dalam dekap cinta

langit terang mengelupas bintang
sudut awan berpilin
menyemburat jingga separuh bulan

helai-helai angin menggemuruh
memukul ikalan rambutku

sunyi menyerpih debu
berlekatan serupa duri di sekujur tubuhku

sepasang tangan berjemari mungil
mendekap erat melumat pulasnya

lapisan cinta menebal
memenuh pekat rongga hatiku


*dalam dekap enrico

” Diikut sertakan dalam acara PARADE PUISI CINTA.

Comments (47)

Lakmus

Kadang kadang aku menampil warna merah ketika aura terikmu menyengat begitu pekat, awan itu mengepungmu dengan segenap cuaca. meski tak kasat mata, kuraih penuh dekap hangatmu.

namun lakmusku membiru saja seketika. biru gelap warnanya. barangkali awanmu tengah mendung di sana. dan mengepungmu dengan segenap hujan.

hidup ini tak adil, kau beri ia air mata dan aku cinta.

Comments (27)

selamat jalan kekasih

telah sempurna luka yang menganga lebar di dasar hatiku ketika kau pergi. tak cukup lagi perban dan pita menutup lubangnya. lukaku bernyawa karena telah begitu lama. mengapa kalian meninggalkanku cinta? aku tak bisa tanpa dirimu. aku ingin bertemu, ingin melingkarkan lengan di tubuh penuh kehangatan. ingin membakar keresahan yang sering tak padam.

namun, setengah matipun teriakan kuhela, dirimu tak kembali lagi kekasih. kau memang harus pergi menggapai cinta Sang Kuasa. dan aku harus merelakanmu pergi. membiarkan ruang dan waktu mengirim cintaku buatmu. dimanapun dan kapanpun.

selamat jalan kekasihku. kita tak bisa saling memiliki.

untuk kekasihku, ayah dan ibu.
semoga damai di sisiNya. Amin.

Comments (44)

pulang

sejak memiliki suami kedua aku jadi jarang pulang ke rumah pertamaku ini.

namun kepekatan rasa ingin menjejak kaki lagi sepertinya sama dengan keinginanku untuk pulang ke rumah tempat aku terlahir.

menyelimuti diri dengan cahaya cinta mereka berdua meski tak mampu memeluknya.

aku akan pulang
berhentilah menahan langkahku teman

Comments (12)

perempuan lain - part 9

baca juga
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/21/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/26/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/11/28/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2008/12/12/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/20/pe…
 http://julie.blogdetik.com/2009/05/22/pe…

“aku dan kamu tak kan tau mengapa kita tak berpisah”

aku melahap serpihan kulit ayam dengan malas. sebenarnya kenyang sedikit lapar. tapi tak terasa lezat lagi seperti ketika dibaui. suara nging dari kipas anginku melemah sedikit. setelah kuperhatikan sekeliling bukan suara kipas itu yang melemah namun runtunan air yang keluar dari keran di kontrakan sebelah yang mendominasi sekarang.

hari ini aku memboloskan diri. hmm..senin kapan lagi bisa sesantai ini. kemarin baru saja lepas mensukseskan pameran yang memaksa tubuh cekingku berkutat empat harian di sana. tak kusangka akan seletih ini jadinya.

lepasan pandangku tertumpu pada mainan bricks berbungkus kuning dengan judul LEGO, creator yang kubeli khusus untuk laki-laki yang selalu mengharujingga hatiku. tapi entah kapan bisa kuberikan. mengingat waktuku yang sempit dan betapa sulitnya kami bertemu.

rasanya telah seabad yang lalu aku tak bertemu surya. denyut rindu mendentam-dentam dalam dadaku. merindukan sentuhannya dan tatapan matanya yang membakar seperti matahari.
padahal baru dua minggu yang lalu kami melewatkan waktu bersama, menghilang dari keriuhan semesta. mengurung diri berdua dalam kubikel penuh kapas-kapas cinta.


“i won’t be fooled again”

bukan aku tak berusaha meninggalkannya. aku sadar tak ada masa depan dalam cinta ini. seorang laki-laki beristri tak mungkin kumiliki. namun dentaman jiwaku yang resah ketika aku bersama lelaki lain membuat kami kembali. dan betapa brengseknya laki-laki. fery yang pernah kukenal sebelumnya dari dunia maya ternyata hanya seorang laki-laki pengumbar kata-kata dan hasrat. tak lebih baik dari seorang peselingkuh semacam surya.

belum lagi belakangan ini, ronald semakin sering mengajakku sekedar keluar nonton atau makan. Ronald adalah teman dekat fery yang baru saja pindah ke jakarta dari kota kelahirannya. sekilas dia cukup mempesona namun aku tetap berhati-hati dengan segala jenis pendekatan yang ia lakukan padaku.

terpejam-pejam mataku menikmati angin dan cuaca. sejuk aroma pagi menghantarkan kantuk ke liang otakku. kepulan asap coklat dari cangkir di atas meja kecilku begitu menggoda.
ambil dan teguklah.

****

“mana mungkin dia tau” sahutku cemas.
“tapi dia curiga, ver”, suara surya di seberang sana lebih cemas.
“lalu kita gimana?”
“sementara ini kita tak bertemu dulu ya”
“:( ya sudah”
“maafkan aku vera.aku mencintaimu”

dan telepon kututup.
begitulah menjadi perempuan lain. selalu harus mengalah dan menahan hati untuk tak marah. lantas harus marah kepada siapa aku? karena semua ini salahku juga. mengapa harus jatuh cinta dengan lelaki itu?

sepuluh ribu kata-kata nasehat dari erlyn, dina, antin, dan lainnya pun tak menjamin aku bisa melepaskan diri dari lelaki itu. bukan bagaimana besar dan banyaknya dukungan dari mereka semua namun hatiku tak ingin melepaskannya.

cinta tak sedalam kata-katanya.
cinta mengisi seluruh sel-sel kecil dalam bagian tubuhmu.
maka ia lebih dalam dari kata-kata.

Comments (36)

jarak rindu

ayah,
kerinduanku pada hangat tatapmu
mengalir mengisi rongga dada
kasih sayang tak berkesudahan yang kau semat,
menguatkanku bagai matahari

tak pernah kutemu samudera seluas hatimu
dengan kedalaman cinta tiada batas

bagimu hari telah usai,
maka rembulan akan menemanimu
karena keabadian cintamu telah merelung bumi

hanya kepada malam kutitipkan terima kasih padamu
karena cintamu adalah pedoman
pengiring tiap langkah menembus segala warna

kini alam telah memisahkan kita begitu jauh
sementara jarak antara kita hanya bisa kutempuh
dengan doa

Julia Hardy dan Tatie Hardy Weber,
kami persembahkan untukmu ayah

Comments (12)

Next entries »