknya.
Ternyata berbatik itu nggak kuno, nggak norak, nggak jadul, malah keren dan bisa klop untuk segala macam situasi.

Batik sarimbit enrico dan mama