and the sun it shines as it did yesterday
meski tak keluar dari kamarku yang sempit, hari ini terasa panas. hari pertama musim semi memang sedikit membakar kulitku. karena saat ini kulitku tak sebagus dulu. lebih tipis dan rentan.
aku tak berniat tinggal lama di kota ini. zurich dengan jalanan yang padat akan toko berlabel mewah. prada, gucci, sumpah mati aku ingin saja mencobanya sesekali. mencoba membeli? tentu saja tak perlu. cukup mengambilnya diam-diam karena mereka tak bisa melihatku.
tapi untuk apa? aku toh tak bisa memakainya. okelah bisa. tapi tetap sajakan tak ada yang bisa melihat betapa keren aku ketika memakai setelan coat warna coklat selutut plus sepatu boot berwarna sama dengan bahan suede. tunggu dulu, mungkin topi koboi itu pun bisa kupadukan sekalian.
tapi kau tentu tak tau apa yang akan kubeli.
aku tak akan mengambil diam-diam, kali ini aku akan meninggalkan sejumlah euro di meja kasir, karena aku ingin membeli kemeja kotak-kotak biru yang begitu menawan hatiku. tentu saja sangat pas melekat di tubuh tinggi kurus berkaca mata.
***
aku menatapnya dekat sekali. mengagumi lekuk-lekuk wajahnya yang ramping, dengan tautan alis yang begitu tebal, mata hitam itu menatapku tajam tanpa kacamata. ia merasakan kehadiranku. lalu meraih kacamatanya di meja belajar. membetulkan letaknya dan sia-sia mencari tau siapa yang ada bersamanya di dalam kamar ini.
tak lama terkaget-kaget melihat sebuah bungkusan kotak biru bersampul kembang dengan pita coklat. ia meraihnya perlahan, membolak-balik, melihat berkeliling dengan cepat. menutup jendela, dan kembali ke kursinya.
ketika membuka bungkusan itu, hatiku ingin bersorak melihat pancaran di matanya. ia begitu kagum dan senang. okelah aku lupa melepas label harga dan segalanya, lantas ia pun tau bahwa baju pemberianku asli tak beli di mangga dua.
namun ia memasukkan lagi baju itu ke kotak biru yang kubeli dengan susah payah di gramedia tadi. lantas meraih hape dan kau tau pasti siapa yang akan dia hubungi.
aku pergi.